MAKALAH SEJARAH FILSAFAT ISLAM
M A K A L A H
SEJARAH FILSAFAT ISLAM
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Setelah kata ''filsafat''
disebut, terbayanglah permainan kata-kata sulit yang ruwet kadang-kadang
mengada-ada hanya untuk berbicara tentang soal-soal yang tidak jelas
kegunaannya. Namun kita harus memecahkan teka-teki tersebut. Sebelum kita
belajar lebih dalam tentang filsafatislam kita harus tahu arti, dan sejarah
filsafat Islam terlebih dahulu.
Pola pikir filsafat sepanjang
sejarah memperlihatkan suatu hubungan tertentu. Karena itu mustahil mempelajari
filsafat tanpa mengetahui perkembangan filsafat sebelumnya. Sebab, maklumlah
filsafat abad kita meneruskan problematika filosofis yang diwarisi dari zaman
terdahulu. Memang tidak mudah untuk menemukan jalan dalam mengemukakan suatu
filsafat secara singkat dan tepat untuk mencapai tujuan yang pertama, yakni
menguraikan sejarah filsafat dengan mempelajari aliran-aliran para filosof.
B. Rumusan Masalah
1. Apa arti dari filsafat Islam ?
2. Bagaimana sejarah filsafat Islam ?
3. Siapa tokoh dari filsafat Islam ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Arti Filsafat Islam
Filsafat Islam merupakan filsafat yang seluruh cendekianya
adalah muslim. Ada sejumlah perbedaan besar antara filsafat Islam dengan
filsafat lain. Pertama, meski semula filsuf-filsuf muslim klasik menggali
kembali karya filsafat Yunani terutama Aristoteles, dan Plotinus, namun
kemudian menyesuaikannya dengan ajaran Islam.
Islam adalah agama tauhid. Maka, bila dalam filsafat lain masih 'mencari Tuhan',
dalam filsafat Islam justru Tuhan sudah ditemukan, dalam arti bukan berarti
sudah usang, dan tidak dibahas lagi, namun filsuf islam lebih memusatkan
perhatiannya kepada manusia, dan alam, karena pembahasan Tuhan hanya akan menjadi sebuah
pembahasan yang tak pernah ada finalnya.[1]
B.
Sejarah
Filsafat Islam.
Penaklukan Arab atas Timur Dekat, telah
rampung menjelang tahun 541, ketika Iskandariyah jatuh ketangan jenderal Arab,
“Amr bin al-‘Ash. Kebudayaan Yunani telah tumbuh subur di Mesir, Sria dan Irak,
sejak masa Iskandar Agung. Tetapi jatuhnya Iskandaria telah menundukkan mereka
kebawah kekuasaan Arab dan mengakhiri abad-abad lama kekuasaan Persia dan Bizantium di wilayah
tersebut.
Beberapa alasan telah dikemukakan berkenaan dengan
cepatnya proses penaklukan itu tindakan perluasan Kaisar Romawi, Heraclius,
pada tahun 610, menimbulkan suatu masa pertarungan sengit antara orang-orang
Persia dan Bizantium yang telah terlibat dalam suatu perjuangan panjang untuk
memperoleh pengaruh militer di Timur Dekat. Hal ini tentu saja sangat
melemahkan kekuatan kedua belah pihak yang telah bertarung demikian lama,
sehingga tentara Arab berhasil mencatat serangkain kemenangan yang menentukan
terhadap dua angkatan perang yang jauh lebih unggul dan banyak jumlahnya.
Selain itu, perbedaan dan pertengkaran keagamaan,
dimana terlibat orang orang Nestorian, Monofisite, dan Melchit (aliran Ortodoks),
menimbulkan rasa tidak puas dan senang penduduk Mesir, Siria dan Irak. Dalam
keadaan seperti itu, tidak heran kalau orang-orang Arab disambut sebagai
pembebas olah sebagian besar orang-orang yang berharap bahwa orang-orang Arab
itu dapat melenyapkan penindasan opresif dan konstantinopel yang dilakukan
dengan dalih menjaga Ortodoksi, terutama sejak masa pemerintahan Justinian
(527-565).
Iskandariah merupakan pusat studi filsafat dan
teologi Yunani yang sangat penting pada abad ke tujuh, sekalipun tentu saja
bukan satu-satunya. Di Siria dan Irak, Yunani sudah dipelajari sejak abad ke
empat; tepatnya di kota Antioch, Haraan, Edessa dan Qinnesrin di (kawasan)
Siria Utara, dan di kota Nisisbis dan ras ‘ain di dataran tinggi Irak.
Pusat-pusat studi ini masih berkembang subur ketika pasukan Arab memasuki Siria
dan Irak. Pengkajian terhadap Yunani telah di Usahakan terutama sebagai alat
untuk memberi kunci masuk kedalam naskah-naskah teologi yang mengalir terutama
dari Iskandariyah kepada sarjana-sarjan Siria dari berbagai lembaga yang patut
di hormati ini. Pada saat itu berbagai risalah teologi diterjemahkan kedalam
Siria.[2]
Penggantian bahasa Persia dan Yunani dengan Bahasa
Arab resmi negara menjelang akhir abad
ketujuh itu, menandai usaha perdana raja-raja Arab untuk menunjukkan keunggulan literer mereka,
seperti halnya keunggulan militer dan politik mereka atas bangsa-bangsa yang
ditundukkan. Apakah, seperti yang disinyalir beberapa sumber, penggantian
bahasa ini disebabkan oleh rasa iri kaum muslimin terhadap monopoli yang
dipertahankan orang-orang nonmuslim (terutama Kristen dan Yahudi) sebagai
pegawai-pegawai khalifah atau bukan, namun dari segi pertimbangan praktispun
pergantian tersebut merupakan keharusan.
Pertimbangan
praktis itu pun menghendaki adanya penerjemaan naskah-naskah ilmiah dan medis
kuno ke dalam bahasa Arab, sekalipun baru terbatas pada cabang ilmu pragmatis
murni atau semi pragmatis seperti kedokteran, kimia dan astrologi.[3]
Usaha penerjemahan tersebut berlangsung selama tidak
kurang dari satu setengah abad di zaman klasik Islam (abad ke-1 hingga abad
ke-7 H). Dan berlangsung secara besar-besaran di Baghdad sejak masa
pemerintahan Al-Mansur, serta mencapai puncaknya pada masa pemerintahan
Al-Makmun.Bahkan di masa Harun Ar-Rasyid, utusan khusus dikirim ke Kerajaan
Romawi untuk mencari manuskrip yang kemudian dibawa ke Baghdad untuk
diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.
Usaha ini telah menghasilkan tersedianya buku-buku
berbahasa Arab dalam jumlah besar di perpustakaan-perpustakaan, baik yang dibangun
para penguasa Muslim maupun yang dibangun para hartawan.Ketersediaan buku-buku
terjemahan tersebut dimanfaatkan oleh kalangan Muslim untuk berkenalan dengan
ilmu pengetahuan dan filsafat, seperti yang telah dilakukan oleh orang-orang
Yahudi, Kristen, dan Majusi pada masa-masa sebelum munculnya Islam.
Kegiatan penerjemahan dalam perkembangan berikutnya,
telah memunculkan tiga kelompok ahli ilmu pengetahuan :
I.
Pertama,
mereka yang memusatkan perhatian pada cabang-cabang ilmu pengetahuan saja.
Kelompok pertama ini disebut para ilmuwan.
II.
Kedua,
mereka yang selain mengkaji dan mengembangkan berbagai cabang ilmu pengetahuan,
juga memusatkan perhatian pada bidang filsafat. Kelompok kedua dinamakan para
filsuf.
III.
Ketiga, yakni mereka yang berupaya menguasai
berbagai cabang ilmu pengetahuan dan filsafat untuk keperluan berteologi.
Kelompok yang terakhir ini disebut para teolog.
Ilmu filsafat dalam Islam pertama kali muncul dan
berkembang di wilayah-wilayah Islam belahan timur, terutama di Baghdad. Baru
tiga abad kemudian, ilmu filsafat ini berkembang luas di dunia Islam belahan
barat yang berpusat di Cordoba (Spanyol).Keterlambatan tersebut disebabkan oleh
kenyataan bahwa buku-buku yang dihasilkan di dunia Islam belahan timur baru
masuk secara besar-besaran ke dunia Islam belahan barat sejak paruh kedua abad
ke-4 H, dengan dorongan dan bantuan dari pihak penguasa.[4]
C. Tokoh Filsafat Islam
Penerjemahan berbagai buku
ilmu pengetahuan tersebut memunculkan cendekiawan dan filosof , seperti
al-Kindi (801-873 M), ar-Razi (864-926 M), Ibnu Sina (980-1037 M).
A. Al-Kindi (801-873 M)
Abu Yūsuf Yaʻqūb ibn ʼIsḥāq
aṣ-Ṣabbāḥ al-Kindī (lahir: 801 - wafat: 873), dikenal sebagai filsuf pertama
yang lahir dari kalangan Islam. Semasa hidupnya, selain bisa berbahasa Arab, ia
mahir berbahasa Yunani. Banyak karya-karya para filsuf Yunani diterjemahkannya
dalam bahasa Arab; antara lain karya Aristoteles dan Plotinos. Sayangnya ada
sebuah karya Plotinus yang diterjemahkannya sebagai karangan Aristoteles yang
berjudul Teologi menurut Aristoteles, yang di kemudian hari menimbulkan sedikit
kebingungan.
Ia mendefinisikan filsafat
sebagai pengetahuan tentang segala sesuatu sejauh jangkauan pengetahuan
manusia. Karena itu, al-Kindi dengan tegas mengatakan bahwa filsafat memiliki
keterbatasan dan bahwa ia tidak dapat mengatasi problem semisal mukjizat,
surga, neraka, dan kehidupan akhirat. Dalam semangat ini pula, al-Kindi
mempertahankan penciptaan dunia, kebangkitan jasmani, mukjizat, keabsahan
wahyu, dan kelahiran dan kehancuran dunia oleh Tuhan.[5]
Ide-ide
al-Kindi dalam filsafat misalnya, filsafat dan agama tidak mungkin ada
pertentangan. Cabang termulia dari filsafat adalah ilmu tauhid atau teologi.
Filsafat membahas kebenaran atau hakekat. Kalau ada hakekat-hakekat mesti ada
hakekat pertama . yakni Tuhan. Ia juga membicarakan tentang jiwa dan akal.
B. Ar-Razi (864-926 M)
Abu Bakar Muhammad bin Zakaria
al-Razi atau dikenali sebagai Rhazes di
dunia barat merupakan pakar sains Iran yang hidup antara tahun 864-930. Ia
lahir di Rayy. Al-Razi lahir pada tanggal 28 Agustus 865 Hijirah dan meninggal
pada tanggal 09 Oktober 925 Hijriah. Nama Razi-nya berasal dari nama kota
Rayy.Ia adalah seorang pemikir atau filosof yang rasionalis yang tidak
mempercayai wahyu dan kenabian. Namun ia juga seorang muslim yang ingin
menginterpretasikan pemahamannya tentang Tuhan dan makhlukNya. Karena ia
seorang dokter, maka karyanya yang banyak adalah dalam bidang kedokteran.
Pemikiran
filsafatnya sangat rasionalis, bahkan ia tidak mempercayai eksistensi al-qur’an
dan kenabian. Ajaran yang terkenal darinya adalah lima kekal. Di samping itu,
ia juga mempunyai ajaran etika agar manusia tidak terlalu zuhud dan juga tidak
terlalu bermewah-mewah.[6]
C. Ibnu Sina (980-1037 M)
Abu Ali
Al Hussein Ibnu Sina, 980-1037M Seorang dokter, ahli kimia dan filosof islam,
membagi filsafat dalam dua bagian: teori dan praktek. Keduanya di hubungkan
dengan agama. Dasarnya terdapat pada syariat, penjelasan dan kelengkapannya
berdasarkan pada akal manusia. Tujuan filsafat praktek ialah mengetahui apa
yang seharusnya dilakukan oleh setiap orang sehingga ia mendapat kebahagiaan di
dunia dan di akhirat, yang disebut ilmu akhlak. Filsafat juga mencakup
undang-undang yaitu apa yang seharusnya dilakukan oleh setiap orang dalam
hubungan dengan rumah tangga dan negara.[7]
[2]
Prof. Majid Fakhry, Sejarah Filsafat Islam, Drs. R. Mulyadhi Kartanegara,
(Jakarta: Pustaka Jaya, cet. 1, 1986), hlm 27-28
[3]Ibid... hlm 32
[4]Mukhlistahier,
“SEJARAH MUNCULNYA FILSAFAT ISLAM”, https://ulielambry.wordpress.com/2012/02/14/sejarah-munculnya-filsafat-islam/, diakses pada tanggal 17 Oktober 2015
[6]http://syafieh.blogspot.com/2013/04/filsafat-islam-ar-razi-sejarah-dan.html, diakses pada tanggal 18 Oktober 2015
[7]Drs. H. Hamdani Ihsan dan Drs. H. A. Fuad
Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung;
CV PUSTAKA SETIA, 2007), h.13.
Comments
Post a Comment