MAKALAH I Materi Dakwah &Problematika Di Masyarakat



M A K A L A H
Materi Dakwah &Problematika Di Masyarakat
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas matakuliah
Ilmu Dakwah

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang.
Dakwah bukan hanya mengajak dan berbicara tetapi juga mengontrol atau mengevaluasi hasil dakwah juga merupakan hal yang penting dari tujuan dakwah itu sendiri.
Dalam situasi masyarakat dengan berbagai masalah ekonomi, pendidikan, permasalahan sosial dll, dakwah perlu digerakkan sebagi membimbing untuk menuntaskan permasalahan tersebut. Oleh karena itu, setiap individu muslim  perlu berganding bahu untuk sama-sama melaksanakan usaha dakwah, menyampaikan ajaran Islam serta memberi penyadaran mengenai permasalahan-permasalahan yang ada pada masyarakat dan mewujudkan masyarakat muslim yang sejahtera.
Problematika di masyarakat dapat diartikan sebagai permasalah-permasalahan yang ada di masyarakat. Misalnya permasalahan dalam kemiskinan, kebodohan, konflik antar kelompok, kesehatan dll. Pada makalah ini kita akan membahas tentang peran dakwah dalam mengatasi problematika di masyarakat berupa kemiskinan.

B.     Rumusan Masalah.

1.      Apa Pengertian dari Materi Dakwah ?
2.      Apa Pengertian Problematika di masyarakat ?
3.      Bagaimana peran dakwah dalam problematika di masyarakat berupa kemiskinan ?




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Materi Dakwah
Islam adalah agama dakwah, yaitu agama yang menugaskan umatnya untuk menyebarkan dan menyiarkan islam kepada seluruh umat manusia sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Kemajuan  iptek  telah  membawa  banyak  perubahan  bagi masyarakat,  baik  cara  berfikir,  sikap,  maupun  tingkah  laku.  Segala persoalan  kemasyarakatan  yang  bermacam-macam yang dihadapi  oleh  umat  manusia  adalah  merupakan  masalah  yang  harus dihadapi dan diatasi oleh para pendukung dan pelaksana dakwah.[1]
Karena tujuan utama dakwah adalah untuk mengajak mad’u (obyek dakwah)  kejalan  yang  benar  yang  diridhai  Allah.  Maka  materi  dakwah harus bersumber dari sumber pokok ajaran Islam, yakni al-Qur’an dan al-Hadist.  Namun  karena  luasnya  materi  dari  kedua  sumber  tersebut,  maka perlu adanya pembatasan yang disesuaikan dengan kondisi mad’u.[2]
Maddah  atau  materi  dakwah  adalah  isi  pesan  atau  materi  yang disampaikan da’i kepada  mad’u. Sumber utamanya adalah al-Qur’an danal-Hadits  yang  meliputi  aqidah,  syari’ah,  muamalah,  dan  akhlaq  dengan berbagai macam cabang ilmu yang diperoleh darinya.
Materi  yang  disampaikan  oleh  seorang  da’i  harus  cocok  dengan bidang  keahliannya,  juga  harus  cocok  dengan  metode  dan  media  serta objek dakwahnya. Dalam hal ini, yang menjadi  maddah  (materi) dakwah adalah ajaran Islam itu sendiri.[3]

B.     Peran dakwah dalam mengatasi problematika di masyarakat berupa kemiskinan
Problematika berasal dari kata problem yang artinya soal, masalah, perkara sulit, persoalan. Problematika sendiri secara leksikal mempunyai arti: berbagai problem.[4]Masyarakat adalah pergaulan hidup manusia (himpunan orang yang hidup bersama di suatu tempat dengan ikatan-ikatan aturan tertentu).[5]
Dari pemaparan di atas problematika di masyarakat dapat diartikan sebagai permasalah-permasalahan yang ada di masyarakat. Misalnya permasalahan dalam kemiskinan.
Berkaitan dengan permasalahan tersebut perlu diadakan gerakan dakwah dalam menuntaskan permasalahan tersebut.
kemiskinan adalah suatu ketidak berdayaan seseorang dalam mencukupi kebutuhannya sehari-hari, seperti sandang, pangan, papan, elektronik dan kesehatan. Dikarenakan faktor-faktor tertentu, sehingga ia berada dalam keterbatasan dan kekurangan.[6]
·         Ciri-ciri Kemiskinan
Hadi Prayitno dan Lincoln Arsyad menyebutkan ada lima ciri-ciri kemiskinan yaitu:
a)      Mereka yang hidup di bawah kemiskinan pada umumnya tidak memiliki faktor produksi sendiri, seperti tanah, modal ataupun keterampilan yang cukup.
b)      Mereka pada umumnya tidak mempunyai kemungkinan untuk memperoleh aset produksi dengan kekuatan sendiri.
c)      Tingkat pendidikan mereka pada umumnya rendah bahkan tidak sampai tamat SD.
d)     Banyak diantara mereka tidak mempunyai lahan, kalaupun ada relative kecil, dan pada umumnya hanya mereka sebagai buruh tani atau pekerja kasar di luar pertanian.
e)       Banyak diantara mereka yang hidup di kota masih berusia muda dan tidak mempunyai keterampilan (skill) atau pendidikan, sedangkan kota ternyata tidak siap menanggung gerak organisasi.

·         Problematika Kemiskinan
`           Menurut Abu Ahmadi dalam bukunya Ilmu Sosial Dasar kemiskinan dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:
a)  Pendidikan yang terlampau rendah
b)  Malasnya bekerja
c)  Keterbatasan sumber alam
d)  Terbatasnya lapangan kerja
e)  Keterbatasan modal
f)   Beban atau tuntutan keluarga
g)  Faktor lain: Keluarga (Orang tuanya miskin), Pendidikan rendah, dan Faktor lingkungan yang tidak mendukung
Menurut Gregorius Sahdan Kemiskinan dipengaruhi oleh:
1.      Pengaruh faktor pendidikan yang rendah:
2.       Ketimpangan kepemilikan lahan dan modal pertanian;
3.       Ketidakmerataan investasi di sektor pertanian;
4.       Alokasi anggaran kredit yang terbatas;
5.       Terbatasnya ketersediaan bahan kebutuhan dasar;
6.       Kebijakan pembangunan perkotaan (mendorong orang desa ke kota);
7.       Pengelolaan ekonomi yang masih menggunakan cara tradisional;
8.       Rendahnya produktivitas dan pembentukan modal;
9.      Budaya menabung yang belum berkembang di kalangan masyarakat desa;
10.  Tata pemerintahan yang buruk (bad governance) yang umumnya masih berkembang   di daerah pedesaan;
11.  Tidak adanya jaminan sosial untuk bertahan hidup dan untuk menjaga kelangsungan hidup masyarakat desa;
12.  Rendahnya jaminan kesehatan. [7]

Menurut  KH. MA Sahal Mahfudz. Dalam mengatasi kemiskinan, dakwah setidaknya bisa ditempuh melalui dua jalan. Pertama, memberi motivasi kepada kaum muslimin yang mampu untuk menumbuhkan solidaritas sosial. Akhir-akhir ini, di kalangan umat Islam, ada kecenderungan solidaritas sosial menurun. Kedua, yang paling mendasar dan mendesak adalah dakwah dalam bentuk aksi-aksi nyata dan program-program yang langsung menyentuh kebutahan. Ini sering disebut orang dengan dakwah bil hal.
Dakwah dalam bentuk yang kedua ini, sebenarnya sudah banyak dilaksanakan kelompok-kelompok Islam, namun masih sporadis dan tidak dilembagakan, sehingga menimbulkan efek kurang baik, misalnya dalam mengumpulkan dan membagikan zakat. Akibatnya lalu, fakir miskin yang menerima zakat cenderung menjadi orang yang thama’ (dependen). Itu hanya karena teknis pembagian zakat yang tidak dikelola dengan baik. Dalam hal ini ada beberapa pesantren yang sudah mencoba melembagakan atau mengatasi masalah itu.
Pendekatan untuk mengatasi masalah kemiskinan ini seperti disebutkan di atas adalah pendekatan basic need approach (pendekatan kebutuhan dasar). Tentu saja dalam hal ini tidak bisa dilaksanakan dengan menggeneralisasi. Kita harus membagi masyarakat miskin menjadi beberapa kelompok dengan melihat kenyataan yang berkembang dalam lingkungan masyarakat miskin itu sendiri. Apa kekurangan mereka? Apa yang menyebabkan mereka miskin? Bisa jadi mereka miskin karena kebodohan atau keterbelakangan. Dalam hal ini kita harus berusaha agar mereka dapat maju, tidak bodoh lagi. Bisa juga karena kurangnya sarana, sehingga mereka menjadi miskin atau bodoh. Untuk mengatasinya, adalah dengan cara melengkapi sarana tersebut.
Mereka tidak hanya cukup dengan diberi modal, tetapi mereka juga harus diberi keterampilan. Inilah yang saya maksudkan dengan pendekatan itu. Masalah yang dihadapinya, keterbelakangan atau kebodohan harus diatasi dengan memberikan keterampilan, dan baru kemudian modal. Ini juga belum bisa meyakinkan sepenuhnya, sepanjang belum ada uji coba.
Kadang-kadang, masyarakat miskin di kampung lebih menyukai hal yang paling praktis, maunya mencukupi tapi juga mudah dan praktis. Untuk itu di samping kita memberi keterampilan dan modal, kita harus meyakinkan atau memberikan motivasi hingga fakir miskin itu memiliki kemauan berusaha dan tidak hanya menanti dan boros.[8]









BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Islam adalah agama dakwah, yaitu agama yang menugaskan umatnya untuk menyebarkan dan menyiarkan islam kepada seluruh umat manusia sebagai rahmat bagi seluruh alam.Problematika berasal dari kata problem yang artinya soal, masalah, perkara sulit, persoalan.Dari pemaparan di atas problematika di masyarakat dapat diartikan sebagai permasalah-permasalahan yang ada di masyarakat. Misalnya permasalahan dalam kemiskinan. kemiskinan adalah suatu ketidak berdayaan seseorang dalam mencukupi kebutuhannya sehari-hari, seperti sandang, pangan, papan, elektronik dan kesehatan. Dikarenakan faktor-faktor tertentu, sehingga ia berada dalam keterbatasan dan kekurangan. Dalam mengatasi kemiskinan, dakwah setidaknya bisa ditempuh melalui dua jalan. Pertama, memberi motivasi kepada kaum muslimin yang mampu untuk menumbuhkan solidaritas sosial. Akhir-akhir ini, di kalangan umat Islam, ada kecenderungan solidaritas sosial menurun. Kedua, yang paling mendasar dan mendesak adalah dakwah dalam bentuk aksi-aksi nyata dan program-program yang langsung menyentuh kebutahan. Ini sering disebut orang dengan dakwah bil hal.













B.     Daftar Pustaka

Shaleh Rosyad. 1977. Manajemen Dakwah Islam. Jakarta. Bulan Bintang.

Triatmo Agus Wahyu, dkk. 2001. Dakwah Islam Antara Normatif dan
Kontektual. Semarang. Fakda IAIN Walisongo.

Yusuf, M Yunan. 2006. Manajemen Dakwah. Jakarta. Kencana.

Partanto Pius A, dkk. 1994. Kamus Ilmiah Populer. Surabaya. Arkola.

Poerwadarminta, W.J.S . 1991. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta. Balai Pustaka

http://iesnasikreator.blogspot.co.id/2012/03/dakwah-dalam-mengatasi-kemiskinan.html di akses pada tanggal 6 Januari 2016

http://jombang.nu.or.id/dakwah-untuk-kaum-dluafa/ Di akses pada tanggal 6 januari 2016


[1] Abd. Rosyad Shaleh. Manajemen Dakwah Islam (Jakarta : Bulan Bintang, 1977), hlm;1
[2] Agus Wahyu Triatmo, dkk, Dakwah Islam Antara Normatif dan Kontektual, (Semarang:
Fakda IAIN Walisongo, 2001), hlm;13
[3]H.M. Yunan Yusuf, Manajemen Dakwah, (Jakarta: Kencana, 2006), hlm;26
[4]Pius A Partanto dkk, Kamus Ilmiah Popular. (Surabaya: Arkola, 1994), hlm; 626.
[5]W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1991), hlm;636.
[8]http://jombang.nu.or.id/dakwah-untuk-kaum-dluafa/ Di akses pada tanggal 6 januari 2016

Comments

Popular posts from this blog

Makalah I Teknik Analisis Gender model harvard

Makalah "Pembuatan Keputusan" mata kuliah Pengantar Manajemen

MAKALAH I Tokoh Sosiologi Emile Durkheim