MAKALAH I Kunci Keberhasilan Dakwah dan Evaluasi Dakwah



M A K A L A H
             Kunci Keberhasilan Dakwah dan Evaluasi Dakwah
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas matakuliah
Ilmu Dakwah II


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Perjuangan Islam untuk meraih kemenangan membutuhkan para dai yang berprestasi dalam mencerahkan manusia dengan kebenaran sehingga mengetahui tugas dan tanggung jawab yang harus dilakukan.Para dai tersebut tidak turun dari langit atau keluar dari perut bumi langsung sebagai dai. Mereka adalah orang-orang yang memiliki potensi atau kesanggupan yang dapat dikembangkan. Mereka terlahir dari proses yang intensif melalui pendidikan, training, pembinaan, dan pengembangan potensi serta pelatihan dakwah islamiyah.[1]
Memang benar bahwa kita hanyalah ditugaskan untuk menyampaikan saja (al-Ghasyiah:21-22), sedangkan masalah hasil akhir dari kegiatan dakwah kita serahkan sepenuhnya kepada Allah SWT. Hanya Dia sajalah yang mampu memberikan hidayah dan Taufik-Nya kepada manusia. Rasulullah saw, pun tidak mampu memberikan hidayah kepada orang yang dicintainya (al-Qashash: 56). Akan  tetapi, sikap ini tidaklah berarti menafikan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dari kegiatan dakwah yang dilakukan.[2]
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimanakah kunci keberhasilan dakwah ?
2.      Bagaimanakah evaluasi dakwah ?


BAB II
PEMBAHASAN
A.    Kunci Keberhasilan Dakwah
Kunci keberhasilan dakwah tidak terlepas dari peran dai dalam berjuang demi Islam, berusaha untuk membumikannya, memerlukan program dakwah, mempersiapkan para dai, pendidikannya. Atau, lebih pentingnya dan perlu diperhatikan adalah berkelanjutannya sebuah dakwah.
Untuk dapat mencapai keberhasilan dakwah tentunya banyak fase-fase dan proses yang harus dilalui lebih dulu oleh para dai.Mengenali medan dakwah, mengetahui target-target dakwah.[3]
1.      Mengenali medan dakwah. Ada 3 medan dakwah yang disampaikan oleh Ustadz Masturi.[4]
a.       dakwah aammah (dakwah umum). Dakwah aammah ini adalah dakwah terhadap masyarakat umum atau masyarakat kampus secara umum jika dalam konteks dakwah kampus.
b.      Dakwah khashshah, dakwah dalam tahapan ini sudah tidak lagi seperti dakwah aammah yang bersifat ‘keroyokan’ atau besar-besaran dan terlihat. Dakwah khashshah lebih kepada pembentukan karakter para da’i.
c.       Di antara kedua medan tersebut, ada fase atau tahapan pertengahan. Kita biasa menyebutnya Rabthul Aam. Pada fase ini komunikasi atau proses dakwah lebih terbatas. Pendekatan yang dilakukan lebih kepada segolongan orang, kelompok atau komunitas tertentu. Berdakwah lebih kepada khudwah hasanah, pendekatan intensif terhadap golongan-golongan yang sudah ada kecenderungan ke arah dakwah, namun masih sulit atau tidak bisa untuk diajak menjadi aktivis dakwah. Orang-orang pada tahapan ini biasanya merupakan kalangan simpatisan dakwah, yang mendukung namun tidak turut dalam gerakan dakwah secara khusus.
2.      Berikutnya Ust. Masturi juga menyampaikan poin-poin targetan dakwah, antara lain; terlaksananya amal, tersosialisasinya program dakwah, tersosialisasinya fikrah, minimalisir perlawanan terhadap dakwah, objek dakwah bisa bersikap objektif dan netral, menyetujui fikrah, mendukung dakwah, menggerakkan dakwah, membela dakwah, hingga berjuang dijalan dakwah.[5]
Selain poin-poin diatas, perjuangan Islam juga membutuhkan kordinasi antarpelaku dakwah seantero dunia, demi mencapai tujuan-tujuan penting, di antaranya sebagai berikut.[6]
1.      Tukar-menukar pikiran dan melakukan dialog antar pelaku dakwah agar mencapai perencanaan program-program yang matang, metode pelaksanaan yang lebih efektif, dan sarana-sarana pendidikan yanng lebih kondusif serta memadai.
2.      Bekerja sama dalam mennghadapi segala problematika internal maupun  eksternal seperti aliran-aliran yang memusuhi Islam, untuk mengantisipasinya dengan metode islami yang andal, jauh dari emosional  dan reaksi radikal. Para pelaku dakwah tentu sudah mengetahui bahwa Islam tidak menyukai percekcokan dan penngejekan.
3.      Bekerja sama dalam intensifikasi usaha-usaha yang disertai dengan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran serta kerjasama dalam kebaikan dan ketakwaan demi maraknya dakwah Islamiah. Penyatuan misi dan akumulasi potensi-potensi merupakan unsur penting dalam perjuangan Islam. Tidak seorang pun mempertentangkan hal ini, bahkan menyadarinya sebagai kunci utama keberhasilan dakwah secara menyeluruh.
4.      Bekerja sama dalam pemberdayaan sumber tenaga dan potensi di seluruh dunia Islam. Apabilla terlaksana dengan baik maka dapat menutup segala kekurangan dan memenuhi segala kebutuhan secara integral. Tidak harus dilandasi pada kesamaan potensi, tetapi yang terpenting adalah pemberdayaan seluruh potensi sebagai langkah progresif menuju kemenangan Islam.
B.     Evaluasi Dakwah
Evaluasi dakwah adalah penilaian subjektif mengenai apakah dakwah Islam yang diselenggarakan itu mmencapai target atau tujuan, baik umum maupun khusus, yang dicita-citakan.[7]
untuk mengadakan evaluasi terdapat dalam firman Allah SWT yang artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok”. (QS Al-Hasyr 59 : 18)
Dari ayat tersebut dapat difahami bahwa perlu adanya suatu proses evaluasi terhadap kegiatan yang telah dilakukan, untuk merencanakan kedepannya yang lebih baik dimasa yang akan datang, termasuk kegiatan dakwah yang telah dilakukan, juga perlu adanya evaluasi.
Tugas yang paling penting adalah bagaimana mengkoordinasikan pelaksanaan dakwah itu. Apa yang harus dikerjakan setelah dakwah itu berjalan? Di sinilah pentingnya koordinasi untuk mengadakan evaluasi, sejauh mana hasil dakwah yang telah dicapai. Evaluasi ini penting untuk menyesuaikan dengan perubahan masyarakat dalam kurun waktu tertentu harus selalu ada penyempurnaan dakwah. Sebelum hal itu dilakukan, terlebih dahulu harus ditetapkan target hasil dari  setiap paket dakwah yang dijalankan sehingga memudahkan membuat grafik perkembangan dakwah. Karena, dakwah adalah suatu proses yang menuntut suatu perubahan dan perkembangan.[8]
Setiap proses dakwah bermula dari usaha mempertanyakan kembali dasar asumsi yang memberikan orientasi sistem sosial, lalu membangun kehidupan baru. Menurut al-Ghazali, proses tersebut dapat diperinci menjadi tiga tahap yaitu:
a)      Menyadarkan pikiran
b)      Menumbuhkan keyakinan
c)      Membangun sistem
Bila dikaji lebih dalam maka proses dakwah yang dilakukan Rasulullah saw, memperlihatkan proses tersebut. Pada periode Mekah merupakan proses meluruskan kerangka landasan filosofis sistem sosial (pembersih akidah). Dan pada periode Madinah, membangun sistem sosial yang bernafakan Islam.[9]
Fungsi Evaluasi
a.       Fungsi Evaluasi formatif : mengenal kelemahan dan keunggulan suatu proses lebih kepada untuk memberi perbaikan. 
b.      Fungsi Evaluasi sumatif : menetukan tingkat keberhasilan yang tercapai.
c.       Fungsi prognostic : meramalkan sesuatu dalam menghadapi langkah selanjutnya.[10]


BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Kunci keberhasilan dakwah tidak terlepas dari peran dai dalam berjuang demi Islam, berusaha untuk membumikannya, memerlukan program dakwah, mempersiapkan para dai, pendidikannya. Atau, lebih pentingnya dan perlu diperhatikan adalah berkelanjutannya sebuah dakwah.
Untuk dapat mencapai keberhasilan dakwah tentunya banyak fase-fase dan proses yang harus dilalui lebih dulu oleh para dai. Mengenali medan dakwah, mengetahui target-target dakwah, mengetahui pilar-pilar penting kesuksesan dakwah, hingga memahami kriteria dari kesuksesan dakwah itu sendiri.
Evaluasi dakwah adalah penilaian subjektif mengenai apakah dakwah Islam yang diselenggarakan itu mmencapai target atau tujuan, baik umum maupun khusus, yang dicita-citakan.
Evaluasi ini penting untuk menyesuaikan dengan perubahan masyarakat dalam kurun waktu tertentu harus selalu ada penyempurnaan dakwah. Sebelum hal itu dilakukan, terlebih dahulu harus ditetapkan target hasil dari  setiap paket dakwah yang dijalankan sehingga memudahkan membuat grafik perkembangan dakwah. Karena, dakwah adalah suatu proses yang menuntut suatu perubahan dan perkembangan.


B.     Daftar Pustaka
Mahmud, Ali Abdul Halim. 2000. Pendidikan Ruhani. Jakarta: Gema Insani Press.
Hafidhuddin, Didin. 2001. Dakwah Aktual. Jakarta: Gema Insani Press.
Ardne, Kunci Keberhasilan Dakwah, Review ta’lim Lembaga Dakwah Kampus oleh Ust. Masturi.http://www.dakwatuna.com/2012/02/21/18339/kunci-keberhasilan-dakwah/#ixzz47DUOkN7L
Anshari, Endang Saifuddin. 2004. Pokok-pokok Pikiran Tentang Paradigma Dan Sistem Islam. Bandung
M. Chabib thoha. 2001. rajawali press.




[1] Dr. Ali Abdul Halim Mahmud, Pendidikan Ruhani, (Jakarta: Gema Insani Press, 2000), hlm: 183
[2] Drs. K.H. Didin Hafidhuddin, M.Sc, Dakwah Aktual, (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), hlm: 69
[3]Ardne,Kunci Keberhasilan Dakwah, Review ta’lim Lembaga Dakwah Kampus oleh Ust. Masturi.http://www.dakwatuna.com/2012/02/21/18339/kunci-keberhasilan-dakwah/#ixzz47DUOkN7L 
[4] Ibid
[5] Ibid
[6]Dr. Ali Abdul Halim Mahmud... hlm: 183-184
[7]H. Endang Saifuddin Anshari M.A, Pokok-pokok Pikiran Tentang Paradigma Dan Sistem Islam, (Bandung 2004), hlm: 155
[8] Drs. K.H. Didin Hafidhuddin, M.Sc... hlm : 74
[9] Ibid, hlm : 74
[10]M. Chabib thoha, (rajawali press. 2001)

Comments

Popular posts from this blog

Makalah I Teknik Analisis Gender model harvard

Makalah "Pembuatan Keputusan" mata kuliah Pengantar Manajemen

MAKALAH I Tokoh Sosiologi Emile Durkheim