MAKALAH I Filsafat Ilmu - Perkembangan Pemikiran Filsafat Barat Zaman Yunani Kuno & Zaman Pertengahan




Perkembangan Pemikiran Filsafat Barat
Zaman Yunani Kuno &Zaman Pertengahan
disusun untuk memenuhi tugas matakuliah
Filsafat Ilmu

PENDAHULUAN
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dimasa ini tidak dapat dilepaskan dari peran dan pengaruh pemikiran filsafat barat. Pada awal perkembangan pemikiran filsafat barat pada zaman yunani kuno, filsafat identik dengan ilmu pengetahuan, artinya antara pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan pada saat itu tidak dapat dipisahkan. Semua hasil pemikiran manusia pada waktu itu disebut dengan filsafat. Pada zaman pertengahan terjadi adanya perubahan, filsafat pada zaman ini identik dengan alam, artinya pemikiran filsafat pada waktu itu menjadi satu dengan dogma Gereja (Agama). Munculnya renaissans pada abad ke 15 dan aufklaerung abad ke 18 membawa perubahan pandangan terhadap filsafat. Filsafat memisahkan diri dari agama, orang mulai bebas mengeluarkan pendapat tanpa takut dihukum oleh Gereja.
Perkembangan sejarah filsafat barat dapat dibagi dalam 4 periodisasi. Periodisasi ini didasarkan atas ciri pemikiran yang dominan pada waktu itu. Pertama, zaman yunani kuno, ciri pemikiran periode ini disebut dengan komosentris para filosof pada periode ini mempertanyakan asal-usul alam semesta dan jagat raya. Kedua, zaman abad pertengahan, ciri pemikiran pada periode ini disebut dengan teosentris. Para filosof pada periode ini memakai pemikiran filsafat untuk memperkuat dogma-dogma agama kristiani. Ketiga, zaman abad modern, para filosof periode ini menjadikan manusia sebagai pusat analisis filsafat, sehingga lazim disebut dengan corak antroposentrisme. Keempat, abad kontemporer, ciri pokok pemikiran zaman ini adalah lgosentris, artinya teks menjadi tema sentral dikursus para filosof.[1]
Dalam resume ini akan membahas tentang pekembangan pemikiran filsafat barat pada zaman yunani kuno dan zaman pertengahan.


Perkembangan Pemikiran Filsafat Barat Zaman Yunani Kuno & Zaman Pertengahan
A.    Zaman Yunani Kuno (Abad 6 SM-6 M)
Kelahiran pemikiran filsafat barat pada abad ke-6 SM ditandai dengan runtuhnya mite dan dongeng yang menjadi pembenaran terhadap gejala alam. Manusia melalui mite mencari keterangan tentang asal-usul alam semesta dan kejadian yang ada didalamnya. Ada dua bentuk mite yang berkembang pada waktu itu, yaitu mite kosmogonis (mencari tentang asal usul alam semesta), dan mite kosmologis (berusaha mencari keterangan tentang asal usul serta sifat kejadian alam semesta). Mitologi yunani memberikan jawaban terhadap pertanyaan alam semesta tersebut, namun jawaban tersebut diberikan dalam bentuk mite yang lolos dari control akar(rasio). Cara berfikir seperti ini berlangsung sampai abad ke-6 dan orang-orang mulai mencari jawaban rasional tentang asal-usul dan kejadian alam semesta.[2]
Ciri yang menonjol dari filsafat kuno ini adalah ditujukannya perhatian terutama pada pengamatan gejala kosmik dan fisik sebagai ikhtiar guna menemukan sesuatu asal mula (arche) yang merupakan unsur awal terjadinya segala gejala.[3] Dalam pemikiran filsafat yunani kuno ini memunculkan beberapa tokoh besar dalam bidang filsafat yaitu: Thales, Anaximander, Anaximenes, phytagoras, Herakleitos, Parmenides, Democritus, Socrates, Plato, dan Aristoteles,
1.      Thales ( 640-550 SM )
Thales berpendapat bahwa air merupakan arche (asal-mula) dari segala sesuatu dan didukung oleh kenyataan bahwa air meresapi seluruh benda-benda dijagat raya ini.[4]
Thales adalah orang pertama yang memiliki keinginan untuk mengetahui bahan dasar alam semesta melalui akalnya, sekaligus orang pertama yang mengajukan hipotesis bahwa bahan dasar alam semesta ini adalah air, maka ia pantas untuk mendapatkan gelar bapak filsafat. Sedangkan anggapan bumi mengapung diatas air, barangkali Thales melihat lautan yang sangat luas, sementara daratan lebih kecil dari lautan. Sehingga, dia menyimpulkan bahwa daratan muncul dari lautan dan mengapung diatasnya. Kemungkinan lain, dia pernah melihat air yang berubah menjadi es, air meguap menjadi udara, dan es maupun udarakembali menjadi air, dengan demikian semua berasal dari air.[5]
2.      Anaximander (611-545 SMS)
Bagi Anaximander sangat tidak masuk akal apabila substansi alam semesta ini berasal dari unsur-unsur yang ada di alam semesta itu sendiri, dimana masing-masing unsur saling berlawanan bahkan saling mengalahkan satu sama lain meskipun demikian, ia setuju dengan gurunya yang berpendapat bahwa alam semesta berasal dari satu substansi. Akan tetapi, substansi alam semesta yang dipahaminya bukanlah air atau unsur-unsur lain yang sudah disangkalnya. Ia menganggap alam semesta ini berasal dari satu substansi. Satu substansi itu berada diluar unsur-unsur alam semesta, tetapi melingkupi seluruh alam semesta. Satu substansi tersebut tidak dapat diamati oleh pancaindra, tetapi dapat diketahui dengan pikiran. Segala sesuatu didunia ini merupakan sebagian bentuk darinya.
Anaximander memberikan nama terhadap penemuannya tentang substansi alam semesta itu. Ia menyebutnya Apeiron yang berarti tidak terbatas, tak berhingga, tak bekesudahan tak mengenal usia atau abadi.[6]
3.      Anaximenes (588-524 SM)
Mengatakan bahwa segala sesuatu adalah udara, keyakinan ini didukung oleh kenyataan bahwa udara merupakan unsur simple kehidupan.[7]
Pada bagian sebelumnya telah dikatakan bahwa Thales belum menjawab pertanyaan tentang dari apa air itu. Dari sini, Anaximenes lebih melebarkan sayap dibandingkan Thales. Karena ia menjawab pertanyaan tersebut dengan menganggap substansi paling dasar adalah udara, maka ia beranggapan bahwa air muncul dari udara.[8]
4.      Phytagoras (580-50 SM)
Phytagoras berpendapat bahwa asal segala sesuatu dapat di terangkan atas dasar bilangan-bilangan, ia terkenal karena dalil segitiga siku-siku yang dikemukakannya dan masih digunakan sampai saat ini.[9]
Pandangan Phytagoras dan murid-muridnya tentang alam semesta sangat menarik. Kaum pytagorean sepakat bahwa bukan bumi yang menjadi pusat alam semesta, melainkan api. Api ini, oleh pemikir sesudahnya, dimaknai sebagai matahari.[10]
5.      Herakleitos (540-475 SM)
Herakleitos ini tidak lagi tentang apakah asal usul dan kejadian alam semesta, tetapi apakah realitas itu berubah, tidak sesuatu yang tetap. Ungkapannya yang terkenal adalah “panta rhei khai uden menei”, semuanya mengalir dan tidak ada sesuatu pun yang tinggal menetap.[11]
Jelas, logika akan menyimpulkan bahwa segala sesuatu yang berubah adalah menjadi baru. Semua berproses menjadi baru atau berubah terus-menerus, sehingga filsafat Herakleitos terkenal dengan nama “filsafat menjadi” atau “filsafat perubahan”.[12]
6.      Parmenides (540-475 SM)
Permanides hidup satu periode atau satu zaman dengan Herakleitos, maka diskusi kefilsafatan semakin semarak dengan tampilnya dua filosof ini. Permanides berpandangan sebaliknya, ia menegaskan bahwa realitas itu tetap, tidak berubah. Arti penting Parmenides adalah gagasannya tentang “ada”, ia merupakan filsuf pertama yang mempraktekkan cabang filsafat yang dikenal dikemudian hari dengan istilah “metafisika”. [13]
Permanides tidak menggunakan ungkapan, “Aku baru percaya kalau sudah melihatnya.” tetapi “ Aku baru percaya kalau sudah memikirkannya”.[14]
7.      Demokritos (460-370 SM)
Demokritos adalah filosof Yunani yang penting dalam rangka perkemangan ilmu pengetahuan. Ia menegaskan bahwa realitas terdiri dari banyak unsur yang disebutnya dengan atom. Atom-atom itu sama sekali tidak mempunyai kualitas dan jumlahnya tidak berhingga. Pandangan Demokritos ini merupakan cikal bakal perkembangan ilmu fisika, kimia, dan biologi.[15]
8.      Socrates (470-399 SM)
Socrates tidak memberikan suatu ajaran yang sistematis, ia langsung menerapkan metode filsafat langsung dalam kehidupan sehari-hari. Metode berfilsafat yang diuraikannya disebut “dialektika” (Yunani: dialegesthai) yang berarti bercakap-cakap, disebut demikian karena dialog atau wawancara mempunyai peranan hakiki dalam filsafat Socrates.[16]
9.      Plato (428 SM-348 SM)
Plato adalah murid Socrates yang meneruskan tradisi dialog dalam berfilsafat. Plato memilih dialog karena ia berkeyakinan bahwa filsafat pada intinya tidak lain daripada suatu dialog. 
Plato dikenal sebagai filosof dualisme, artinya ia mengikuti adanya dua kenyataan yang terpisah dan berdiri sendiri, yaitu dunia ide dan dunia bayangan (inderawi). Dunia ide adalah dunia yang tetap dan abadi, didalamnya tidak ada perubahan, sedangkan dunia bayangan (inderawi) adalah dunia yang berubah, yang mencakup benda-benda jasmani yang disajikan kepada indera.[17]
10.  Aristoteles (384 SM-322 SM)
Pemikiran filsafat Yunani mencapai puncaknya pada murid Plato yang bernama Aristoteles. Ia mengatakan bahwa tugas utama ilmu pengetahuan ialah mencari penyebab-penyebab objek yang diseidiki. Kekurangan utama para filosof sebelumnya yang sudah menyelidiki alam adalah bahwa mereka tidak memeriksa semua penyebab.
Sumbangan Aristoteles dalam ilmu pengetahuan adalah pemikirannya tentang sillogisme. Sillogisme adalah suatu cara menarik kesimpulan dari premis-premis sebelumnya.
B.     Zaman Pertengahan (Abad 6-6 M)
Zaman Pertengahan di Eropa adalah zaman keemasan bagi kekristenan. Abad pertengahan selalu dibahas sebagai zaman yang khas, karena dalam abad-abad itu perkembangan alam pikiran Eropa sangat terkendala oleh keharusan  untuk disesuaikan dengan ajaran agama.
Filosof Yunani yang berpengaruh pada abad pertengahan adalah Plato dan Aristoteles, Plato menampakkan pengaruhnya pada Agustinus sedangkan Aristoteles pada Thomas Aquinas.[18]
1.      Agustinus (354-430)
 Filsafat Agustinus merupakan filsafat mengenai keadaan ikut ambil bagian, suatu bentuk Platonisme yang sangat khas. Dengan pengetahuannya mengenai kebenaran-kebenaran abadi yang disertakan sejak lahir dalam ingatan dan yang menjadi sadar karena manusia mengetahui sesuatu, manusia ikut ambil bagian dalam idea-idea Tuhan, yang mendahului ciptaan dunia. Ciptaan merupakan keadaan yang ikut ambil bagian dalam idea-idea Tuhan, tetapi manusia adalah ciptaan yang unik, ia bukan keadaan yang diambil bagian yang pasif melainkan diwujudkan secara katif dalam suatu pengetahuan yang penuh kasih.[19]

2.      Thomas Aquinas (1125-1274)
Pemikiran filsafat Aristoteles direnungkan secara mendalam oleh Thomas Aquinas, tanpa ragu-ragu ia mengambil pemikiran filsafat Aristoteles sebagai dasar dalam berfilsafat.
Thomas dalam hal terjadinya alam semesta menganut teori penciptaan, artinya Tuhan menciptakan alam semesta. Dengan tindakan mencipta, Tuhan menghasilkan ciptaan dari ketiadaan pada awal mulanya tidak terdapat dualisme antara tuhan (kebaikan) dengan materia (keburukan). Karena segala sesuatu timbul oleh penciptaan dari Tuhan maka segala sesuatu juga ambil bagian dalam kebaikan Tuhan; berarti bahwa juga alam material mempunyai bentuk kebaikan sendiri.[20]


PENUTUP
A.    Kesimpulan
Kelahiran pemikiran filsafat barat pada abad ke-6 SM ditandai dengan runtuhnya mite dan dongeng yang menjadi pembenaran terhadap gejala alam. Manusia melalui mite mencari keterangan tentang asal-usul alam semesta dan kejadian yang ada didalamnya. Ada dua bentuk mite yang berkembang pada waktu itu, yaitu mite kosmogonis (mencari tentang asal usul alam semesta), dan mite kosmologis (berusaha mencari keterangan tentang asal usul serta sifat kejadian alam semesta). Mitologi yunani memberikan jawaban terhadap pertanyaan alam semesta, namun jawaban itu diberikan dalam bentuk mite yang lolos dari control akal (rasio). Cara berfikir seperti ini berlangsung sampai abad ke-6.
Ciri yang menonjol dari filsafat yunani kuno ini adalah ditujukannya perhatian terutama pada pengamatan gejala kosmik dan fisik sebagai ikhtiar guna menemukan sesuatu asal mula (arche) yang merupakan unsur awal terjadinya segala gejala.  Dalam pemikiran filsafat yunani kuno ini memunculkan beberapa tokoh besar dalam bidang filsafat yaitu: Thales, Anaximander, Anaximenes, phytagoras, Herakleitos, Parmenides, Democritus, Socrates, Plato, dan Aristoteles,
Zaman Pertengahan di Eropa adalah zaman keemasan bagi kekristenan. Abad pertengahan selalu dibahas sebagai zaman yang khas, karena dalam abad-abad itu perkembangan alam pikiran Eropa sangat terkendala oleh keharusan  untuk disesuaikan dengan ajaran agama.Filosof Yunani yang berpengaruh pada abad pertengahan adalah Plato dan Aristoteles, Plato menampakkan pengaruhnya pada Agustinus sedangkan Aristoteles pada Thomas Aquinas.


B.     Daftar Pustaka

Mustansyir, Rizal & Munir, Musnal. 2008. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Rahman, Masykur Arif. 2013. Sejarah Filsafat Barat. Jogjakarta: IRCisoD


[1]Drs. Rizal Mustansyir M.Hum& Drs. Musnal Munir M.Hum, Filsafat Ilmu,(Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2008), hlm: 59-60
[2]Ibid, hlm: 59-60
[3]Ibid, hlm: 60
[4]Ibid, hlm: 60
[5] Masykur Arif Rahman, Sejarah Filsafat Barat, (Jogjakart: IRCisoD, 2013), hlm:72-73
[6]Ibid, hlm: 77
[7] Drs Rizal Mustansyir M.Hum& Drs Musnal Munir M.Hum... hlm: 61
[8] Masykur Arif Rahman... hlm: 82
[9]Drs Rizal Mustansyir M.Hum & Drs Musnal Munir M.Hum... hlm: 61
[10] Masykur Arif Rahman... hlm:89
[11]Drs Rizal Mustansyir M.Hum & Drs Musnal Munir M.Hum... hlm: 61
[12] Masykur Arif Rahman... hlm: 99
[13]Drs Rizal Mustansyir M.Hum & Drs Musnal Munir M.Hum... hlm: 61
[14] Masykur Arif Rahman... hlm: 106
[15]Drs Rizal Mustansyir M.Hum & Drs Musnal Munir M.Hum... hlm: 62
[16]Ibid, hlm: 62
[17]Ibid, hlm: 63
[18]Ibid, hlm: 66-67
[19]Ibid, hlm: 67
[20]Ibid, hlm: 68

Comments

Popular posts from this blog

Makalah I Teknik Analisis Gender model harvard

Makalah "Pembuatan Keputusan" mata kuliah Pengantar Manajemen

MAKALAH I Tokoh Sosiologi Emile Durkheim