MAKALAH I Tokoh Sosiologi Emile Durkheim
M A K A
L A H
Emile Durkheim
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas matakuliah
Sosiologi
Abstrak
Emile Durkheim lahir di Epinal, Perancis, 15 April 1858.
Ia keturunan pendeta Yahudi dan ia sendiri belajar untuk menjadi pendeta
(rabbi). Ia menolak karir tradisonal dalam filsafat dan berupaya mendapatkan
ilmiah yang dapat disumbangkan untuk pedoman moral masyarakat. Meski ia
tertarik pada sosiologi ilmiah tetapi waktu itu belum ada bidang studi
sosiologi sehingga antara 1882 sampai 1887, ia mengajar filsafat sejumlah
sekolah di Paris. Kini Durkheim sering di anggap menganut pemikiran politik
konservatif. Tetapi di masa hidupnya ia di anggap berpikiran liberal dan ini
ditunujukkan oleh peran publik aktif yang dimainkannya dalam membela Alfred
Dreyfus, seorang kapten tentara Yahudi yang dijatuhi hukuman mati karena
pengkhianatan yang oleh banyak orang dirasakan bermotif anti-Yahudi.
Kata kunci : rabbi, sosiologi, konservatif,
liberal, Yahudi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.
Dhurkeim mendekati masalah sosial ini daridimensi sosial dari
seluruh fenomena manusia. Meski sebagian kalangan memang mengakui
pentingnya masyarakat mereka lebih secara intuitif tapi mereka tetap
menganggapnya tidak bisa dipelajari secara ilmiah. Disini, Durkheim menggunakan
pendekatan yang berlawanan. Menurut Durkheim, masyarakat dibentuk oleh “ fakta
sosial” yang melampaui pemahaman intuitif kita dan mesti teliti melalui
observasi dan pengukuran. Ide tersebut adalah inti dari sosiologi yang
menyebabkan Durkheim sering dianggap sebagai “ bapak “ sosiologi. Salah satu
tujuan utama Durkheim adalah menjadikan sosiolgi sebagai sebuah disiplin
ilmiah. Ada dua tema penting dalam karya Emile Dhurkeim. Pertama, keutamaan
sosial daripada individu. Kedua, ide bahwa masyarakat bisa dipelajari secara
ilmiah.
B. Rumusan Masalah.
1. Biografi Emile Durkheim ?
2. Bagaimana
Pemikiran Emile Durkheim ?
3. Bagaimana Karya-Karya
Emile Durkheim ?
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Biografi Emile Durkheim
Emile
Durkheim lahir di Epinal, Perancis, 15 April 1858. Ia keturunan pendeta Yahudi
dan ia sendiri belajar untuk menjadi pendeta (rabbi). Tetapi, ketika berumur 10
tahun ia menolak menjadi pendeta. Sejak itu perhatiannya tehadap agama lebih
bersifat akademis ketimbang teologis (mestrovik, 1988). Ia bukan hanya kecewa
terhadap pendidikan agama tetapi juga pendidikan umumnya dan banyak memberi
perhatian pada masalah kesastraan dan estetika. Ia juga mendalami metodologi
ilmiah dan prinsip moral yang diperlukan untuk menuntut kehidupan sosial. Ia
menolak karir tradisonal dalam filsafat dan berupaya mendapatkan ilmiah yang
dapat disumbangkan untuk pedoman moral masyarakat. Meski ia tertarik pada
sosiologi ilmiah tetapi waktu itu belum ada bidang studi sosiologi sehingga
antara 1882 sampai 1887, ia mengajar filsafat sejumlah sekolah di Paris.w
Hasratnya
terhadap ilmu makin besar ketika dalam perjalanannya ke Jerman ia berkenalan
dengan psikologi ilmiah yang dirintis oleh Wilhelm Wundt (Durkheim,1887/1993).
Beberapa tahun sesudah kunjunganya ke jerman, Durkeim menerbitkan sejumlah buku
diantaranya adalah tentang pengalamnnya selama di Jerman (R.Jones, 1994).
Penerbitan bukunya itu membantu Durkheim mendapatakan jabatan di jurusan
filsafat Universitar Bordeaux tahun 1887. Disinilah Durkheim pertama kali
memberikan kuliah ilmu sosial di Universitas Perancis. Ini adalah sebuah
prestasi istimewa karena hanya berjarak satu dekade sebelumnya kehebohan
meledak di Universitas perancis karena nama Auguste comte mucul dalam di sertai
seorang mahasiswa. Tanggung jawab utama Durkheim adalah mengajarkan pedagogik
di sekolah pengajar dan kuliahnya yang terpenting adalah di bidang pendidikan
moral. Tujuan instruksional umum mata kulliahnya adalah mengkomunikasikan
sistem moral kepada para pengajar yang ia harapkan kemudian akan di teruskan
kepada anak-anak muda dalam rangka membantu menanggulangi kemprosotan moral
yang di lihatnya terjadi di tengah masyarakat perancis.
Durkheim
berpengaruh besar pada pembangunan sosiologi,tetapi pengaruhnya tak hanya
terbatas di bidang sosiologi saja. Sebagian besar pengaruhnya terhadap bidang
lain tersalur melalui jurnal L’annee sociologique yang didirikan tahun
1889. Sebuah lingkaran intelektual muncul sekeliling jurnal itu dan durkheim
berada di pusatnya. Melalui jurnal itu,Durkheim dan gagasanya mempengaruhi
berbagai bidang seperti antropogi, sejarah, bahasa dan psikologi-yang agak
ironis, mengingat serangannya terhadap bidang psikologi.
Durkheim
meninggal pada 15 november 1917 sebagai seorang tokoh intelektual perancis
tersohor. Tetapi, karya durkheim mulai memepengaruhi sosiologi Amerika dua
puluh tahun setelah kematianya, yakni setelah terbitnya the structure of
social action (1937) karya talcott parsons.[1]
B. Pemikiran
Emile Durkheim.
Durkheim
percaya bahwa sosiologi sebagai sebuah ide, telah lahir di Prancis pada abad
ke-19. Namun Durkheim ingin mewujudkan ide ini sebagai sebuah disiplin, sebuah pembelajaran yang
terdefinisi secara jelas. Durkheim mengenal akar-akar sosiologi dalam pemikiran
para filsuf kuno, seperti Plato dan Aristoteles. Akan tetapi, dalam pandangan
Durkheim, filsuf terdahulu belum melangkah jauh, karena mereka sama sekali
belum mencoba menciptakan disiplin baru.[2]
1. Fakta
Sosial
Durkheim menyatakan bahwa pokok bahasan
sosiologi haruslah berupa studi fakta sosial. Secara singkat, fakta sosial
terdiri dari struktur sosial, norma budaya, dan nilai yang berada diluar dan
memaksa aktor. Mahasiswa, misalnya dipaksa oleh struktur sosial seperti
birokrasi universitas, serta oleh norma dan nilai masyarakat di Amerika, yang
mendapat tempat sangat penting dalam pendidikan akademis. Fakta sosial yang
sama memaksa seseorang dalam semua area kehidupan sosial.
Fakta sosial dianggap sebagai
“sesuatu” dan dipelajari secara empiris. Artinya bahwa fakta sosial mesti
dipelajari dengan perolehan data dari luar pikiran kita melalui observasi dan
eksperimen. Studi empiris tentang fakta sosial ini sebagaimana yang termuat
didalam sosiologi Durkheiman terpisah dari pendekatan filosofis.
Fakta
sosial adalah seluruh cara bertindak, baku maupun tidak, yang dapat berlaku
pada diri individu sebagai sebuah paksaan eksternal atau bisa juga di katakan
bahwa fakta sosial adalah seluruh cara bertindak yang umum di pakai suatu
masyarakat, dan pada saat yang sama keberadaannya terlepas dari
manifestasi-manifestasi individual. (Durkheim, 1895/1982: 13)
Kutipan ini menjelaskan bahwa Durkheim
memberikan dua definisi untuk fakta sosial agar sosiologi bisa di bedakan dari
psikologi. Pertama, fakta sosial adalah pengalaman sebagai sebuah paksaan
eksternal dan bukannya dorongan internal; kedua, fakta sosial umum meliputi
seluruh masyarakat tidak terikat pada individu.
Durkheim sendiri memberikan
beberapa contoh tentang fakta sosial, termasuk aturan legal, beban moral, dan
kesepakatan sosial. Dia juga memasukkan bahasa sebagai fakta sosial, dan menjadikannya
sebagai contoh paling mudah di pahami.[3]
Jenis – jenis Fakta sosial Menurut Dhurkeim
Durkeim membedakan dua tipe fakta
sosial-material dan non material. fakta sosial material seperti gaya
arsitektur, bentuk teknologi, dan hukum perundang-undangan, relatif mudah di
pahami karena keduanya bisa di amati secara langsung. Misalnya, aturan berada
di luar individu dan memaksa mereka, dan fakta sosial material ini sering kali
mengekspresikan kekuatan moral yang lebih besar dan kuat yang sama-sama berada
di luar individu dan memaksa mereka. Kekuatan moral inilah yang disebut dengan
fakta sosial nonmaterial.
Durkheim mengakui bahwa fakta
sosial nonmaterial ini memiliki batasan tertentu,ia ada dalam pikiran individu. Akan tetapi
dia yakin bahwa ketika orang memulai berinterksi secara sempurna,maka inetraksi
itu akan “mematuhi hukumnya sendiri” (Durkheim, [1912] 1965:471). Dan dibawah
ini jenis-jenis fakta sosial nonmaterial :[4]
Karena fakta sosial nonmaterial
sangat penting bagi Durkheim, maka kita memfokuskan pembahasan singkat empat jenis
fakta sosial nonmaterial-moral realitas, kesadaran kolektif, repesentatif
kolektif, dan arus sosial.
a. Moralitas.
Durkhheim dikenal sebagai sosiolog moralitas dalam pengertian
terluas dari kata ini ( Hall,1987; Mestrovic, 1988). Dengan mempelajari
Durkheim akan memeperingatkan kita bahwa fokus pada moralitas sesungguhnya
dasar sosiologi sebagai sebuah displin tersendiri. Perspektif Durkheim tediri
dari dua aspek. Pertama, Durkeim yakin bahwa moralitas adalah fakta sosial,
dengan kata lain, moralitas bisa dipelajari secara empiris, karena ia berada di
luar individu, artinya moralitas bukanlah sesuatu yang bisa dipikirkan secara
filosofis, namun sesuatu yang mesti dipelajari sebagai fenomena empiris. Kedua,
Durkheim dianggap sebagai sosiolog moralitas karena studinya di dorong oleh
kepeduliannya pada “kesehatan” moral masyarakat modern. sebagian besar
sosiologi Durkheim bisa dianggap sebagai sebuah produk dari perhatiannya
terhadap isu moral ini.[5]
b. Kesadaran kolektif.
Durkhem mencoba mewujudkan
perhatiannya pada moralitas dengan berbagai macam cara dan konsep. Usaha
awalnya menangani persoalan ini adalah mengembangkan ide tentang kesadaran
kolektif. Dalam bahasa perancis, kata conscience memiliki makna
“kesadaran” (inggris: consciousness) dan “hati nurani” (inggris: conscience).
Durkheim mendefinisikan kesadaran kolektif sebagai berikut : seluruh
kepercayaan dan perasaan bersama orang kebanyakan dalam sebuah masyarakat akan
memebentuk suatu sistem yang punya kehidupan sendiri.[6]
c. Representasi Kolektif.
karena kesadaran kolektif merupakan suatu yang
luas dan gagasan yang tidak memiliki bentuk yang tetap, oleh karena itu tidak
mungkin dipelajari secara langsung, akan tetapi mesti didekati melalui relasi
fakta sosial material. (berikut ini, sebagai contoh, kita akan melihat Dhurkeim
menggunakan sistem hukum untuk mengilustrasikan kesadaran kolektif. ) karena
Durkheim tidak puas dengan keterbatasan ini, dia akhirnya tidak terlalu banyak
menggunakan konsep yang lebih spesifik, yaitu representasi secara harfiah
berarti “gagasan”. Sedangkan Dhurkeim menggunakan istilah ini untuk mengacu
konsep kolektif maupun “daya” sosial yang memaksa individu. Contoh representasi
kolektif adalah simbol agama, mitos, dan legenda populer. Semua yang tersebut itu adalah cara-cara masyarakat merefleksikan
dirinya (Dhurkeim, 1895/1982 : 40). Semuanya merepresentasikn kepercayaan, norma, dan nilai kolektif, dan
mendorong kita untuk menyesuaikan diri dengan klaim kolektif. Representasi kolektif juga
tidak bisa direduksi kepada individu-individu, karena ia muncul dari interaksi
sosial, dan hanya bisa dipelajari secara langsung karena representasi kiolektif
cenderung berhubungan dengan praktik seperti spiritual. Oleh karena itu para
sosiolog bisa memulai mempelajari kenapa representasi kolektif tertentu bisa
cocok, atau dapat diterima, sementara yang lain tidak. [7]
d. Arus sosial.
sebagian besar fakta sosial yang
dirujuk Dhurkeim sering kali diasosiasikan dengan organisasi sosial. Akan
tetapi, dia menjelaskan bahawa fakta sosial “tidak menghadirkan diri dalam
bentuk yang jelas” (1985/1982 : 52). Dhurkeim menyebutnya dengan arus sosial.
Dia mencontohkan dengan luapan semangat, amarah, dan rasa kasihan” yang
terbentuk dalam kumpulan publik (Dhurkeim, 1895/1982 : 52-53). Meskipun arus
soial kurang konkret dibanding fakta sosial, itu dikarenakan fakta sosial tidak
bisa direduksi pada individu. Kita diseret oleh arus sosial, dan ia memiliki
kekuatan untuk memaksa kita meski baru bisa menyadarinya ketika kita bergulat
melawan perasaan bersama ini.[8]
karena adanya penekanan pada
norma, nilai, dan budaya dalam sosiologi kontemporer, kita tidak akan terlalu
kesulitan menerima minat Dhurkeim terhadap fakta sosial nonmaterial. Namun
konsep arus sosial memang memberikan kita beberapa persoalan. Yang paling menyulitkan
adalah ide tentang serangkaian arus sosial independen yang “ berkeliaran” dalam dunia sosial seolah-olah
mereka berada dalam ruang hampa sosial. Persoalan ini memancing kritik terhadap
Dhurkeim karena pemikirannya berorientasi pada kelompok (Pope, 1976:192-194).
Orang yang mengecam Dhurkeim karena perspektif semacam itu menganggap dia memberi
fakta sosial non material sebuah eksistansi yang otonom, terpisah dari aktor.
Masalahnya fenomena kultural tidak bisa mengapung di ruang hampa sosial dan Dhurkeim
sangat menyadari hal ini. [9]
2. Hukum Represif dan Restitutif
Pembagian kerja dan dinamika
penduduk adalah fakta sosial material, akan tetapi ketertarikan utama Dhurkeim
justru bentuk solidaritas, yang merupakan fakta sosial nonmaterial. Menurut
Dhurkeim sangat sulit mempelajari fakta sosial nonmaterial secara langsung,
terutama yang bersifat sangat melingkupi semisal kesadaran kolektif. Untuk
mempelajari fakta sosial nonmaterial secara ilmiah,sosiologi meski menguji
fakta sosial material yang merefleksikan hakikat dan perubahan fakta sosial
nonmaterial. Dalam karyanya the Devinision of labour in society,
Durkheim mencoba mengkaji mekanis dan hukum dalam masyarakat dengan solidaritas
organis (cotterrell 1999).
Durkheim berpendapat bahwa
masyarakat dengan solidaritas mekanis dibentuk oleh hukum represif. Karena
anggota masyarakat jenis ini memiliki kesamaan satu sama lain dan karena mereka
cenderung sangat percaya pada moralitas bersama, apapun pelanggaran terhadap
sistem nilai bersama tidak akan dinilai main-main oleh setiap individu. Karena
setiap orang dapat merasakan pelanggaran itu, maka setiap pelanggar tersebut
akan di hukum atas pelanggarannya terhadap sistem moral kolektif.
Sebaliknya, masyarakat dengan
solidaritas organis dibentuk oleh hukum restitutif, di mana seseorang yang
melanggar harus melakukan restitusi untuk kejahatan mereka.
Artinya, dalam The divinision
of labor Durkheim berpendapat bahwa dalam masyarakat modern bentuk
solidaritas moral mengalami perubahan, bukannya hilang. Kita memiliki bentuk
solidaritas baru yang memungkinkan adanya interdependensi yang lebih kuat dan
relasi yang lebih erat dan tidak terlalu kompetitif. Durkheim justru berpendapat
bahwa bentuk solidaritas ini cenderung melahirkan jenis pantologi sosial.[10]
3. Bunuh diri
Durkheim memilih studi bunuh diri karena
persoalan ini relatif merupakan fenomena kongkret dan spesifik di mana tersedia
data yang bagus secara komperatif. Akan tetapi, alasan utama Durkheim untuk
melakukan studi bunuh diri ini adalah untuk menunjukkan kekuatan disiplin
sosiologi.
Sebagai sosiolog,Durkheim tidak terlalu fokus
mempelajari mengapa orang melakukan bunuh diri karena masalah ini adalah
wilayah garapan psikologi. Durkheim Cuma tertarik untuk menjelaskan perbedaan
angka bunuh diri, yaitu, dia tertarik kenapa suatu kelompok memiliki angka
bunuh diri lebih tingggi di banding kelompok lain. Ada 4 jenis bunuh diri di
antaranya adalah:[11]
a. Bunuh diri egoistis
Tingginya angka bunuh diri egoistis dapat di
temukan dalam masyarakat atau kelompok di mana
individu tidak berinteraksi dengan baik dalam unit sosial yang luas.
Lemahnya intergrasi sosial melahirkan arus
sosial yang khas, dan arus tersebut melahirkan perbedaan angka bunuh diri.
Misalnya, Durkheim berbicara tentang
disintegrasi masyarakat yang melahirkan “arus depresi dan kekecewaan”
(1897/1951: 214).[12]
b. Bunuh diri altruistis
Tipe bunuh diri kedua yang di bahas Durkheim
adalah bunuh diri alturistis. Kalau bunuh diri egoistis terjadi ketika
integrasi sosial melemah,sedangkan bunuh diri altruitis ketika “integrasi
sosial sangat kuat” (Durkheim 1897/1951: 217). Secara harfiah, dapat dikatakan
individu terpaksa melakukan bunuh diri.
Salah satu contoh paling tepat untuk bunuh
diri altruitis adalah bunuh diri massal dari pengikut pendeta jim jones di
jonestown. Guyana, pada tahun 1978. Mereka memeperoleh racun secara
sembunyi-sembunyi lalu menenggakanya kemudian diikuti oleh anak-anak mereka. Mereka
dengan terang-terangan melakukan bunuh diri karena memiliki integrasi sangat
erat dalam sebuah kelompok sebagai pengikut fanatik dari jones.[13]
c. Bunuh diri Anomik
Bunuh diri ketiga ini adalah bunuh diri
anomik, yang terjadi ketika kekuatan regulasi masyarakat terganggu. Gangguan
ini mungkin akan membuat individu merasa tidak puas karena lemahnya kontrol
terhadap nafsu mereka, yang akan bebas berkeliaran dalam ras yang tidak pernah
puas terhadap kesenangan. Angka bunuh diri anomik bisa meningkat terlepas dari
apakah gangguan itu positif (misal,
peningkatan ekonomi) atau negatif (penurunan ekonomi). Kedua gangguan ini
membuat kolektivitas masyarakat tidak mampu melancarkan otoritasnya terhadap
individu untuk sementara waktu. Perubahan-perubahan seperti ini menempatkan
orang dalam situasi di mana norma lama tidak berlaku sementara norma baru belum
lagi di kembangkan. Periode gangguan ini melepaskan arus anomi rasa ketercerabutan dari akar dan rasa
kehilangan norma-norma mengikat dan arus ini cenderung mempertinggi angka bunuh
diri anomik.[14]
d. Bunuh diri fatalistik
Persoalan yang tidak terlalu di
bahas Durkheim adalah tipe bunuh diri
keempat ini. Dia hanya membahasnya dalam salah satu catatan kaki dalam suicide
(Besnard, 1993). Kalau bunuh diri anomik terjadi dalam situasi di mana regulasi
melemah, maka, bunuh diri fatalistik jusru terjadi ketika regulasi meningkat.
Durkheim (1897/1951: 276) menggambarkan seorang yang melakukan bunuh diri dari
fatalistik seperti “seseorang yang masa depannya telah tertutup dan nafsu yang
tertahan oleh displin yang menindas.” Cotohnya adalah seorang budak
yang menghabisi hidupnya karena putus asa karena regulasi yang
menekan setiap tindakannya. Regulasi tekanan yang terlalu banyak akan
melepaskan arus kesedihan, yang pada gilirannya, menyebabkan peningkatan angka
bunuh diri dari fatalistis.[15]
4. Angka bunuh diri dan reformasi
sosial
Durkheim mengakhiri studinya
tentang bunuh diri dengan sebuah pembuktian apakah reformasi bisa diandalkan
untuk mencegah bunuh diri. Usaha-usaha yang selama ini di lakukan untuk
mencegah bunuh diri gagal karena ia melihat sebagai problem individu. Bagi
Durkheim, usaha langsung untuk meyakinkan individu agar tidak melakukan bunuh
diri ternyata sia-sia, karena penyebab riilnya jusru ada dalam masyarakat.[16]
C. Karya Emile Durkheim.
Karya
Utama dan pertama Emile Durkheim adalah The
Division Of Labor In Society, dimana ia berpendapat bahwa kesadaran
kolektif masyarakat yang memiliki solidaritas mekanis digantikan oleh
solidaritas organis yang didasarkan pada saling tergantungan dalam organisasi
masyarakat dengan pembagian kerja. Dia meneliti perbedaan antara solidaritas
mekanis dan organis dengan menganalisis perbedaan sistem legal mereka. Dia juga
berpendapat bahwa solidaritas mekanis terkait dengan hukum represif sementara
solidaritas organis terkait dengan sistem legal restitutif.
Karya kedua Emile Durkheim adalah
studi tentang bunuh diri, yang merupakan ilustrasi terbaik tentang signifikansi
fakta sosial nonmaterial dalam karyanya. Dalam model kausal dasarnya, perubahan dalam fakta sosial nonmaterial
melahirkan perbedaan angka bunuh diri. Durkheim membedakan empat jenis bunuh
diri –egoistis, altruistis,anomik,dan fatalistis- dan memperlihatkan
bagaimana jenis-jenis ini dipengaruhi
perbedaan perubahan arus sosial. Studi tentang bunuh diri diambil oleh Durkheim
dan pengikutnya sebagai bukti bahwa sosiologi punya tempat yang sah dalam ilmu
sosial. Kemudian, ia berpendapat, jika sosiologi bisa menjelaskan sifat
individualistis sebuah tindakan semisal bunuh diri, jelaslah ia bisa digunakan
untuk menjelaskan yang lain, setidaknya aspek individual dari kehidupan sosial.
Karya ketiga Emile Durkheim adalah The Elementary forms of Religious Life, Durkheim
memfokuskan pada aspaek budaya lain:agama. Dalam analisisnya tentang agama
primitif, Durkheim mencoba melihat akar agama dalam struktur sosial masyarakat.
Masyarakatlah yang menetapkan sesuatu sebagai yanng sakral dan yang lain
sebagai yang profan. Durkheim menunjukkan sumber sosial dari agama dalam
analisisnya tentang totenisme dan akarnya dalam struktur sosial klan. Durkheim
menyimpulkan bahwa agama dan masyarakat adalah satu dan sama, dua manifestasi
dari proses umum yang sama. Dia juga mempresentasikan sosiologi pengetahuan
dalam karyanya. Dia mengklaim bahwa konsep dan bahkan kategori mental
fundamental kita adalah representasi kolektif yang diciptakan masyarakat,
setidaknya pada awalnya, melalui ritual
agama.[17]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan.
Emile Dhurkeim lahir pada tanggal
15 April 1858, di Epinel, Perancis. Ia adalah keturunan para rabi, namun ketika
ia berumur belasan tahun, ia menyangkal silsilah keturunannya (Strenski, 1997 :
4). Sejak saat itu, minat terhadap agama lebih akademis dari pada teologis
(Mestrovic, 1988). Hasratnya terhadap ilmu pengetahuan semakin besar ketika dia
melakukan perjalanan ke Jerman, di mana dia berkenalan dengan psikologi ilmiah
yang di rintis oleh wihlem wundt (Durkheim, 1887/1993). Di tahun-tahun setelah kunjungannya ke jerman, Durkheim menerbitkan
beberapa karya yang melukiskan pengalamannya di Jerman (R.Jones, 1994).
Publikasi-publikasi ini membantu dia memperoleh posisi di departemen filsafat
di Universitas Bordeaux pada tahun 1887.
Durkheim (1895/1982) menyatakan
bahwa pokok bahasan sosiologi haruslah berupa studi atas fakta sosial (lihat
Gane, 1998; Gilbert, 1994; dan edisi spesial Sociological Perspectives [1995]).
Secara singkat, fakta sosial terdiri dari struktur sosial, norma budaya, dan
nilai yang berada diluar dan memaksa aktor. Jenis – jenis Fakta sosial Menurut
Dhurkeim, yaitu Moralitas, Kesadaran Kolektif, Representasi Kolektif, Arus
Sosial, Pikiran Kelompok. Durkheim memilih studi bunuh diri karena persoalan
ini relatif merupakan fenomena kongkret dan spesifik di mana tersedia data yang
bagus secara komparatiff. . Ada 4 jenis bunuh diri di antaranya adalah Bunuh
diri egoistis, altruistis, Anomik, fatalistik.
B.
Daftar Pustaka.
Ritzer, George. Dan Douglas J. Goodman. 2008.
“Teori Sosiologi Modern”. Jakarta. Interpratama.
[1]George Ritzer & Douglas J. Goodman, “Teori
Sosiologi Modern”. cet 5. (Jakarta; Fajar Interpratama, 2008). Hal24-25
[2]George Ritzer dan Douglas J Goodman, “Teori Sosiologi”, (Yogyakarta, Kreasi
Wacana, 2010), hlm: 80
[3]Ibid... hlm: 81-82
[4]Ibid... hlm:83
[5]Ibid... hlm:84
[6]Ibid... hlm:85
[7]Ibid... hlm86
[8]Ibid... hlm:87
[9]Ibid... hlm:88
[10]Ibid... hlm:93-94
[11]Ibid... hlm:96
[12]Ibid... hlm:98
[13]Ibid... hlm:100
[14]Ibid... hlm:100
[15]Ibid... hlm:101
[16]Ibid... hlm:101-102
[17]Ibid... hlm:119-120
Comments
Post a Comment