MAKALAH I Filsafat Ilmu - Beberapa Pandangan Tentang Klasifikasi Ilmu Pengetahuan



MAKALAH
Beberapa Pandangan Tentang Klasifikasi Ilmu Pengetahuan
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas matakuliah
Filsafat Ilmu


PENDAHULUAN
Pengetahuan merupakan hasil dari proses usaha manusia untuk mengetahui. Berbedanya cara dalam mendapatkan pengetahuan serta tentang apa yang dikaji oleh pengetahuan membedakan antara jenis pengetahuan yang satu dengan yang lainnya. Pengetahuan dikembangkan manusia disebabkan dua hal utama yakni, pertama, manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatarbelakangi informasi tersebut. Kedua adalah kemampuan berpikir menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu. Secara garis besar cara berpikir seperti ini disebut penalaran.
Pengetahuan banyak jenisnya, salah satunya adalah ilmu. Ilmu merupakan bagian dari pengetahuan yang objek telaahnya adalah dunia empiris dan proses pendapatkan pengetahuannya sangat ketat yaitu menggunakan metode ilmiah. Ilmu menggabungkan logika deduktif dan induktif, dan penentu kebenaran ilmu tersebut adalah dunia empiris yang merupakan sumber dari ilmu itu sendiri Klasifikasi atau penggolongan ilmu pengetahuan mengalami perkembangan atau perubahan sesuai dengan semangat zaman.
Ada beberapa pandangan yang terkait dengan klasifikasi ilmu pengetahuan yang pada resume ini akan kita bahas tentang klasifikasi ilmu pengetahuan menurut Auguste Comte, Karl Raimund Popper, dan Thomas S. Khun








Beberapa Pandangan Tentang Klasifikasi Ilmu Pengetahuan
A.    Aguste Comte (1791-1857)
Aguste Comte memiliki nama panjang Isidore Marie Aguste Francois Xavier Comte. Ia lahir pada 17 Januari 1798 di Montpellier, sebuah kota kecil di bagian barat daya Prancis. Ia berasal dari keluarga bangsawan yang beragama Katolik. Pendidikan awalnya ia tempuh dikota kelahirannya. Kemudian, pada usia 25 tahun, ia melanjutkan studinya di Politeknik Ecola, Paris. Pada tahun 1818, ia kembali kekota kelahirannya dan mengambil sekolah kedokteran. Agust Comte terkenal sebagai pendiri aliran posotivisme dan bapak Sosiologi. Positivisme ia jadikan basis filsafatnya, kemudian ia terapkan dalam penelitian sosial.[1]
Pada dasarnya penggolongan ilmu pengetahuan yang dikemukakan Auguste Comte sejalan dengan sejarah ilmu pengetahuan itu sendiri, yang menunjukkan bahwa gejala-gejala dalam ilmu pengetahuan yang paling umum akan tampil terlebih dahulu. Kemudian disusul dengan gejala-gejala pengetahuan yang semakin lama semakin rumit atau kompeks dan semakin konkret. Oleh karena dalam mengemukakan penggolongan ilmu pengetahuan Auguste Comte memulai dengan mengamati gejala-gejala yang paling sederhana. Urutan dalam penggolongan ilmu pengetahuan Auguste Comte sebagai berikut:[2]
1.      Ilmu Pasti (Matematika)
Ilmu pasti merupakan dasar bagi semua ilmu pengetahuan karena sifatnya tetap, abstrak dan pasti. Dengan metode-metode yang dipergunakan, melalui ilmu pasti, kita akan memperoleh pengetahuan tentang sesuatu yang sebenarnya, sebagaimana abstraksi yang dapat dilakukan akal manusia.
2.      Ilmu Perbintangan (Astronomi)
Dengan didasari rumus-rumus ilmu pasti, maka ilmu perbintangan dapat menyusun hukum-hukum yang bersangkutan dengan gejala-gejala benda langit.
3.        Ilmu Alam (Fisika)
Ilmu alam merupakan ilmu yang lebih tinggi dari pada ilmu perbintangan, maka pengetahuan mengenai benda-benda langit merupakan dasar bagi pemahaman gejala-gejala dunia anorganik. Gejala-gejala dalam ilmu alam lebih kompleks, yang tidak akan dapat difahami, tanpa terlebih dahulu memahami hukum-hukum astronomi.
4.      Ilmu Kimia (Chemistry)
Gejala-gejala dalam ilmu kimia lebih kompleks dari ilmu alam, dan ilmu kimia mempunyai kaitan dengan ilmu hayat (biologi) bahkan juga dengan sosiologi. Pendekatan yang dipergunakan dalam ilmu kimia ini tidak hanya melalui pengamatan (observasi) dan percobaan (eksperimen), melainkan juga dengan perbandingan (komparasi)
5.      Ilmu Hayat (Fisologi atau Biologi)
Ilmu hayat (biologi) merupakan ilmu yang kompleks dan berhadapan dengan gejala-gejala kehidupan. Ini berbeda dengan ilmu-ilmu sebelumnya seperti ilmu pasti , ilmu perbintangan, ilmu alam, dan ilmu kimia yang telah berada pada tahap positif. Karena sifatnya yang kompleks, maka cara pendekatannya membutuhkan alat yang lebih lengkap.
6.      Fisika Sosial (Sosiologi)
Fisika sosial merupakan urutan tertinggi dalam penggolongan ilmu pengetahuan. Fisika sosial sebagai ilmu berhadapan dengan gejala-gejala yang paling kompleks, paling konkret, paling konkret dan khusus, yaitu gejala yang berkaitan dengan kehidupan umat manusia dalam berkelompok.
B.     Karl R. Pooper
Karl R. Pooper lahir pada tahun 1902 di Wina, Austria. Kedua orang tuanya adalah keturunan Yahudi, tetapi setelah menikah mereka dibaptis di gereja Protestan. Ayahnya adalah seorang pengacara, sarjana hukum, dan senang membaca buku. Sedangkan, ibunya piawai dalam bermain musik, sehingga tak heran jika Karl Popper juga amat perhatian pada masalah musik.[3]
Karl R. Pooper terkenal sebagai filsuf yang memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan sains dan ilmu sosial. Dalam ilmu sosial, ia terkenal dengan konsepnya mengenai masyarakat terbuka atau demokrasi.[4]
Popper mengemukakan bahwa system ilmu pengetahuan manusia dapat dikelompokkan kedalam tiga dunia (World), yaitu Dunia 1, Dunia 2, dan Dunia 3. Popper menyatakan bahwa Dunia 1 merupakan kenyataan fisis dunia, sedangkan Dunia 2 adalah kejadian dan kenyataan psikis dalam diri manusia, dan dunia 3 yaitu segala hipotesa, hukum, dan teori ciptaan manusia dan hasil kerjasama antara dunia 1 dan dunia 2 serta seluruh bidang kebudayaan, seni, metafisik, dll.[5]
C.    Thomas S. Kuhn
Kuhn lebih mementingkan sejarah ilmu sebagai titik tolak penyelidikan. Kuhn berpendapat bahwa perkembangan atau kemajuan ilmiah bersifat revolusioner. Menurut Kuhn cara kerja paradigma dan terjadinya revolusi ilmiah dapat digambarkan kedalam tahap-tahap sebagai berikut:[6]
1.      Tahap pertama: paradigma ini membimbing dan mengarahkan aktifitas ilmiah dalam masa ilmu normal. Selama menjalankan aktivitas ilmiah itu para ilmuwan menjumpai berbagai fenomena yang tidak dapat diterangkan dengan paradigma yang dipergunakan sebagai bimbingan atau arahan aktivitas ilmiahnya itu, ini dinamakan anomali.
2.      Tahap kedua: menumpuknya anomaly menimbulkan krisis kepercayaan dari para ilmuan terhadap paradigma.
3.      Tahap ketiga: peran ilmuan bisa kembali lagi pada cara-cara ilmiah yang lama sembari memperluas dan mengembangkan suatu paradigma tandingan yang dipandang bisa memecahkan masalah dan membimbing aktivitas ilmiah berikutnya.

PENUTUP
A. Kesimpulan
Ada beberapa pandangan tentang klasifikasi ilmu pengetahuan menurut Auguste Comte, Karl Raimund Popper, C, dan Thomas S. Kuhn yaitu:
·         Menurut Auguste Comte pokok pikirannya klasifikasi ilmu pengetahuan ialah:
1.      Ilmu Pasti (Matematika)
2.      Ilmu Perbintangan (Astronomi)
3.      Ilmu Alam (Fisika)
4.      Ilmu Kimia (Chemistry)
5.      Ilmu Hayat (Fisologi atau Biologi)
6.      Fisika Sosial (Sosiologi)
·         Menurut Thomas S. Kuhn pokok pikirannya klasifikasi ilmu pengetahuan ialah:
1.      Tahap pertama: paradigma ini membimbing dan mengarahkan aktifitas ilmiah dalam masa ilmu normal.
2.      Tahap kedua: menumpuknya anomaly menimbulkan krisis kepercayaan dari para ilmuan terhadap paradigma.
3.      Tahap ketiga: peran ilmuan bisa kembali lagi pada cara-cara ilmiah yang lama sembari memperluas dan mengembangkan suatu paradigma tandingan yang dipandang bisa memecahkan masalah dan membimbing aktivitas ilmiah berikutnya.

B. Daftar Pustaka
Mustansyir, Rizal & Munir, Musnal. 2008. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rahman, Masykur Arif. 2013. Sejarah Filsafat Barat. Jogjakarta: IRCisoD
Sudibyo, Lies. Meidawati Suswandari. Dan Bambang Triyanto. 2014. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Depublish.




[1] Masykur Arif Rahman, Sejarah Filsafat Barat, (Jogjakart: IRCisoD, 2013), hlm:303-305
[2]Drs. Rizal Mustansyir M.Hum& Drs. Musnal Munir M.Hum, Filsafat Ilmu,(Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2008), hlm: 148-150
[3]Masykur Arif Rahman... hlm: 392
[4]Ibid... hlm : 394
[5]Drs. Rizal Mustansyir M.Hum& Drs. Musnal Munir M.Hum... hlm: 151
[6]Drs. Lies Sudibyo, M.H, Meidawati Suswandari, S.Pd., M.Pd, & Drs. Bambang Triyanto, M.M, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Depublish, 2014) , hlm: 40-41.

Comments

Popular posts from this blog

Makalah I Teknik Analisis Gender model harvard

Makalah "Pembuatan Keputusan" mata kuliah Pengantar Manajemen

MAKALAH I Tokoh Sosiologi Emile Durkheim