-IPMAFA menjadi Tuan Rumah BEM Pesantren se-Indonesia-



Pati, 26/April/2017 Institut Pesantren Mathaliul Falah (IPMAFA) menjadi tuan rumah kegiatan Muktamar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Pesantren Se-Indonesia , kegiatan ini sebagai tempat berkumpulnya dan berjejaring dengan berbagai BEM dari perguruan tinggi dibawah naungan pesantren atau perguruan tinggi berbasis pesantren di seluruh Indonesia. Kegiatan ini berlangsung selama 4 hari pada tanggal 23 - 26 April 2017 serta dihadiri enam puluh enam peserta dari perwakilan dua puluh empat kampus. Rangkaian kegiatan ini diantaranya adalah Seminar Nasional dengan tema “Memperkokoh barisan pesantren, Mengawal birokrasi Indonesia” dengan mendatangkan Narasumber Marwan Jafar Mantan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Indonesia pada Kabinet Kerja 2014 – 2016 dan Dr Jamal Ma’mur, salah seorang dosen IPMAFA yang sekaligus pengurus wilayah Rabithah Ma’ahid Islamiyah.
Diantara yang dipaparkan marwan adalah harapannya kepada Muktamar BEM peseantren Se-Indonesia ini dapat membentuk pondasi yang bersifat kompleks dan implementatif agar dapat ikut berkontribusi menyumbang gagasan-gagasan brilian kedalam tataran birokrasi Indonesia. “Saya berharap nanti agar terbentuk pondasi yang sifatnya kompleks dan implementatif dalam rangka seminar muktamar bem peseantren” ujarnya.
Lebih lanjut tentang kontribusi santri menjadi presiden di Indonesia marwan memaparkan kesetujuannya dan kunci dari semua itu santri harus berani dan memperkuat kompetensinya agar dapat berkontribusi “Saya setuju 15 atau 60 tahun yang akan datang Indonesia dipimpin santri dan kunci dari semua itu adalah kompetensi dan kebrenaian” terangnya
Di akhir pemaparannya Marwan mengingatkan bahwa mahasiswa harus selalu kritis terhadap pemerintahan sebagai wujud dari tugas yang diembannya sebagai agen perubahan “Mahasiswa harus Selalu kritis terhadap pemerintah sebagai agen perubahan” terangnya. lebih dari itu Marwan menambahkan bahwa santri juga harus kritis terhadap pemerintahan dalam hal mengawal pemerintah karena sejak dulu sejarah telah mebuktikan bahwa para kyai, masyayikh yang kritis dan oposisi terhadap pemerintahan belanda “santri sejak dulu itu pasti kritis terhadap ketidak adilan, penindasan, penjajahan, kolonialisme dan kiyai-kiyai masyayikh kita dalam sejarahnya selalu oposisi terhadap pemerintahan Belanda” tandasnya.
Narasumber kedua jamal memaparkan tentang dua fungsi pesantren menurut KH MA Sahal Mahfudz sebagai tafaqquh fa addin pendalaman agama dan kedua sebagai lembaga kemasyarakatan Dalam konteks yang pertama mendorong santri menjadi ilmuan atau mendalami ilmu agama dan ilmu umum “Menurut kiai sahal pesantren mempunyai dua fungsi tafaqquh fa addin pendalaman agama saya kira kita sebagai santri sudah melakukannya.” Ujarnya. Sedangkan fungsi yang kedua sebagai lembaga kemasyarakatan serta menjadi aktifis sosial yang menyuarakan kepentingan publik dan mampu merealisasikan “Dan yang kedua fungsi pesantren itu lembaga kemasyarakatan” tambahnya. (Rofiq)




Comments

Popular posts from this blog

Makalah I Teknik Analisis Gender model harvard

Makalah "Pembuatan Keputusan" mata kuliah Pengantar Manajemen

MAKALAH I Tokoh Sosiologi Emile Durkheim