MAKALAH I Penataan & Pemetaan Dakwah



M A K A L A H
Penataan & Pemetaan Dakwah
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas matakuliah
Ilmu Dakwah II

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dakwah amar ma’ruf nahi mungkar secara praktis telah berlangsung sejak adanya interaksi antara Allah dengan hambaNya (periode Nabi Adam AS), dan akan berakhir bersamaan dengan berakhirnya kehidupan di dunia ini. Da'wah Islam sebagai wujud menyeru dan membawa umat manusia ke jalan Allah pada dasarnya harus dimulai dari orang-orang Islam sebagai pelaku da'wah itu sendiri (ibda binafsika) sebelum berda’wah kepada orang/pihak lain sesuai dengan seruan Allah: “Hai orang-orang yang beriman,peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa neraka....’’(surat a Tahrim/66:6. Upaya mewujudkan Islam dalam kehidupan dilakukan melalui da'wah dengan cara mengajak kepada kebaikan (amar ma’ruf), mencegah kemunkaran (nahyu munkar), dan mengajak untuk beriman (tu'minuna billah) guna terwujudnya umat yang sebaik baiknya atau khairuummah (Q.S. Ali Imran/3: 104).
Dakwah Islam di Tanah Air tidak memiliki penataan dan pemetaan yang jelas dan sistematis. Akibatnya, laju dakwah berjalan tidak maksimal. Maka penataan dan pemetaan dakwah perlu untuk dijadikan acuan bersama untuk memaksimalkan potensi dakwah.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana penataan dakwah ?
2.      Bagaimana pemetaan dakwah ?
3.      Bagaimana hubungan penataan dan pemetaan dakwah ?







BAB II
PEMBAHASAN
A.        Penataan Dakwah
Islam adalah agama dakwah, artinya agama yang selalu mendorong pemeluknya untuk senantiasa aktif melakukan kegiatan dakwah. Kemajuan dan kemunduruan umat Islam, sangat berkaitan erat dengan kegiatan dakwah yang dilakukannya. Karena itu, Al-qur’an menyebut kegiatan dakwah dengan ahsanul qaula, ucapan dan perbuatan yang paling baik (Fushilat: 33). Predikat khaira ummah, umat yang paling baik dan umat pilihan, hanyalah diberikan Allah SWT kepada kelompok umat yang aktif terlibat pasti diberikan kepada siapa saja yang patut mendapatkannya, yaitu mereka yang dalam posisi, jabatan, pekerjaan, dan keahlian apapun selalu menegakkan shalat, mengeluarkan infak, zakat, dan aktif melakukan kegiatan  amar ma’ruf nahi mukar / dakwah (al-Hajj: 40-41). [1]
Mengingat fungsi dan peran dakwah yang demikian penting dan menentukan, maka pengertian dakwah dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya, harus dipahami secara tepat dan benar, sejalan dengan ketentuan Al-Qur’an, sunnah rasul, dan sirah nabawiyah yang berisikan petunjuk bagaimana dakwah itu dilakukan, sehingga menghasilkan pribadi-pribadi yang istiqamah dan tangguh; dan melahirkan tatanan kehidupan masyarakat.
Dalam pengertiaan yang intergralistik, dakwah merupakan suatu proses yang berkesinambungan yang ditangani oleh para pengemban dakwah untuk mengubah sasaran dakwah agar bersedia masuk ke jalan Allah, dan secara bertahap menuju kehidupan yang islami. Suatu proses yang bukan kebetulan, melainkan benar- benar di rencanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi secara terus-menerus oleh para pengemban dakwah dalam rangka mengubah perilaku sasaran dakwah yang telah dirumuskan. (H.Roosdi A.S., 1992:1).
Sudah bukan waktunya lagi, dakwah dilakukan dengan asal jalan, tanpa ada sebuah perencanaan yang matang, baik yang menyangkut materinya, tenaga pelaksana, ataupun motede yang dipergunakannya. Memang benar, sudah menjadi sunnatullah bahwa hak akan menghancurkan yang batil (al-Isra’:81), tetapi sunnatullah ini berkaitan pula dengan sunnatullah yang lain, yaitu bahwasanya Allah sangat mencintai dan meridhai kebenaran yang diperjuangkan adalah sebuah barisan yang rapi dan teratur (ash-Shaff: 4).[2]
Tujuan dakwah secara umum adalah mengubah perilaku sasaran dakwah agar mau menerima ajaran Islam dan mengamalkannya dalam kenyataan kehidupan sehari-hari, baik yang bersangkutan dengan masalah pribadi, keluarga, maupun sosial kemasyarakatannya, agar terdapat kehidupan yang penuh dengan keberkahan samawi dan keberkahan ardhi (al-A’raf: 96) mendapat kebaikan dunia maupun akhirat.[3]
Dalam cara struktural sangat berkaitan dengan kebutuhan dan semakin luasnya dakwah memasuki wilayah-wilayah baru yang semakin kompleks. Karenanya upaya perapihan struktur dakwah dan sinergisitas sayap-sayap dakwah akan memudahkan dalam merespon kebutuhan dakwah dilapangan serta proses evaluasinya, tentunya jalur konsolidasi dan koordinasi telah terbangun rapih pula. Yang pada akhirnya akan membuat dakwah semakin terbuka, dalam hal ini profesionalisme dan akuntabilitas wajihah dakwah menjadi tolak ukurnya.
Penataan dakwah secara personal, menjadi bagian yang sering diakhirkan dalam pembahasan dakwah. Padahal sesungguhnya solid structural senantiasa bersisikan solid personal. Layaknya bangunan, ketika salah satu komponen bangunan itu tidak terkondisikan dengan baik maka boleh jadi rusaklah bangunan tersebut. Proyeksi kader dakwah secara tepat berdasarkan kompetensi menjadi bagian darinya. Penataan dakwah secara personal ini akan menghasilkan sebuah kapasitas dan keikhlasan dalam ber-‘amal jama’i yang dinamis. Dengan ber’amal jama’i, maka menjadi kokohlah bangunan dakwah.
Agar dakwah bisa dilakukan dengan secara efesien, efektif, dan sesuai dengan kebutuhan, maka sudah waktunya dibuat dan disusun stratifikasi sasaran. Mungkin berdasarkan tingkat usia; tingkat pendidikan dan pengetahuan; tingkat sosial ekonomi dan pekerjaan; berdasarkan tempat tinggal, dan lain sebagainya. Salah satu arti hikamah (an-Nahl: 125) adalah kemampuan untuk mengenal golongan dan kondisi sasaran dakwah, bahkan secara tegas Rasulullah saw.menyatakan bahwasanya “kami diperintahkan untuk menyampaikan ajaran Islan sesusai dengan kemampuan akal manusia”.

B.     Pemetaan Dakwah
Peta dakwah adalah suatu gambaran sistematik dan terinci tentang subyek, obyek, dan lingkungan dakwah pada satuan unit daerah. Satuan unitnya dapat meliputi tingkat RT, RW, kelurahan/desa, kecamatan, kabupaten, bahkan propinsi. Luas dan besarnya satuan unit yang akan diambil sangat tergantung kepada kebutuhan akan data serta dana dan tenaga yang tersedia. Sebaiknya dikoordinasi dan dilakukan secara kelembagaan.[4]
·         Tahapan Penyusunan Peta Dakwah
Kegiatan penyusunan peta dakwah dilakukan melalui berbagai langkah yaitu:[5]
1. Persiapan
a)      Menyusun desain penelitian, minimal tentang tujuan, variabel, cara penelitian (pendekatan, lokasi dan subyek, teknik pengumpulan data, analisis data).
b)      Pengorganisasian penelitian dan kerja sama.
c)      Penyusunan instrumen (angket, pedoman wawancara, daftar pengecekan/check list, skala penilaian bertingkat (rating scala).
2. Pengumpulan data
Hal ini disesuaikan dengan tujuan atau komponen dakwah yang akan dipetakan, apakah komponen subyek dakwah, obyek dakwah atau lingkungan dakwah, atau keseluruhannya. Juga batasan wilayah yang akan dicakup. Dalam pengumpulan data menggunakan instrument:[6]
a.       Jumlah (keseluruhan, paham agamanya, daftar nama, usia, tingkat pendidikan, pekerjaan dan topik ceramahnya)
b.      Bidang garap /kegiatan penyiaran lisan dan non lisan
c.       Pengaruhnya dalam masyarakat (tingkat dusun, desa, dst)
d.      Wilayah garapannya
e.       Pemahaman tentang kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi umatnya (kebutuhan dan permasalahan mendesak, sehari-hari), tantangan dakwah (yang mendesak kini dan yang akan datang)
f.       Hubungan antar subyek atau penyiar agama (pertemuan , frekuensi, waktu, tempat, dan tujuannya)
g.      Hubungan subyek atau penyiar agama dengan umatnya (pertemuan, frekuensi, waktu, tempat, dan tujuannya)
3. Proses Data
Dilakukan dengan dua cara yaitu manual dan atau cara komputerisasi. Cara manual misalnya pembuatan tabel dan grafik. Sedangkan komputerisasi dengan menggunakan program khusus,[7] misalnya Microsoft Office Excel.
4. Lingkungan Dakwah[8]
a.       Geografis (batas, luas, keadaan tanah, air, ketinggian, dsb)
b.      Demografis (jumlah penduduk, penganut agama, tingkat kepadatan, dan distribusi tiap wilayah, persebaran penganut agama berdasarkan lokasi)
c.       Tempat ibadah (agama Islam dan agama lain, proporsi jumlah tempat ibadah dengan jumlah penganut agama, dan jumlah orang yang beribadah di tempat ibadah)
d.      Budaya lokal yang berkembang (kebiasaan, nilai-nilai, upacara, kesenian)
e.       Budaya yang sesuai dan yang tidak sesuai dengan prinsip Islam.
f.       Budaya lokal yang dapat dimanfaatkan sebagai media dakwah
g.      Budaya luar yang berkembang (cara berpakaian, pola konsumtif, dsb)
h.      Kondisi Pendidikan Sekolah
i.        Agama lain dan kegiatannya (nama lembaga dan tokohnya, bidang kegiatan, cara, frekuensi, sasaran).
5. Membuat Pemetaan (Peta Dakwah)
Salah satu usaha untuk mengetahui materi dan metode dakwah yang dibutuhkan oleh kelompok masyarakat tertentu adalah melalui penyusunan peta dakwah. Peta dakwah adalah gambaran (deskriptif) menyeluruh tentang berbagai komponen yang terlibat dalam proses dakwah.
Adapun komponen pokok yang akan dimuat dalam peta dakwah ini, yaitu adalah sebagai berikut :
a.       komponen yang berkaitan dengan keadaan umat Islam sebagai sasaran dakwah
b.      komponen yang berkaitan dengan proses yang berkiatan dengan pelaksanaan dakwah
c.       komponen yang terkait dengan keadaan umat Islam
d.      komponen yang terkait dengan proses pelaksanaan dakwah
Dinamisasi kehidupan masyarakat sebagai sarana dakwah dewasa ini semakin kompleks dan menuntut perlunya perubahan paradigma strategi dakwah Islam. Strategi dakwah Islam yang diyakini dapat menjawab tantangan zaman tersebut, meliputi: peningkatan sumberdaya dai, pemanfaatan teknologi modern sebagai media dakwah, penerapan metode dakwah fardhiyah dan dakwah kultural, monitoring dan evaluasi dakwah, serta penyusunan peta dakwah.[9]
C.    Hubungan Perencanaan dan Pemetaan Dakwah
Sebuah perencanaan dakwah tidak akan mengenai sasaran jika tanpadilandaskan kepada data (bank data) yang benar. Data yang benar hanya dapat diperoleh dari sebuah penelitian. Penelitian dakwah akan menghasilkan bank data yang kemudian dituangkan dalam peta dakwah. Data yang ada dalam peta dakwah dijadikan landasan untuk menyusun perencanaan dakwah.[10]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Penataan dakwah secara personal, menjadi bagian yang sering diakhirkan dalam pembahasan dakwah. Padahal sesungguhnya solid structural senantiasa bersisikan solid personal. Layaknya bangunan, ketika salah satu komponen bangunan itu tidak terkondisikan dengan baik maka boleh jadi rusaklah bangunan tersebut. Proyeksi kader dakwah secara tepat berdasarkan kompetensi menjadi bagian darinya. Penataan dakwah secara personal ini akan menghasilkan sebuah kapasitas dan keikhlasan dalam ber-‘amal jama’i yang dinamis. Dengan ber’amal jama’i, maka menjadi kokohlah bangunan dakwah.
Pemetaan dakwah adalah suatu gambaran sistematik dan terinci tentang subyek, obyek, dan lingkungan dakwah pada satuan unit daerah. Satuan unitnya dapat meliputi tingkat RT, RW, kelurahan/desa, kecamatan, kabupaten, bahkan propinsi. Luas dan besarnya satuan unit yang akan diambil sangat tergantung kepada kebutuhan akan data serta dana dan tenaga yang tersedia. Sebaiknya dikoordinasi dan dilakukan secara kelembagaan.
Sebuah perencanaan dakwah tidak akan mengenai sasaran jika tanpadilandaskan kepada data (bank data) yang benar. Data yang benar hanya dapat diperoleh dari sebuah penelitian. Penelitian dakwah akan menghasilkan bank data yang kemudian dituangkan dalam peta dakwah. Data yang ada dalam peta dakwah dijadikan landasan untuk menyusun perencanaan dakwah






B. Daftar Pustaka
Hafidhuddin, Didin. 1998. Dakwah Kultural. Jakarta. Gema Insani Press
Ismail, Nawari. Penyusunan Peta Dakwah. www.scribd.com/doc/34924327/PENYUSUNAN-PETA-DAKWAH.
Sieben Seven, ILMU DAKWAH. www.destroisback.blogspot.co.id/2014/06/ilmu-dakwah-1.html



[1]Didin Hafidhuddin, dakwah kultural,(Jakarta; gema insani press, 1998), hlm. 76
[2] Ibid, hlm. 77
[3] Ibid, hlm.78
[4]Nawari Ismail, Penyusunan Peta Dakwah, www.scribd.com/doc/34924327/PENYUSUNAN-PETA-DAKWAH. hlm: 1
[5] Ibid... hlm:1
[6] Ibid... hlm:1
[7] Ibid... hlm: 2
[10]NawariIsmail... hlm :1

Comments

Popular posts from this blog

Makalah I Teknik Analisis Gender model harvard

Makalah "Pembuatan Keputusan" mata kuliah Pengantar Manajemen

MAKALAH I Tokoh Sosiologi Emile Durkheim