MAKALAH I Landasan Historis Dakwah Pada Masa Rasulullah SAW Periode Makkah Madinah



M A K A L A H
Landasan Historis Dakwah Pada Masa Rasulullah SAW Periode Makkah Madinah
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas matakuliah
Ilmu Dakwah


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pada saat kondisi politik, sosial, ekonomi, dan agama di Barat maupun timur sedang kacau, lahir seorang tokoh besar sepanjang masa yang membangun kekuatan Islam di jazirah Arab, yaitu Nabi Muhammad SAW, beliau diutus dengan misi kenabian, yang mengajarkan, tiada tuhan selain Allah.
Sejarah dakwah pada masa Nabi Muhammad saw akan menyajikan gambaran dan Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada periode Makkah dan Madinah tentang metode dakwah yang dipakai oleh Nabi Muhammad saw, strategi-strategi dakwah beliau dalam menghadapi masyarakat jahiliyyah dan sebagainya.
Dengan mengerti sejarah kita akan memamhami masa sekarang, dan jika kita memahami masa kini, maka kita akan mampu mengendalikan masa datang. Karena itu, sejarah dakwah pada masa Nabi Muhammad saw perlu dimengerti secara baik berkaitan dengan bagaimana pelaksanaan dakwah pada masa lalu untuk mengetahui bagaimana sebaiknya pelaksanaan dakwah pada masa sekarang.

B.     Rumusan Masalah
1.    Bagaimana sejarah dakwah pada masa Rasulullah SAW periode Makkah Madinah ?
2.    Bagaimana strategi-strategi dakwah Rasulullah SAW periode Makkah ?
3.    Bagaimana strategi-strategi dakwah Rasulullah SAW periode Madinah ?









BAB II
Landasan Historis Dakwah Pada Masa Rasulullah SAW Periode Makkah Madinah
A.    Sejarah Dakwah Rasulullah SAW Periode Makkah Madinah.
Islam yang dibawa oleh Muhammad, hadir di tengah perilaku sehari-hari dan Agama yang menyimpang dari prinsip tauhid yang pernah di ajarkan Nabi Ibrahim.as. Melihat masyarakatnya yang jauh dari prinsip-prinsip kebenaran, Muhammad ingin mendapatkan jawaban tentang situasi dan nasib manusia pada saat itu. Renungan yang mendalam tentang apa yang terjadi pada masyarakatnya itu membuat dadanya sesak dan dan punggungnya terasa penuh beban (Q.S. 94 [Alam Nasyrah] :1-3).[1]
Sesuai dengan kebiasaan golongan pemikir orang Arab yang selama beberapa waktu lamanya pada setiap tahun selalu menjauhkan diri dari keramaian kehidupan, dengan cara mendekatkan diri kepada tuhan-tuhannya dengan bertapa dan berdo’a mengharapkan rezeki dan pengetahuan, maka Muhammad juga melakukan hal yang sama. Pengasingan ini dalam tradisi orang Arab disebut dengan nama tahannuts dan tahannuf. Muhammad sendiri melakukan tahannutsdi Gua Hira.
Dengan tahnnutsini, Muhammad berharap dapat merenungkan dan mencari solusi mengenai cara-cara dan langkah-langkah bijaksana dalam memperbaiki tingkah laku bangsa dan masyarakat Arab. Ia telah berusaha melakukan hal itu bersama Khadijah hampir lima belas tahun lamanya, tetapi ia merasa belum memperoleh hasil yang memuaskan. Masih banyak ia dapati kebobrokan dan kebodohan masyarakat Arab, terutama dalam bidang peribadatan. Bagaimana bisa orang menyembah patung yang terbuat dari kayu atau bata yang ia buat sendiri dan menganggapnya sebagai tuhan yang patut di sembah dan dimintai pertolongan. Saat itu, setiap suku memiliki patung tuhan sendiri-sendiri, sehingga patung-patung yang ada di sekitar Ka’bah berjumlah hampir 360 buah.
Karena itu, di dalam Gua Hira tersebut Muhammad ber-tahannutsagar mendapatkan kebenaran sejati. Kebiasaan ini selalu ia lakukan pada setiap tahun di bulan Ramadhan. Akhirnya, pada tanggal 17 Ramadhan tahun 611 M, dia melihat cahaya yang terang benderang memenuhi ruangan Gua itu. Tiba-tiba Malaikat Jibrilmuncul di hadapannya, menyampaikan wahyu dari Allah SWT. Yang pertama. Malaikat meminta Muhammad dengan berkata: “Bacalah”,Muhammad lalu menjawab; ”Saya tidak bisa membaca”. Keadaan ini berlangsung tiga kali dan Muhammad masih dalam keadaan gemetar.
Selanjutnya, Malaikat itu berkata kepada Muhammad untuk membaca wahyu Allah yang pertama sebagai berikut:
اِقْرَأْبِاسْمِرَبِّكَالَّذِيخَلَقَ (1) خَلَقَالْإِنْسَانَمِنْعَلَقٍ (2) اقْرَأْوَرَبُّكَالْأَكْرَمُ (3) الَّذِيعَلَّمَبِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَالْإِنْسَانَمَالَمْيَعْلَمْ (5)
Artinya: “(1) Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. (2) Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. (3) Bacalah, dan Tuhanmu adalah Maha Pemurah. (4) Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qalam (alat tulis) (5) Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS Al-Alaq 1-5)[2]
Muhammad kemudian menirukan bacaan ini dan Malaikatpun akhirnya pergi setelah kata-kata itu terpatri dalam hati Muhammad. Dengan kedatangan Malaikat membawa wahyu ini kepada Muhammad yang saat itu berusia 40 tahun, berarti Muhammad kini telah ditetapkan Allah SWT sebagai Nabi dan Rasul-Nya.[3]
Dengan wahyu pertama ini, ia belum disuruh untuk menyeruh kepada umatnya, agar segera mempercayai kenabiannya dan menyatakan kesediaan untuk mengikutinya adalah, antara lain, istrinya Khadijah, sepupu yang di asuhnya semenjak kecil, Ali ibn Abi Thalib, dan mantan hamba sahayanya, Zaid ibn Haritsh yang masih tinggal di rumahnya. Dengan demikian, pendukung pertama perjuangan Muhammad adalah keluarganya sendiri.[4]
Ketika wahyu yang pertama sudah turun, sementara wahyu berikutnya tidak kunjung datang, maka Nabi Muhammad SAW. Betul-betul merasakan kesedihan yang mendalam. Pada saat menunggu wahyu berikutnya, Nabi Muhammad SAW diliputi perasaan cemas dan khawatir akan putusnya wahyu untuk seterusnya. Ketika kesedihan itu sampai pada puncaknya dan hampir mendekati perasaan putus asa, malaikat datang menghibur dan memperkuat hati Nabi dengan berkata: “Wahai Muhammad! Janganlah bersedih, engkau benar-benar utusan Allah”, sejak itulah hati Nabi Muhammad menjadi tenang kembali.
Kemudian, Ketika Nabi Muhammad SAW. sedang menanti kedatangan wahyu, tiba-tiba nabi Muhammad SAW. Mendengar suara dari langit dan beliau lalu menengadah. Tampak oleh Nabi Muhammad SAW. Malaikat Jibril as, sehingga ia merasa takut dan menggigil, akhirnya ia segers pulang ke rumah. Setelah sampai di rumah, ia kemudian meminta Khadijah agar menyelimutinya. Salam keadaan berselimut itulah, malaikat jibril datang menyampaikan wahyu yang kedua kepada Nabi Muhammad SAW. Wahyu itu terdapat dalam surat al-Mudatsir ayat 1-7 sebagai berikut.[5]
يَآأَيُّهَاالْمُدَّثِّرُ (1) قُمْفَأَنْذِرْ (2) وَرَبَّكَفَكَبِّرْ (3) وَثِيابَكَفَطَهِّرْ (4) وَالرُّجْزَفَاهْجُرْ (5)
وَلاتَمْنُنْتَسْتَكْثِرُ (6) وَلِرَبِّكَفَاصْبِرْ (7)
Artinya : )1) Hai orang yang berkemul (berselimut), )2) Bangunlah, lalu berilah peringatan! )3) Dan Tuhanmu agungkanlah! )4( Dan pakaianmu bersihkanlah, )5) Dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, (6) Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. (7) Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah .(QS.Al-Mudatsir-1-7).[6]
Dengan datangnya Ayat tersebut mengandung isyarat berupa perintah kepada Nabi Muhammad SAW untuk memulai dakwahnya. Dalam hal ini Nabi diperintahkan untuk melakukan hal-hal sebagai berikut:
1.      Memperingatkan manusia dan membangunkannya.
2.      Melepaskannya dari kejahatan dunia dan kesengsaraan akhirat.
3.      Membimbing manusia ke jalan yang lurus sebelum terlambat.
4.      Menyadarkan manusia akan datangnya siksa yang bakal menimpa manusia yang tersesat, sedangkan mereka tidak menyadarinya.
Tugas tersebut merupakan kewajiban yang sangat berat, olehkarena itu agar tugas teersebut dapat terlaksana dengan baik, maka Allah membimbing Nabi Muhammad SAW. Dengan bimbingan sebagai berikut:
1.      Mengagungkan Allah dalam menjalankan tugas yang berat itu. Nabi Muhammad SAW diwajibkan membesarkan Asma Allah, dan meyakini bahwa Allah Maha Agung dan Maha Besar, sehingga Nabi Muhammad SAW akan selalu tabah dalam menghadapi penderitaan yang di alami selama menjalankan tugasnya.
2.      Mensucikan diri dan mensucikan pakaian, artinya Nabi Muhammad SAW diminta untuk mensucikan jiwa dan hati serta mensucikan akhlak dan amalan. Dalam menjalankan tugas tersebut.
3.      Menjauhkan sifat syirik. Meskipun Nabi Muhammad SAW sendiri semenjak belum di angkat sebagai Nabi telah menjauhkan sifat syirik dan kejahatan-kejahatan besar, namun Allah juga memberi bimbingan agar Nabi Muhammad SAW menjauhkan diri dari kejahatan-kejahatan besar itu.
4.      Jangan mengharap balas jasa. Dalam menjalankan tugas dakwah yang membutuhkan banyak pengorbanan, usaha, dan penderitaan, Nabi Muhammad SAW dibimbing agar tidak mengharap pahala. Dengan kata lain, Nabi Muhammad SAW diminta untuk menjalankannya karena Allah SWT.
5.      Sabar menahan penderitaan.Tugas dakwah merupakan tugas yang sangat berat dan sulit. Karena itu, Alah membimbing Nabi Muhammad SAW agar sabar dan tabah dalam menahan penderitaan selama dakwahnya berlangsung.
Dengan petunjuk-petunjuk tersebut, Nabi Muhammad SAW diminta untuk menyadari apa yang harus dia sampaikan kepada kaumnya dan bagaimana ia harus melaksanakan tugas tersebut. Dengan demikian, ayat ini menjelaskan apa yang harus dikerjakan oleh Nabi Muhammad SAW dalam menyampaikan risalahnya, yaitu mengajak umat manusia menyembah Allah SWT yang maha Esa, yang tidak berputra dan tidak diputrakan, dan tidak ada satupun sekutu baginya.[7]
Jadi dengan turunnnya QS. Al-Mudatsir ayat 1-7 ini maka membuka lembaran sejarah dakwah Islamiyah pada masa Nabi Muhammad SAW mulai terbuka. Dakwah Rasulullah SAW dibagi menjadi dua periode yaitu periode Makkah dan Madinah.
PeriodeMakkah disebut juga ’’periode pembinaan kerajaan Allah Swt, dalam hati manusia ’’sementara Periode Madinah disebut ’’periode pembinaan kerajaan Allah Swt, dalam masyarakat manusia.”
Periode Makkah
Menurut ahli sejarah Amin Said, bahwa dakwah zaman Makkah dibagi kepada empat periode, yaitu:
1.      Periode Rumah Tangga
Periode pertama ini,yang dinamakan periode rumah tangga berlalu tiga tahn lamannya, dimana dalam masa Rasulullah SAW Menjelang dakwahnya dengan diam-diam, hanya dengan memberi pelajaran dan petunjuk mengusahakan agar para  pengikutnya konsisten dan istiqomah dengan jalan memberi pelajaran baik yang memuaskan.
Dalam periode yang pertama ini, telah masuk islam istri Rasulullah Saw sendiri Saiyidah Khadijah, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Harisah dan Abu Bakar Shiddiq. Dengan dakwah Abu Bakar, maka islam pulalah Usman bin Affan, Zubair bin Awam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqasah, dan Thalhah bin Ubaidilah.
Periode ini kemudian dinamakan periode dakwah pribadi, karena Rasulullah SAW mendakwahkan risalahnya kepada masyarakat Makkah secara seorang demi seorang. Dakwah yang sempit karena hanya berjalan tiga tahun.
2.      Periode Keluarga
Dalam periode ini, Allah Swt, menyuruh Rasulullah Saw Menyampiakan  kepada keluargannya yang terdekat terlebih dahulu, dan jangan menghiraukan ancaman dan penghinaan  musyrik Quraisy:
            Karena itu,sampaikanlah apa yang diperintahkan kepadamu dan hindari dirimu dari orang-orang musyrik. (QS Al-Hijr [15]: 91)
Dan berilah peringatan kepada kaum kerabatmu terdekat. Dan bersikap lunaklah terhadap orang-orang mukmin pengikutmu. Kalau mereka mendurhakaimu, katakanlah: “sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap pekerjaanmu” (QS Al-Syu’ara [26]: 214-216)
Setelah datang perintah Allah SWT itu maka, naiklah Muhammad SAW ke bukit safa, seraya menyeru “Wahai kaum Quraisy” maka berkumpulah mereka di bukit safa. Kemudian Rasulullah Saw berdakwah agar mereka masuk islam. Diantara mereka ada yang menerima dakwah itu, dan kebanyakan menolak, bahkan mengejek dan mengancam. Walaupun demikian, semangat Rasulullah Saw tidak menjadi lemah, bahkan tambah membara, sehingga berpindahlah dakwahnya dari periode keluarga ke periode ketiga, yaitu periode konfrontasi.
3.      Periode Konfrontasi
Periode ini Rasulullah Saw berdakwah dengan terus terang, dengan blak-blakan tanpa menghiraukan penghinaan dan ancaman. Rasulullah Saw keluar menjalankan dakwahnya ke segala tempat, ke ka’bah ke tempat orang-orang Quraisy berkumpul, pada musim hari raya, bahkan pada segala kesempatan. Mengajak mereka memeluk agama Allah Swt, Agama Tauhid. Maka berkembanglah dakwah Rasulullah Saw dan banyak pengikutnya.


4.      Periode Kekuatan
Dalam tahun kedelapan Hijriyah, masuklah ke dalam islam, Hamzah dan Umar bin Khattab, keduanya adalah pahlawan-pahlawan Quraisy, sehingga dengan sebab masuknya mereka ke dalam Islam, barisan kaum muslim menjadi kuat dan masuklah dakwah Islam ke dalam periode keempat yaitu periode kekuatan.
Dalam permulaan periode keempat ini, yaitu dalam tahun kedelapan Hijriyah, kaum muslimin untuk pertama kalinyamelakukan ibadah shalat dengan terang-terangan dalam Ka’bah, sedangkan sebelum itu mereka melakukan shalat dengan sembunyi-sembunyi.[8]
Periode Madinah
Fase Madinah adalah fase realisasi ajaran Islam secara total dalam segala aspek kehidupan masyarakat. Karena itu, perjuangan Nabi di Madinah bersifat menyeluruh dalam upaya membangun masyarakat dalam segala  bidang dan di segala lapangan kehidupan dalam rangka memasyarakatkan ajaran islam dalam kehidupan ummat.
Dakwah Rasulullah SAW periode Madinah berlangsung selama sepuluh tahun, yakni dari semenjak tanggal 12 Rabiul Awal tahun pertama hijriah sampai dengan wafatnya Rasulullah SAW, tanggal 13 Rabiul Awal tahun ke-11 hijriah.
     Materi dakwah yang disampaikan Rasulullah SAW pada periode Madinah, selain ajaran Islam yang terkandung dalam 89 surat Makiyah dan Hadis periode Mekah, juga ajaran Islam yang terkandung dalm 25 surat Madaniyah dan hadis periode Madinah. Adapaun ajaran Islam periode Madinah, umumnya ajaran Islam tentang masalah sosial kemasyarakatan.
    Mengenai objek dakwah Rasulullah SAW pada periode Madinah adalah orang-orang yang sudah masuk Islam dari kalangan kaum Muhajirin dan Ansar. Juga orang-orang yang belum masuk Islam seperti kaum Yahudi penduduk Madinah, para penduduk di luar kota Madinah yang termasuk bangsa Arab dan tidak termasuk bangsa Arab.
     Dakwah Rasulullah SAW yang ditujukan kepada orang-orang yang sudah masuk Islam (umat Islam) bertujuan agar mereka mengetahui seluruh ajaran Islam baik yang diturunkan di Mekah ataupun yang diturunkan di Madinah, kemudian mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka betul-betul menjadi umat yang bertakwa. Selain itu, Rasulullah SAW dibantu oleh para sahabatnya melakukan usaha-usaha nyata agar terwujud persaudaraan sesama umat Islam dan terbentuk masyarakat madani di Madinah.
     Mengenai dakwah yang ditujukan kepada orang-orang yang belum masuk Islam bertujuan agar mereka bersedia menerima Islam sebagai agamanya, mempelajari ajaran-ajarannya dan mengamalkannya, sehingga mereka menjadi umat Islam yang senantiasa beriman dan beramal saleh, yang berbahagia di dunia serta sejahtera di akhirat.
    Tujuan dakwah Rasulullah SAW yang luhur dan cara penyampaiannya yang terpuji, menyebabkan umat manusia yang belum masuk Islam banyak yang masuk Islam dengan kemauan dan kesadarn sendiri. namun tidak sedikit pula orang-orang kafir yang tidak bersedia masuk Islam, bahkan mereka berusaha menghalang-halangi orang lain masuk Islam dan juga berusaha melenyapkan agama Islam dan umatnya dari muka bumi. Mereka itu seperti kaum kafir Quraisy penduduk Mekah, kaum Yahudi Madinah, dan sekutu-sekutu mereka.
Setelah ada izin dari Allah SWT untuk berperang, sebagaimana firman-Nya dalam surah Al-Hajj, 22:39 dan Al-Baqarah, 2:190, maka kemudian Rasulullah SAW dan para sahabatnya menyusun kekuatan untuk menghadapi peperangan dengan orang kafir yang tidak dapat dihindarkan lagi                    
   Peperangan-peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para pengikutnya itu tidaklah bertujuan untuk melakukan penjajahan atau meraih harta rampasan perang, tetapi bertujuan untuk:
1.      Membela diri, kehormatan, dan harta.
2.      Menjamin kelancaran dakwah, dan memberi kesempatan kepada mereka yang hendak menganutnya.
3.      Untuk memelihara umat Islam agar tidak dihancurkan oleh bala tentara Persia dan Romawi.
 Setelah Rasulullah SAW dan para pengikutnya mampu membangun suatu negara yang merdeka dan berdaulat, yang berpusat di Madinah, mereka berusaha menyiarkan dan memasyhurkan agama Islam, bukan saja terhadap para penduduk Jazirah Arabia, tetapi juga keluar Jazirah Arabia, maka bangsa Romawi dan Persia menjadi cemas dan khawatir kekuaan mereka akan tersaingi. Oleh karena itu, bangsa Romawi dan bangsa Persia bertekad untuk menumpas dan menghancurkan umat Islam dan agamanya. Untuk menghadapi tekad bangsa Romawi Persia tersebut, Rasulullah SAW dan para pengikutnya tidak tinggal diam sehingga terjadi peperangan antara umat Islam dan bangsa Romawi.[9]
B.     Strategi dakwah Rasulullah periode Makkah.
 Tujuan dakwah Rasulullah SAW pada periode Mekah adalah agar masyarakat Arab meninggalkan kejahiliyahannya di bidang agama, moral dan hukum, sehingga menjadi umat yang meyakini kebenaran kerasulan nabi Muhammad SAW dan ajaran Islam yang disampaikannya, kemudian mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Strategi dakwah Rasulullah SAW dalam berusaha mencapai tujuan yang luhur tersebut sebagai berikut:
1. Dakwah secara Sembunyi-sembunyi Selama 3-4 Tahun
Pada masa dakwah secara sembunyi-sembunyi ini, Rasulullah SAW menyeru untuk masuk Islam, orang-orang yang berada di lingkungan rumah tangganya sendiri dan kerabat serta sahabat dekatnya.
2. Dakwah secara terang-terangan
Dakwah secara terang-terangan ini dimulai sejak tahun ke-4 dari kenabian, yakni setelah turunnya wahyu yang berisi perintah Allah SWT agar dakwah itu dilaksanakan secara terang-terangan. Wahyu tersebut berupa ayat Al-Qur’an Surah 26: 214-216.
Tahap-tahap dakwah Rasulullah SAW secara terang-terangan ini antara lain sebaga berikut:
1.          Mengundang kaum kerabat keturunan dari Bani Hasyim, untuk menghadiri jamuan makan dan mengajak agar masuk Islam. Walau banyak yang belum menerima agama Islam, ada 3 orang kerabat dari kalangan Bani Hasyim yang sudah masuk Islam, tetapi merahasiakannya. Mereka adalah Ali bin Abu Thalib, Ja’far bin Abu Thalib, dan Zaid bin Haritsah.
2.          Rasulullah SAW mengumpulkan para penduduk kota Mekah, terutama yang berada dan bertempat tinggal di sekitar Ka’bah untuk berkumpul di Bukit Shafa.
3. Reaksi Kaum Kafir Quraisy terhadap Dakwah Rasulullah SAW
Prof. Dr. A. Shalaby dalam bukunya Sejarah Kebudayaan Islam, telah menjelaskan sebab-sebab kaum Quraisy menentang dakwah Rasulullah SAW, yakni:

1.      Kaum kafir Quraisy, terutama para bangsawannya sangat keberatan dengan ajaran persamaan hak dan kedudukan antara semua orang. Mereka mempertahankan tradisi hidup berkasta-kasta dalam masyarakat. Mereka juga ingin mempertahankan perbudakan, sedangkan ajaran Rasulullah SAW (Islam) melarangnya.
2.      Kaum kafir Quraisy menolak dengan keras ajaran Islam yang adanya kehidupan sesudah mati yakni hidup di alam kubur dan alam akhirat, karena mereka merasa takut dengan siksa kubur dan azab neraka.
3.      Kaum kafir Quraisy menolak ajaran Islam karena mereka merasa berat meninggalkan agama dan tradisi hidup bermasyarakat warisan leluhur mereka.
4.      Dan, kaum kafir Quraisy menentang keras dan berusaha menghentikan dakwah Rasulullah SAW karena Islam melarang menyembah berhala.

Usaha-usaha kaum kafir Quraisy untuk menolak dan menghentikan dakwah Rasulullah SAW bermacam-macam antara lain:
1.      Para budak yang telah masuk Islam, seperti: Bilal, Amr bin Fuhairah, Ummu Ubais an-Nahdiyah, dan anaknya al-Muammil dan Az-Zanirah, disiksa oleh para pemiliknya (kaum kafir Quraisy) di luar batas perikemanusiaan.
2.      Kaum kafir Quraisy mengusulkan pada Nabi Muhammad SAW agar permusuhan di antara mereka dihentikan. Caranya suatu saat kaum kafir Quraisy menganut Islam dan melaksanakan ajarannya. Di saat lain umat Islam menganut agama kamu kafir Quraisy dan melakukan penyembahan terhadap berhala.
Dalam menghadapi tantangan dari kaum kafir Quraisy, salah satunya Nabi Muhammad SAW menyuruh 16 orang sahabatnya, termasuk ke dalamnya Utsman bin Affan dan 4 orang wanita untuk berhijrah ke Habasyah (Ethiopia), karena Raja Negus di negeri itu memberikan jaminan keamanan. Peristiwa hijrah yang pertama ke Habasyah terjadi pada tahun 615 M.
Suatu saat keenam belas orang tersebut kembali ke Mekah, karena menduga keadaan di Mekah sudah normal dengan masuk Islamnya salah satu kaum kafir Quraisy, yaitu Umar bin Khattab. Namun, dugaan mereka meleset, karena ternyata Abu Jahal labih kejam lagi.
Akhirnya, Rasulullah SAW menyuruh sahabatnya kembali ke Habasyah yang kedua kalinya. Saat itu, dipimpin oleh Ja’far bin Abu Thalib.Pada tahun ke-10 dari kenabian (619 M) Abu Thalib, paman Rasulullah SAW dan pelindungnya wafat. Empat hari setelah itu istri Nabi Muhammad SAW juga telah wafat. Dalam sejarah Islam tahun wafatnya Abu Thalib dan Khadijah disebut ‘amul huzni (tahun duka cita).
C.    Strategi dakwah Rasulullah periode Madinah.
Pokok-pokok pikiran yang dijadikan strategi dakwah Rasulullah SAW periode Madinah adalah:
1.      Berdakwah dimulai dari diri sendiri, maksudnya sebelum mengajak orang lain meyakini kebenaran Islam dan mengamalkan ajarannya, maka terlebih dahulu orang yang berdakwah  itu harus meyakini kebenaran Islam dan mengamalkan ajarannya.
2.      Cara (metode) melaksanakan dakwah sesuai dengan petunjuk Allah SWT dalam Surah An-Nahl, 16: 12
3.      Berdakwah itu hukumnya wajib bagi Rasulullah SAW dan umatnya sesuai dengan petunjuk Allah SWT dalam Surah Ali Imran, 3: 10
4.      Berdakwah dilandasi dengan niat ikhlas karena Allah SWT semata, bukan dengan untuk memperoleh popularitas dan keuntungan yang bersifat materi.[10]
Usaha-usaha Rasulullah SAW dalam mewujudkan masyarakat Islam seperti tersebut adalah:
a.      Membangun Masjid
Masjid yang dibangun ketika Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah sangatlah sederhana, tetapi ia mempunya fungsi yang sangat penting dalam perjalanan dakwah islamiyah. Di Masjid inilah, Nabi memulai menyusun perencanaan dakwah, mengeluarkan komando dakwah dan sekaligus menggodok kader-kader dakwah. Dengan kata lain, masjid memainkan peran yang pentig dan strategis dalam upaya menyatukan umat serta menyusun kekuatan lahir batin umat Islam.[11]
b.      Mempersaudarakan Kaum Muhajirin dan Ansar
Muhajirin adalah para sahabat Rasulullah SAW penduduk Mekah yang berhijrah ke Madinah. Ansar adalah para sahabat Rasulullah SAW penduduk asli Madinah yang memberikan pertolongan kepada kaum Muhajirin.
Rasulullah SAW bermusyawarah dengan Abu Bakar r.a. dan Umar bin Khatab tentang mempersaudarakan antara Muhajirin dan Ansar, sehingga terwujud persatuan yang tangguh. Hasil musyawarah memutuskan agar setiap orang Muhajrin mencari dan mengangkat seorang dari kalangan Ansar menjadi saudaranya senasab (seketurunan), dengan niat ikhlas karena Allah SWT. Demikian juga sebaliknya orang Ansar.
Rasulullah SAW memberi contoh dengan mengajak Ali bin Abu Thalib sebagai saudaranya. Apa yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW dicontoh oleh seluruh sahabat misalnya:
- Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah SAW, pahlawan Islam yang pemberani bersaudara dengan Zaid bin Haritsah, mantan hamba sahaya, yang kemudian dijadikan anak angkat Rasulullah SAW
-Abu Bakar ash-Shiddiq, bersaudara dengan Kharizah bin Zaid
-Umar bin Khattab bersaudara denga Itban bin Malik al-Khazraji (Ansar)
-Abdurrahman bin Auf bersaudara dengan Sa’ad bin Rabi (Ansar)
 Demikianlah seterusnya setiap orang Muhajirin dan orang Ansar, termasuk Muhajirin setelah hijrahnya Rasulullah SAW, dipersaudarakan secara sepasang- sepasang, layaknya seperti saudara senasab.
c.       Mengadakan Perjanjian antar penduduk Madinah
Pada waktu Rasulullah SAW menetap di Madinah, penduduknya terdiri dari tiga golongan, yaitu umat Islam, umat Yahudi (Bani Qainuqa, Bani Nazir dan Bani Quraizah) dan orang-orang Arab yang belum masuk Islam.
Piagam ini mengandungi 32 fasal yang menyentuh segenap aspek kehidupan termasuk akidah, akhlak, kebajikan, undang-undang, kemasyarakatan, ekonomi dan lain-lain. Di dalamnya juga terkandung aspek khusus yang mesti dipatuhi oleh kaum Muslimin seperti tidak mensyirikkan Allah, tolong-menolong sesama mukmin, bertaqwa dan lain-lain. Selain itu, bagi kaum bukan Islam, mereka mestilah berkelakuan baik bagi melayakkan mereka dilindungi oleh kerajaan Islam Madinah serta membayar cukai.
Piagam ini mestilah dipatuhi oleh semua penduduk Madinah sama ada Islam atau bukan Islam. Strategi ini telah menjadikan Madinah sebagai model Negara Islam yang adil, membangun serta digeruni oleh musuh-musuh Islam.
Rasulullah SAW membuat perjanjian dengan penduduk Madinah non-Islam dan tertuang dalam Piagam Madinah. Piagam Madinah itu antara lain:
1.   Setiap golongan dari ketiga golongan penduduk Madinah memiliki hak pribadi, keagamaan dan politik. Sehubungan dengan itu setiap golongan penduduk Madinah berhak menjatuhkan hukuman kepada orang yang membuat kerusakan dan memberi keamanan kepada orang yang mematuhi peraturan
2.   Setiap individu penduduk Madinah mendapat jaminan kebebasan beragama
3.  Seluruh penduduk kota Madinah yang terdiri dari kaum Muslimin, kaum Yahudi dan orang-orang Arab yang belum masuk Islam sesama mereka hendaknya saling membantu dalam bidang moril dan materiil. Apabila Madinah diserang musuh, maka seluruh penduduk Madinah harus bantu-membantu dalam mempertahankan kota Madinah
4.   Rasulullah SAW adalah pemimpin seluruh penduduk Madinah. Segala perkara dan perselisihan besar yang terjadi di Madinah harus diajukan kepada Rasulullah SAW untuk diadili sebagaimana mestinya
d.      Meletakkan Dasar-dasar Politik, Ekonomi, dan Sosial yang Islami demi Terwujudnya Masyarakat Madani
Pada masa Rasulullah, penduduk Madinah mayoritas sudah beragama Islam, sehingga masyarakat Islam sudah terbentuk, maka adanya pemerintahan Islam merupakan keharusan. Rasulullah SAW selain sebagai seorang nabi dan rasul, juga tampil sebagai seorang kepala negara (khalifah).
Sebagai kepala negara, Rasulullah SAW telah meletakkan dasar bagi setiap sistem politik Islam, yakni musyawarah dan membuat peraturan-peraturanyang harus ditaati oleh seluruh rakyatnya. Dengan syarat, peraturan-peraturan itu tidak menyimpang dari tuntutan Al-Qur’an dan Hadis.[12]
BAB III
Penutup
A.    Kesimpulan
Dakwah Rasulullah SAW dimulai sejak turunnya wahyu ke dua yaitu QS. Al-Mudatsir ayat 1-7.Pendukung pertama perjuangan Nabi Muhammad SAW adalah keluarganya sendiri. Perjalanan dakwah Rasulullah SAW dibagi menjadi dua periode yaitu periode Makkah dan periode Madinah.sementara Periode Madinah disebut ’’periode pembinaan kerajaan Allah Swt, dalam masyarakat manusia.”
Dakwah Rasulullah pada Periode Makkah disebut juga ’’periode pembinaan kerajaan Allah Swt, dalam hati manusia ’’. Menurut ahli sejarah Amin Said, bahwa dakwah zaman Makkah dibagi kepada empat periode, yaitu:Periode Rumah Tangga, keluarga,Konfrontasi, dan Kekuatan. Strategi dakwah Rasulullah SAW pada periode ini, Dakwah dilakukan dengan sembunyi-sembunyi yaitu kepad keluarganya dan kerabat nya sendiri, Serta dakwah secara terang-terangan yang dilakukan kepada masyarakat sekitar.
Dakwah Rasulullah Pada perode Madinah disebut ’’periode pembinaan kerajaan Allah Swt, dalam masyarakat manusia”. Periode Madinah adalah Periode realisasi ajaran Islam secara total dalam segala aspek kehidupan masyarakat. Karena itu, perjuangan Nabi di Madinah bersifat menyeluruh dalam upaya membangun masyarakat dalam segala  bidang dan di segala lapangan kehidupan dalam rangka memasyarakatkan ajaran Islam dalam kehidupan ummat. Strategi-strategi yang dilakukan pada dakwah Rasulullah pada periode Madinah adalh sebagai berikut: Membangun Masjid, Mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum Ansar, Mengadakan Perjanjian antar penduduk Madinah, Serta d.     Meletakkan Dasar-dasar Politik, Ekonomi, dan Sosial yang Islami demi Terwujudnya Masyarakat Madani.










B.     Daftar Pustaka
Abdul Karim, M. 2007. Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam. Yogyakarta. Pustaka Book Publisher.
Wafiyah., dan Awaludin Pimay. 2005.Sejarah Dakwah. Semarang. RaSAIL.
Departemen Agama. 1998. . Al-Qur’an dan Terjemahnya. Semarang. Toha Putra Semarang
http://kpi-pekalongan.blogspot.co.id/2014/03/dakwah-pada-masa-rasulullah-saw-periode.html diakses pada tanggal 11 november 2015
http://wilyhikaru22.blogspot.co.id/2013/05/sejarah-dakwah-rasulullah-saw-periode.html di akses pada tanggal 11 november 2015




[1]M.Abdul Karim, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, (Yogyakarta; Pustaka Book Publisher, 2007), hlm.63
[2]Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Semarang; PT. Karya Toha Putra Semarang, 1998), hlm.1271
[3]Wafiyah dan Awaludin Pimay, Sejarah Dakwah, (Semarang; RaSAIL, 2005), hlm 67-68
[4]M Abdul Karim... hlm 63
[5]Wafiyah dan Awaludin Pimay... hlm 71
[6]Departemen Agama... hlm 1189
[7]Wafiyah dan Awaludin Pimay... hlm 72-73
[11]Wafiyah dan Awaludin Pimay... hlm 97
[12]http://wilyhikaru22.blogspot.co.id/2013/05/sejarah-dakwah-rasulullah-saw-periode.html di akses pada tanggal 11 november 2015

Comments

Popular posts from this blog

Makalah I Teknik Analisis Gender model harvard

Makalah "Pembuatan Keputusan" mata kuliah Pengantar Manajemen

MAKALAH I Tokoh Sosiologi Emile Durkheim