Petrus Hispanus – Silogisme Kategorik
Petrus Hispanus – Silogisme Kategorik
Petrus
Hispanus adalah penyusun pelajaran logika berbentuk sajak. Petrus Hispanus lah
yang mula-mula mempergunakan berbagai nama untuk sistem penyimpulan yang sah
dalam kaitannya dengan bentuk silogisme kategorik dalam sebuah sajak. Dan
kumpulan sajak petrus Hispanus mengenai logika ini bernama summule.[1]
Silogisme
kategorik adalah silogisme yang semua proporsinya merupakan proposisi
kategorik. Demi lahirnya konklusi maka pangkal umum tempat kita berpijak harus
merupakan proposisi universal. Sedangkan pangkalan khusus tidak berarti bahwa
proposisinya harus partikular atau singular, tetapi bisa juga proposisinya
universal, dan ia diletakkan dibawah aturan pangkalan umumnya. Pangkalan khusus
bisa menyatakan permasalahan yang berbeda dari pangkalan umumnya, tetapi bisa
juga merupakan kenyataan yang lebih khusus dari permasalahan umumnya.[2]
Sekarang kita praktekkan bagaimana dua permasalahan dapat
menghasilkan kesimpulan yang sah:
Semua manusia tidak lepas dari kesalahan
Semua ilmuwan adalah manusia
Pangkalan
umum disini adalah propoosisi pertama
sebagai pernyataan universal yang ditandai dengan kuantifier “semua” untuk
menegaskan adanya sifat yang berlakuu bagi manusia secara menyeluruh. Pangkalan
khususnya adalah proposisi kedua, meskipun ia juga merupakan pernyataan
universal ia berada di bawah aturan pernyataan pertama sehingga dapat
disimpulkan: semua ilmuwan tidak lepas dari kesalahan.[3]
Contoh sebagai
berikut sebagai unsur silogisme:
Semua tanaman membutuhkan
air (permis mayor)
M P
Ketela pohon
adalah tanaman (permis minor)
S P
Ketela pohon membutuhkan
air (konklusi)
S P
Keterangan:
S = subyek; P =
predikat; M = middle term.
·
Hukum-hukum
Silogisme Kategorik :
Agar mendapat kesimpulan yang benar, kita harus memperhatikan
patokan-patokan silogisme. Patokan-patokan itu adalah:[4]
a)
Apabila
dalam satu premis partikular, kesimpulan harus partikular juga, seperti:
Semua yang
halal dimakan menyehatkan
Sebagian
makanan tidak menyehatkan
Jadi: Sebagian
makanan tidak halal dimakan
(Kesimpulan tidak boleh: Semua makanan tidak halal dimakan)
b)
Apabila
salah satu premis negatif, kesimpulan harus negatif juga, seperti:
Semua korupsi
tidak disenangi.
Sebagian
pejabat adalah korupsi
Jadi: Sebagian
pajabat tidak disenangi
(Kesimpulan tidak boleh: Sebagian pejabat disenangi)
c)
Dari
dua premis yang sama-sama partikular tidak sah diambil kesimpulan. Kesimpulan
yang diturunkan dari premis partikular tidak pernah menghasilkan kebenaran yang
pasti, oleh karena itu kesimpulan seperti;
Sebagian besar
pelaut dapat menganyam tali secara baik
Hasan adalah
pelaut
Jadi: Kemungkinan besar Hasan dapat menganyam tali secara baik
d)
Dari dua premis yang sama-sama negatif, tidak
menghasilkan kesimpulan apapun, karena tidak ada mata rantai yang menghubungkan
kedua proposisi premisnya positif. Kesimpulan yang ditarik dari dua premis
negatif adalah tidak sah.
Kerbau bukan
bunga mawar.
Kucing bukan
bunga mawar.
(.... Tidak ada kesimpulan)
e)
Paling
tidak salah satu dari term penengah harus tertebar (mencakup). Dari dua yang
term penengahnya tidak tertebar akan menghasilkan kesimpulan yang salah,
seperti:
Semua ikan
berdarah dingin.
Binatang ini
berdarah dingin.
Jadi: Binatang
ini adalah ikan
(padahal bisa juga binatang melata)
f)
Term
predikat dalam kesimpulan harus konsisten dengan term predikat yang ada pada
premisnya. Bila tidak, kesimpulan menjadi salah, seperti:
Kerbau adalah
binatang.
Kambing bukan
kerbau.
Jadi: kambing
bukan binatang.
(‘Binatang’ pada konklusi merupakan term negatif sedangkan pada
premis adalah positif)
g)
Term
penengah harus harus bermakna sama, baik dalam premis mayor maupun premis
minor. Bila term penengah bermakna ganda kesimpulan menjadi lain, seperti:
Bulan itu
bersinar di langit.
Januari adalah
bulan.
Jadi: Januari
bersinar di langit
(Bulan pada premis minor adalah nama dari ukuran waktu yang
panjangnya 31 hari, sedangkan pada premis mayor berarti planet yang
mengelilingi bumi).
h)
Silogisme
harus terdiri dari tiga term, yaitu term subyek, term predikat dan term middle.
Apabila terdiri dari sebuah tema tidak bisa diturunkan konklusi, begitu pula
bila terdiri dari dua atau lebih dari tiga term.
·
Absah
dan benar
Dalam
pembahasan silogisme kita harus mengenal dua istilah yaitu absah dan benar.
Absah (valid) berkaitan dengan prosedur penyimpulannya, apakah
pengambilan konklusi sesuai dengan patokan atau tidak. Dikatakan valid apabila
sesuai dengan patokan di atas dan dikatakan tidak valid bila sebaliknya.
Benar berkaitan dengan
proposisi dalam silogisme itu, apakah ia didukung atau sesuai dengan fakta atau
tidak. Bila sesuai dengan fakta, proposisi itu benar, bila tidak ia salah.
Keabsahan dan kebenaran
dalam silogisme merupakan suatu satuan yang tidak bisa dipisahkan, untuk
mendapatkan konklusi yang sah dan benar. Hanya konklusi dari premis yang benar
dari prosedur yang sah konklusi itu dapat diakui. Hal itu karena bisa terjadi
dari premis salah dan prosedur valid menghasilkan konklusi yang benar, demikian
juga dari premis salah dan prosedur invalid dihasilkan konklusi benar.[5]
[1]
H.A Kadir Sobur, Logika dan Penalaran Dalam Perspektif Ilmu pengetahuan, (Fakultas
Ushuluddin Jambi, 2015) hlm. 393
[2] Mundiri,
LOGIKA, (Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 2012), hal.100
[3]
Ibid, hal.101
[4] Khalima,
Logika Teori dan Aplikasi, (Jakarta, Gaung Persada Press, 2011), hal. 140
[5]
Mundiri, LOGIKA, hal.106
Comments
Post a Comment