MAKALAH I TAWADLU’
M A K A L A H
TAWADLU’
Makalah ini disusun
untuk memenuhi tugas matakuliah
Nilai Dasar Sholih Akrom
BAB I
Pendahuluan
A.
Latar Belakang
Semakin majunya zaman
era globalisasi berdampak pada salah satu aspek sholih dan akrom salah satunya
sifat tawadlu’. Seiring berkembangnya zaman, sifat tawadlu’ semakin luntur dan
jarang di perhatikan khususnya pada generasi muda dalam
tatanan sopan santun kepada guru atau orang yang lebih tua dan kurang nya
kerendah hatian dalam menjadi orang yang berilmu.
Tawadhu’adalah bentuk penghambaan
kepada Tuhan yang sesungguhnya. Tawadhu’ juga sering disebut sebagai obat dari
sifat sombong. Karena dengan mencabut sifat sombong, maka akan timbul sifat
rendah hati/ tawadhu’.
Kemudian timbul pertanyaan,
bagaimana sifat tawadhu’ dalam Al-Qur’an dan Al-Sunnah? Serta apa saja macam
tawadhu’?. Dalam makalah yang sederhana ini, kami ingin menjawab pertanyaan
tersebut dan memaparkan hal-hal yang berkaitan dengannya.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian dari tawadlu’ ?
2.
Apa syarat dari tawadlu’ ?
3.
Apa Keutamaan dari tawadlu’ ?
4.
Apa macam-macam tawadlu’ ?
5.
Bagaimana cara menghormati guru ?
6.
Bagaimana cara menumbuhkan sifat ketawadlu’an ?
BAB II
TAWADLU’
A.
Pengertian Tawadlu’
Tawadlu' secara
bahasa bermakna rendah terhadap sesuatu.[1]
Sedangkan secara istilah adalah menampakkan
perendahan hati kepada sesuatu yang diagungkan. Ada juga yang mengatakan tawadlu' adalah
mengagungkan orang karena keutamaannya. Tawadlu' adalah
menerima kebenaran dan tidak menentang hukum.[2]
Tawadlu' adalah akhlak yang mulia. Allah mencintai kaum-Nya yang lemah
lembut dan merekapun mencintai-Nya. Allah SWT dalam
firman-Nyamenyifati hamba yang dicintai-Nya;
أَذِلَّةٍ
عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ
“Yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras
terhadap orang-orang kafir." (QS. al-Maidah 54)[3]
B.
Syarat Tawadlu’
Untuk mencapai tawadlu’ yang sesuai dengan syari’at islam harus memenuhi dua syarat;
Pertama: Ikhlas karena Allah SWTsemata. Hal ini di pertegas dengan sabda Rasulullah SAW ;
وَمَا
تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ
"Tidaklah
seseorang tawadhu' karena Allah, kecuali Allah akan angkat derajatnya." (HR. Muslim: 2588)
Yang dimaksudkan di sini, Allah akan meninggikan derajatnya di dunia
maupun di akhirat. Di dunia, orang akan menganggapnya mulia, Allah pun
akanmemuliakan dirinya di tengah-tengah manusia, dan kedudukannya akhirnya
semakin mulia.[4]
Kedua: Kemampuan dalam bertawadlu’ kepada Allah .
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ تَرَكَ
اللِّبَاسَ تَوَاضُعًا لِلَّهِ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهِ دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنْ أَيِّ حُلَلِ
الْإِيمَانِ شَاءَ يَلْبَسُهَا
"Barangsiapa
yang meninggalkan pakaian karena tawadlu' kepada Allah padahal dia mampu, maka Allah akan
memanggilnya pada hari kiamat di hadapan seluruh makhluk hingga Allah memberinya
pilihan dari perhiasan penduduk surga, ia bisa memakainya sekehendaknya." [5]
Maksud dari hadits di
atas adalah pakaian yang bagus dan mahal di tinggalkan untuk mencapai tawadlu’
yang lebih mulia kepada Allah, maka Allah akan memberikan imbalan berupa
panggilan pada hari kiamat di hadapan seluruh makhluk untuk memberinya pilihan
dari perhiasan penduduk surga dan ia bisa memakai semaunya.
C.
Keutamaan Tawadlu’
Sifat yang terpuji menyimpan keutamaan. Hal ini sebagai
pendorong bagi kita agar segera melakukan sifat tersebut. Keutamaan sifat
tawadlu’ antara lain sebagai berkut;
1.
Menjalankan perintah Allah SWT
Dengan menjalankan
tawadlu’ kita telah menjalankan salah satu peerintah Allah SWT. Allah SWT
berfirman:
وَاخْفِضْ
جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
"Dan
rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang
yang beriman. (QS. asy-Syu'aro: 215)[6]
Pada ayat ini Allah
memerintahkan Rasul dan umat-Nya untuk bersifat tawadlu’.
2. Tawadlu' itu menghasilkan keselamatan, mendatangkan persahabatan,
menghapuskan dendam, dan menghilangkan pertentangan.
Rasulullah SAW bersabda :
"Sesungguhnya Allah
mewahyukan kepadaku agar kalian bertawadlu', sehingga seseorang tidak merasa
bangga lagi sombong terhadap orang lain dan tidak pula berlaku aniaya kepada
orang lain." [Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih nya][7]
3. Menjauhkan dari sifat sombong
Allah SWT berfirman:
وَلَاتُصَعِّرْخَدَّكَلِلنَّاسِوَلَاتَمْشِفِيالْأَرْضِمَرَحاًإِنَّاللَّهَلَايُحِبُّكُلَّمُخْتَالٍفَخُورٍ
"Dan janganlah kamu
memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di
muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
sombong lagi membanggakan diri." (QS. Luqman: 18)[8]
Sahabat mulia Ibnu Abbas ra berkata: "Yaitu janganlah kamu sombong, sehingga membawa kalian
merendahkan hamba Alloh dan berpaling dari mereka jika mereka berbicara
kepadamu."[9]
D.
Macam-Macam Tawadlu’
Macam-macam tawadlu’
dibagi menjadi dua :
Pertama: Tawadlu' yang terpuji.
Yaitu tawadlu'nya
seorang hamba ketika melaksanakan perintah Allah SWTdan meninggalkan
larangan-Nya. Karena jiwa ini secara tidak langsung akan mencari kesenangan dan
rasa lapang serta tidak ingin terbebani sehingga akan menimbulkan keinginan
lari dari peribadatan dan tetap dalam kesenangannya. Maka apabila seorang hamba
mampu menundukan dirinya dengan
melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, sungguhnya ia telah
tawadlu' dalam peribadatan.
Kedua: Tawadlu' yang tercela
Yaitu tawadlu'nya
seseorang kepada orang yang mempunyai pangkat dunia karena berharap mendapat
bagian dunia darinya.
Orang yang memiliki akal
sehat dan selamat tentunya ia akan berusaha meninggalkan tawadlu' tercela ini dan
akan berusaha untuk melaksanakan sifat tawadlu' yang terpuji.[10]
E.
Bagaimana Cara Menghormati Guru
Didalam kitab Ta’lim
Muta’alaim ada tata cara menghormati guru, antara lain :
1.
Tidak melintas dihadapan guru.
2.
Tidak menduduki tempat duduknya tanpa seizin guru.
3.
Tidak bicara disebelahnya dan tidak menanyakan
sesuatu yang membosankannya
4.
Dan janganlah mengetuk pintu tetapi bersabarlah
sampai beliau keluar.[11]
F.
Bagaimana cara Menumbuhkan Sifat Ketawadlu’an
Beberapa carayang dapat dilakukan untuk memperoleh sifat tawadhu antara
lain:
1. Mengenal Allah SWT
“Setiap manusia akan bersikap tawadlu’ seukuran dengan makrifatnya (pengenalanya) kepada Tuhanya.” Orang yang
mengenal Allah dengan sebenarnya akan menyadari bahwa Dialah Yang Maha Kuasa,
Maha Kaya, dan Maha Perkasa. Bila ia mendapat kebaikan, ia memuji dan bersyukur
kepada-Nya. Orang yang mengenal Allah akan mengakui bahwa dirinya kecil dan
lemah, sehingga ia akan tawadlu’ dan merasa tidak pantas untuk berlaku sombong.
2. Mengenal Diri
Langkah utama
untuk mengenal Allah SWT. Adalah mengenal diri kita sendiri.
Dilihat dari asal-usulnya, manusia berasal dari sperma yang hina. Kemudian
lahir kedunia dalam keadaan tanpa daya dan tidak mngetahui apapun. Karena itu
manusia tidak berhak sombong. Ia harus bersikap tawadlu’, sebab ia
lemah dan tidak mempunyai banyak pengetahuan.Hal ini harus disadari atas
kekurangan dan aib dirinya sejak dini, sehingga ia akan bersikap tawadlu’ dan tidak
akan sombong kepada orang lain, terutama kepada Tuhan Allah SWT.
3. Merenungkan Nikmat Allah
Hakikatnya
seluruh nikmat yang di anugerahkan Allah SWT kepada hamba-Nya adalah ujian
untuk mengetahui siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur.
Banyak manusia yang tidak menyadari hal tersebut. Karena itu kita perlu merenungkan
atas nikmat Allah yang kita terima, sekecil apapun. Apakah kitasyukur atau kita
kufur. Selain merenungkan nikmat Allah dalam usaha untuk
menumbuhkan dan merenungkan akhlak tawadlu’.[12]
BAB III
Penutup
A.
Kesimpulan
Menurut kami sifat tawadlu’
adalah kerendah hati terhadap segala hal , baik kepada sesama manusia maupun Allah SWT. Dan dalam
pelaksanaannya harus ikhlas dan mampu melaksanakan kerendah hatian dalam
keseharian hidup dan dapat mengamalkannya.
Syarat dari tawadlu’ adalah ikhlas an kemampuan alam tawadlu’ kepaa Allah
SWT.
Keutamaan dari tawadlu’ adalah menjalankan perintah Allah SWT, apat menghasilkan keselamatan, mendatangkan persahabatan, menghapuskan dendam,
dan menghilangkan pertentangan, dan menjauhkan dari sifat sombong.
Macam-macam dari tawadlu’ adalah tawadlu’ yang terpuji dan tawadlu’
tercela.
Cara penghormatan kepada guru adalah
dengan tidak melintas dihadapan guru, tidak menduduki tempat duduknya tanpa
seizin guru, tidak bicara disebelahnya, tidak menanyakan sesuatu yang
membosankannya, Dan janganlah mengetuk pintu tetapi bersabarlah sampai beliau
keluar.
Agar dapat menumbuhkan
sikap tawadlu’dengan benar adalahdengan mengenal Allah SWT, mengenal diri, merenungkan nikmat
Allah, danmeniru sikap ketawadlu’an Rasulullah dan para orang-orang sholeh
terdahulu.
B.
Daftar Pustaka
Mu'jam
Maqoyis al-Lughoh, Ibnu Faris,
Departemen Agama. 1998. . Al-Qur’an
dan Terjemahnya. Semarang. Toha Putra Semarang
Madarij as-Salikin 2/379,
Ibnul Qoyyim
http://rumaysho.com/2056-memiliki-sifat-tawadhu.html di akses pada tanggal 4 november 2015
https://ajaransasuonkko.wordpress.com/2015/07/05/menumbuhkan-sifat-tawadhu/ di akses pada tanggal 4 november 2015
http://faisalchoir.blogspot.co.id/2012/07/10-faedah-tentang-tawadhu.html di akses
pada tanggal 4 November 2015
Fathul
Qodir 4/301
Roudhotul Uqola, Ibnu Hibban
Aliy As’ad. 2007. Terjemah
Ta’limul Muta’alim Bimbingan Bagi penuntut Ilmu Pengetahuan. Kudus. Menara
Kudus
http://aliwahidiyah.blogspot.co.id/2010/07/menumbuhkan-sikap-tawadhu.html, Diakses pada tanggal 4 November 2015
[3]Departemen
Agama, Al-Qur’an dan
Terjemahnya, (Semarang; PT. Karya Toha Putra Semarang, 1998), hlm.218
[5]https://ajaransasuonkko.wordpress.com/2015/07/05/menumbuhkan-sifat-tawadhu/di akses pada tanggal 4 november 2015
[7]http://faisalchoir.blogspot.co.id/2012/07/10-faedah-tentang-tawadhu.html di akses
pada tanggal 4 November 2015
[11]Drs. H. Aliy As’ad, MM, “Terjemah Ta’limul
Muta’alim Bimbingan Bagi penuntut Ilmu Pengetahuan” (Kudus; Menara Kudus,
2007), Hal 38
[12]http://aliwahidiyah.blogspot.co.id/2010/07/menumbuhkan-sikap-tawadhu.html, Diakses pada tanggal 4
November 2015
Comments
Post a Comment