MAKALAH I Psikologi Sosial - Perilaku Prososial
M A K A
L A H
Perilaku Prososial
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas matakuliah
PsikologiSosial
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Perilaku prososial merupakan perilaku sosial positif
yang menguntungkan atau membuat lebih baik pada kondisi fisik atau psikis orang
lain, dilakukan secara ikhlas atau sukarela tanpa mengharapkan keuntungan dari
perbuatannya. Perilaku ini meliputi menolong, membantu, membagi, dan
menyumbang.
Perilaku prososial variasinya sangat beragam, mulai
dari yang paling simple seperti sekedar memberi perhatian, hingga yang paling
besar seperti mengorbankan diri demi orang lain. Hal ini menunjukkan bahawa
perilaku prososial berbeda-beda, ada yang tinggi dan rendah.
Semakin
kita rasakan, berkurangnya orang yang melakukan perilaku prosisal, entah karena
faktor modernisasi atau arus globalisasi. Tetapi, ini harus menjadi perhatian
utama bagi kita sebagai pemerhati sosial dan masyarakat, agar senantiasa
melestarikan dan melakukan perilaku prososial.
Dalam proses melakukan perilaku prososial, orang harus
mengidentifikasi bahwa ada orang lain yang membutuhkan bantuan.
B. Rumusan Masalah
1.
Bagaimana definisi dan perspektif teoritisperilaku
prososial ?
2.
Bagaimana bentuk dan ciri perilaku prososial ?
3.
Bagaimana faktor-faktor yang mendasari dan
mempengaruhi perilaku prososial ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi dan Perspektif teoritisPerilaku Prososial
Menurut Baron dan
Byrne (1994) perilaku prososial adalah perilaku yang menguntungkan orang lain
yang dilakukan secara sukarela dan tanpa keuntungan yang nyata bagi orang yang memberikan
bantuan.
Wispe (Wrightman dan
Deaux, 1981), mengungkapkan bahwa perilaku prososial adalah perilaku yang
mempunyai akibat yang positif, yang berupa pemberian bantuan pada orang lain
baik secara fisik maupun psikologis, seperti senang membantu, keterlibatan
dengan orang lain, kerjasama, persahabatan, menolong, dan kedermawanan.[1]
Dari dua tokoh diatas
dapat disimpulkan bahwa perilaku prososial adalah perilaku yang dilakukan untuk
orang lain secara sukarela yang berupa pemberian bantuan secara fisik maupun
psikologis, seperti senang membantu, keterlibatan dengan orang lain, kerjasama,
persahabatan, menolong, memperhatikan orang lain dan kedermawanan.
Dalam pemahamankita tentang perilaku prososial berasal dari beberapa
perspektif teoritis yang luas. Adapun teori teori yang berkenaan dengan
prososial diantaranya sebagai berikut:
1.
Teori
Behaviorisme
Kaum behavioris mengemukakan alasan manusia memiliki jiwa penolong karena
seseorang diajarkan oleh lingkungan (masyarakat) untuk menolong dan untuk perbuatan
itu masyarakat menyediakan ganjaran positif, sehingga hal ini memaksakan
pentingnya untuk proses belajar. Dalam masa perkembangan anak mempelajari norma
masyarakat tentang tindakan menolongdirumah, disekolah dan di lingkungan
masyarakat.Mengajarakan pada anak bahwa mereka harus menolong orang lain.[2]
2.
Teori
Pertukaran Sosial (Social Exchange Theory)
Dalam perkembangannya
yang lebih baru, teori ini pada dasarnya adalah prinsip sosial ekonomi. Setiap
tindakan dilakukan orang dengan mempertimbangkan
untung ruginya. Bukan hanya dalam arti material atau finansial, melainkan juga dalam bentuk
psikologis seperti memperoleh informasi pelayanan, status, penghargaan,
perhatian dan kasih sayang. Yang dimaksudkan dengan keuntungan adalah hasil
yang diperoleh lebih besar dari pada usaha yang dikeluarkan, sedangkan yang
dimaksud dengan rugi adalah jika hasil yang diperoleh lebih kecil dari usaha
yng dikeluarkan. Berdasarkan prinsip sosial ekonomi ini setiap perilaku pada
dasarnya dilaksanakan dengan menggunakan strategi minimax, Yaitu meminimalkan
usaha dan memaksimalkan hasil agar di peroleh keuntungan yang sebesar-besarnya.
Perilaku menolong menurut teori ini tidak lepas dari strategi minimax, karena
itulah perilaku menolong biasanya mengikuti pola tertentu dengan
mempertimbangkan hasil dan kerugian yang diperoleh dari perilaku menolong.[4]
3.
TeoriEmpati
Empati diartikan sebagai perasaan simpatidan perhatian terhadap orang lain,
khususnyauntuk berbagi pengalaman atau secara tidak langsung merasakan penderitaan orang lain(Sears, dkk,
1991: 69). Hal senadadiungkapkan oleh Hurlock (1999: 118) yangmengungkapkan
bahwa empati adalahkemampuan seseorang untuk mengertitentang perasaan dan emosi
orang lain sertakemampuan untuk membayangkan diri sendiridi tempat orang lain.
Kemampuan untuk empatiini mulai dapat dimiliki seseorang ketikamenduduki masa
akhir kanak-kanak awal (6tahun) dengan demikian dapat dikatakanbahwa semua
individu memiliki dasarkemampuan untuk dapat berempati, hanyasaja berbeda
tingkat kedalaman dan caramengaktualisasikannya. Empati seharusnyasudah
dimiliki oleh remaja, karena kemampuanberempati sudah mulai muncul pada
masakanak-kanak awal (Hurlock, 1999: 118).
Leiden, dkk (1997: 317) menyatakanempati sebagai
kemampuan menempatkan diripada posisi orang lain sehingga
orang lainseakan-akan menjadi bagian dalam diri. Lebihlanjut dijelaskan oleh
Baron dan Byrne (2005:111) yang menyatakan bahwa empatimerupakan kemampuan
untuk merasakankeadaan emosional orang lain, merasasimpatik dan mencoba
menyelesaikanmasalah, dan mengambil perspektif orang lain.Arwani (2002: 56)
menyatakan empatiterhadap pasien merupakan perasaan dan“pemahaman” dan
“penerimaan” perawatterhadap pasien yang dialamipasien dankemampuan merasakan
“dunia pribadi pasien”. Empati merupakan sesuatu yang jujur,sensitive dan tidak
dibuat-buat didasarkanatas apa yang dialami orang lain.[5]
Berdasarkan uraian tersebut dapatdisimpulkan bahwa
empati merupakan kemampuan yang dimiliki individu
untuk mengerti, menghargai, dan ikut merasakan perasaan orang lain dengan cara
memahami perasaan dan emosi orang lain serta memandang situasi.
Baron dan Byrne (2005: 111) menyatakanbahwa dalam
empati juga terdapat beberapa aspek, yaitu:
a.
Kognitif
Individu yang memiliki
kemampuan empati dapat memahami apa yang orang lain rasakan dan mengapa hal itu
dapat terjadi padaorang tersebut.
b.
Afektif
Individu yang
berempati merasakan apayang orang lain rasakan.
Dari sudut pandang
lain, Batson dan Coke (Watson, 1984: 290)menyatakan bahwa di dalam empati
jugaterdapat aspek-aspek:
c.
Kehangatan
Kehangatan merupakan suatu
perasaan yang dimiliki seseorang untuk bersikap hangat terhadap orang lain.
d.
kelembutan
Kelembutan merupakan
suatu perasaanyang dimiliki seseorang untuk bersikapmaupun bertutur kata lemah
lembut terhadaporang lain.
e.
Peduli
Peduli merupakan suatu
sikap yang dimiliki seseorang untuk memberikan perhatian terhadap sesame maupun
lingkungan sekitarnya.
f.
Kasihan
Kasihan merupakan suatu perasaan yang dimiliki
seseorang untuk bersikap iba atau belas asih terhadap orang lain.[6]
4. Teori Norma Sosial
Menurut teori ini, orang
menolong karena diharuskan oleh norma-norma masyarakat. Ada tiga
macam norma sosial yang biasnya dijadikan pedoman untuk berperilaku menolong,
yaitu:
a. Norma timbal balik (
reciprocity norm)
Teori ini dikemukakan oleh Alvin Goulner seorang tokoh sosiologi dan dalam teori ini,
ia berpendapat bahwa kita harus menolong orang lain yang menolong kita. Jika
kita sekarang menolong orang lain, maka kita pada suatu saat akan ditolong
orang pula.[7]
b. Norma tanggung jawab sosial (social responsibility norm)
Dalam teori ini
mengatakan bahwa kita wajib menolong orang lain tanpa mengharapkan balasan
apapun, dimasa depan sebagai rasa tanggung jawab dalam bersosialisasi dengan
masyarakat. Norma ini menentukan bahwa seharusnya kita membantu orang lain, sebab
aturan agama dan moral dimasyarakat menekankan kewjiban untuk saling
bantu-membantu dan menolong orang lain.[8]
B.
Bentuk dan CiriPerilaku Prososial
Mussen, dkk (1989:
360) menyatakan bahwa Bentuk perilaku prososialmeliputi:
a.
Berbagi, yaitu kesediaan untuk berbagi perasaan dengan
orang lain dalam suasana suka dan duka.
b.
Kerjasama, yaitu kesediaan untuk bekerjasama dengan
orang lain demi tercapainya suatu tujuan.
c.
Menolong, yaitu kesediaan untuk menolong orang lain
yang sedang berada dalam kesulitan.
d.
Bertindak jujur, yaitu kesediaan untuk melakukan
sesuatu seperti apa adanya, tidak berbuat curang.
e.
Berderma, yaitu kesediaan untuk memberikan sukarela
sebagian barang miliknya kepada orang yang membutuhkan.[9]
Beberapa bentuk perilaku prososial diatas dapat kita
gunakan dalam mewujudkan tercapainya
perilaku prososial.
Adapun ciri-ciri dalam perilaku prososial antara lain,
sebagai berikut:
1) Simpati dan Empati.
Simpati sesuatu kecenderungan untuk ikut merasakan
segala sesuatuyang sedang dirasakan orang lain. Dengan kata lain :
sesuatukecenderungan untuk ikut serta merasakan sesuatu yang dirasakan olehorang
lain. Sedangkanempati ialah suatu kecenderungan untuk merasakan sesuatu
yangdilakukan orang lain andaikata dia dalam situasi orang lain tersebut.Karena
empati , orang menggunakan perasaanya dengan efektif di dalamsituasi orang
lain, didorong oleh emosinya seolah-olah dia ikut mengambilbagian dalam gerakan-gerakan yang dilakukan orang lain.[10]
2) Gotong Royong atau
kerja sama
Slamet (1985), menyebutkan bahwa gotong royong pada
hakekatnya mempunyai sifat sambat-sinambat atau
kewajiban timbal balik antar orang-orang yang semuanya saling mengenal dan
saling membutuhkan.[11]
Dalam tinjauan tentang konsep gotong royong para ahli
sosial hampir selalu merujuk pada konsep yang dipakai Koentjaraningrat (1969,
1974, 1977), pembahasanya menggolongkan system gotong royong menjadi: gotong royong, tolong menolong gotong royong kerja bakti.
Kemudian ruang lingkup tolong-menolong meliputi: kerjasama dibidang pertanian,
tolong-menolong dalam aktifitas rumah tangga, tolong menolong dalam
penyelengaraan pesta dan upacara, menolong dalam peristiwa kecelakaan, bencana
dan kematian.[12]
Keterkaitanya dengan gotong royong ini,
Koentjaraningrat (1984:30),menggolongkan konsep gotong royong sebagai kerjasama di antara
anggota-anggota komunitas. Kegiatan gotong royong tersebut diantaranya:
a.
Gotong royong yang timbul bila ada kematian atau
musibah yang
menimpa penghuni desa.
b.
Gotong royong yang dilaksanakan oleh seluruh desa.
c.
Gotong royong tidak hanya dalam urusan keluarga saja,
tetapi juga
merupakan kepentingan di desa.
d.
Gotong royong yang terjadi bila seseorang penduduk
desa
menyelengarakan suatu pesta.
e.
Gotong royong untuk memelihara kuburan nenek moyang.
f.
Gotong royong membangun rumah.
g.
Gotong royong dalam pertanian.
h.
Kegiatan gotong royong yang berdasarkan pada kewajiban
kuli dalammenyumbang tenaga manusia kepentingan masyarakat.[13]
C. Faktor-faktor yang mendasari dan
mempengaruhiperilaku prososial
Menurut Staub terdapatbeberapa faktor yang mendasari seseorang
untuk bertindak prososial, yaitu:
1) Self – Gain
Yaitu harapan seseorang untuk memperoleh ataumenghindari
kehilangan sesuatu, misalnya inginmendapatkan pengakuan,pujian atau takut
dikucilkan.
2)
Personal Values and Norms
Yaitu adanya nilai-nilai dan norma social yang diinternalisasikan
olehindividu selama mengalami sosialisasidan sebagian nilai-nilai dannorma
tersebut berkaitandengan tidakan prososial, seperti kewajiban menegakkankebenaran
keadilan serta adanya norma timbal balik.
3) Empathy
Yaitu
kemampuan seseorang untuk merasakan perasaan atau pengalaman orang lain.
Kemampuan untuk empati ini erat kaitannya dengan pengambilan peran. Jadi
prasyarat untuk mampu melakukan empati ,individu harus memiliki kemampuan untuk
melakukan pengambilan peran.[14]
Selain faktor yang mendasari perilaku
prososial, faktor yang mempengaruhi kemungkinan terjadinya perilaku prososial
juga menjadi penting untuk diperhatikan.
Menurut
Piliavinada tiga faktor yang mempengaruhi kemungkinan terjadinya perilaku
prososial yaitu:
1) Karakteristik situasional, seperti situasi
yang kabur atau samar-samar dan jumlah orang yang melihat. Jadi situasi dan
kejadian yang seseorang alami atau lihat, dapat mempengaruhi seseorang itu
untuk berperilaku prososial.
2) Karakteristik orang yang melihat kejadian,
seperti : usia, gender, ras, kemampuan untuk menolong. Hal itu menjadi
pertimbangan seseorang berperilaku prososial.
3) Karakteristik korban,seperti jenis
kelamin, ras, dan daya tarik.[15]
Untuk menumbuhkan kembali
perilaku prososial yang telah hilang pada diri seseorang , seorang pelaku harus
memupuk kembali sikap empati yang tinggi sehingga mendorong manusia untuk
melakukan perilaku prososial dan menumbuhkan sifat ikhlas tanpa mengharap
imbalan apa-apa dari orang lain.
BABIII
PENUTUP
A. Kesimpulan
perilaku prososial
adalah perilaku yang dilakukan untuk orang lain secara sukarela yang berupa
pemberian bantuan secara fisik maupun psikologis, seperti senang membantu, keterlibatan
dengan orang lain, kerjasama, persahabatan, menolong, memperhatikan orang lain
dan kedermawanan.Dalam pemahamankita tentang perilaku prososial berasal dari beberapa perspektif
teoritis teoritis yang luas. Adapun teori teori yang berkenaan dengan prososial
diantaranya adalah
teori behaviorisme, pertukaran
sosial, empati, dan norma sosial.
Mussenmenyatakan bahwa Bentuk perilaku prososialmeliputi:
Berbagi, kerja sama, menolong, bertindak jujur, dan berderma. Ciri-ciri dalam
perilaku prososial antara lain: simpati dan empati, gotong royong atau kerja
sama,
Menurut Staub terdapatbeberapa faktor yang mendasari seseorang
untuk bertindak prososial, yaitu: Self – GainYaitu harapan
seseorang untuk memperoleh atau menghindari kehilangan sesuatu, Personal
Values and NormsYaitu adanya nilai-nilai dan norma social yang di
internalisasikan oleh individu selama mengalami sosialisasi dan sebagian
nilai-nilai dan norma, dan EmpathyYaitu kemampuan seseorang untuk
merasakan perasaan atau pengalaman orang lain. Menurut Piliavin ada tiga faktor
yang mempengaruhi kemungkinan terjadinya perilaku prososial yaitu: karakteristik
situasional, karakteristik orang yang melihat kejadian, dan karakteristik korban.
B. Daftar Pustaka
Ifada Meihati Sukarti, Nina & Thubagus
Nu’man, Muh. Dalam penelitian Hubungan Antara Perilaku Prososial
Dengan Kebermaknaan Hidup Pada Remaja.
Feldman, R S. Social Psychologi,
Theories, Research and Aplication, Newyork: Mcgroww-Hill Book Company.
Syah, Muhibbin. 1992. Psikologi Belajar.
Jakarta: PT Raja Grafindo.
Myers, D G. 1988. Social Psychologi. New
York: Mc Graw-Hill International Editions.
Yuli Asih, Gusti & Margaretha Maria
Shinta Pratiwi. 2010.Perilaku Prososial ditinjau dari Empati dan Kematangan
Emosi. Kudus: Jurnal Pesikologi Universitas Muria Kudus.
Ahmadi, Abu. 1991. PsikologiUmum. Semarang: Rineka Cipta.
Herawati, Isni. 2007. Perilaku Gotong Royong Penduduk Perbatasan Pacitan-Wonogiri:
Di DesaBelah Dan Desa Cemeng Kecamatandonorojo, Pacitan, Patrawidya seri
Penelitian Sejarah danBudaya.
Dayakisni, T dan Hudaniah.Psikologi Sosial. Malang: UMM
Pers.
[1]Nina Ifada Meihati Sukarti, Dr & Moh, Thubagus Nu’man, S.Psi, Psi,
dalam penelitian “Hubungan Antara Perilaku Prososial Dengan Kebermaknaan
Hidup Pada Remaja”,hlm: 10
Book Company), hlm:
253
[5]Gusti Yuli Asih & Margaretha Maria Shinta Pratiwi, Perilaku
Prososial ditinjau dari Empati dan Kematangan Emosi, (Kudus: Jurnal
Pesikologi Universitas Muria Kudus, 2010), hlm: 35
[6]Ibid, hlm: 36
[8]Ibid, hlm: 449
[9]Gusti Yuli Asih & Margaretha Maria Shinta Pratiwi... hlm: 35
[11]Isni
Herawati, Perilaku Gotong Royong Penduduk Perbatasan Pacitan-Wonogiri: Di
Desa
Belah Dan Desa Cemeng Kecamatandonorojo,
Pacitan, Patrawidya seri Penelitian Sejarah
dan
Budaya,
Vol. 8. No. 4 (Desember 2007), hlm:
917
[15]Ibid, hlm: 179
Comments
Post a Comment