Perjalanan Pendakian Merbabu via Selo
Petualangan kadang membuat kita jadi bergelut motivasi, meramu kreasi, dan menepi dari rutinitas untuk sejenak rencanakan hal lain dari keseharian lamanya berada dalam kenyamanan. Memang benar, kenyamanan itu perlu dicari dan ditemukan salah satunya melalui petualangan. Karenanya sebagai insan di era modern kita jadi mendapat ragam pilihan memilah petualangan. Di akhir bulan juli kemarin gerutu ingin melakukan pendakian mulai kuimbangi dengan usaha mencapainya. Mengajak teman yang juga se iya miliki kesamaan, mempersiapkan tubuh yang terlampau angkuh dengan kesehatan sehingga menjadikan diri jarang olahraga, hingga kumulai joging kecil di pagi dan penghujung hari naik turun jalanan belakang rumah sembari memikirkan persiapan logistik pendakian.
Carier, sleeping bag, nasting, tenda, kompor, gas, senter. Beruntung cerier, tenda, senter dapat pinjam kawan, selebihnya nyewa di Kajen. Terima kasih yang telah meminjami, maaf tidak aku sebutkan namanya. Takutnya kalian juga akan pinjam ke dia. Nanti aku jadi ga enak ke orangnya. Hehe .
Mulai perjalanan dari Kajen pukul 7 malam dan sampai di basecamp selo pukul 3 dini hari. Lama memang karena selain menepi untuk istirahat, solat, makan, cuci pakaian, gosok gigi, mengisi bahan bakar, sebat-sebat, dll. Sampai boyolalai kami sempat dilewatkan google maps keseutuh lebih kurang 2 km jalan rusak parah ditambah jalur yang naik turun berkelok. Beruntung di seperempat jalan bertemu seorang kawan pribumi yang baik hatinya bernama Mas Agus, dipandu lah kami menyusuri. Sampai di jalan yang halus dan harus berpisah arah dengan Mas Agus karena dia harus pulang dan kami yang akan ke jalur Selo. Ternyata disana juga ada beberapa kawan yang akan melakukan pendakian. Mereka juga tadinya lewat jalan rusak sehingga berhenti mengistirahatkan motor yang terlalu parah dipaksa jalan.
Mas Agus kemudian ikut berhenti dan mengajak kami istirahat sejenak dirumahnya untuk ngopi dan melepas penat perjalanan, malahan ditawari untuk sekalian tidur dirumahnya. Seduhan kehangatan menemani tubuh yang terlalu capek diperjalanan. Beruntung dapat ragam cerita dari Mas Agus. Diantaranya cerita gunung merbabu dan merapi yang sebetulnya diantara kedua gunung tersebut ada gunung lagi yang kalau tidak salah namanya gunung bibi berlokasi di wilayah Kecamatan Selo, Boyolali, Jawa Tengah dipercaya sebagai pelindung oleh warga setempat dari erupsi Merapi. Hal itu tak lepas dari kepercayaan warga setempat yang menganggap Gunung Bibi adalah ibu kandung Gunung Merapi. Namun jika secara ilmiah, sesuai berita yang dilangsir news.okezone.com di antara dua gunung itu terdapat banyak bukit, sehingga secara perbukitan inilah yang menghalau abu, awan panas, atau bahkan lava Merapi tak masuk ke wilayah Selo.
Selang beberapa jam, saat mesin motor mulai tak lagi panas dan penat sudah mulai hilang, kamipun memutuskan melanjutkan perjalanan. Beribu terima kasih kami sampaikan untuk Mas Agus yang memang karena sama sama memiliki jiwa petualang maka rasa empati nya juga tinggi. Mungkin kalau tidak bertemu Mas Agus dijalan rusak, kami akan balik kanan bubar jalan. Pun kalau kami tidak menghiraukan ajakan Mas Agus juga tidak akan mengenalnya. Tapi karena kita memang diperjalanan hal apapun bisa saja terjadi maka kalau tidak ada hal yang mencurigakan, apa salahnya mengikuti ajakan, niatkan saja untuk nambah persaudaraan. Setelahnya kalau mau ndaki di Merbabu bisa langsung kontak beliau hehe.
Sampai di basecamp selo pukul 3.30 biaya masuk Desa 5.000 per orang, dan parkir motor 15.000, tidurlah kami di basecamp dengan SB dan jaket yang masih nempel dibadan. Asli itu dingin banget terbesit dibenakku ini gimana jadinya kalau digunung bisa jadi menggigil, ah ragam prasangka seneng susah campur deh mengiringi kantuk dan terlelap tidur.
Paginya aku lihat dari jendela basecamp ga nyangka Mentari terlihat cantik sekali di atas awan dan terlihat siluet gunung lawu. Beranjaklah aku keluar pandangan kuarahkan ke Selatan terlihat gunung merapi begitu dekat syekali.. Pemandangan asri pedesaan lengkap dengan pertanian, kicauan burung, dan warganya yang ramah.
Mulai tracking jam 10 pagi. Kami ber 5 bergandengan melingkar didepan basecamp sembari berdoa khas pendaki " semoga bisa naik dan turun lagi, kembali pulang kerumah dan melakukan aktifitas sehari hari dengan selamat.” alfatihah
Karena hari sabtu pendaki jumlahnya banyak sekali, ngurus Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI) di pendaftaran sampai antri nun jauh disana. Kamipun mengurus simaksi via online agar lebih cepat ngga terlalu antri. Masuk gerbang pendakian per orang dikenai tarif 15.000 Track awal sampai Pos 1 nuansa kanan kiri hutan lebat. pos 1 sampai pos bayangan masih hutan. Begitu jalan dari pos bayangan sampai pos 2 mulai terbuka dan disini kami mulai merasa lelah namun tetap usaha sampai Pos 3 sekitar jam 13.00, disini memutuskan untuk istirahat menggelar matras dan tidur sejenak karena semalam tidurnya kurang.
Setelah itu sekitar jam 15.30 kami memutuskan untuk naik sampai Sabana 1. Disela perjalanan kami target sunset di sabana 1 dan alhamdulillah kesampaian.
Di Sabana 1 mulai milih tempat yang rimbun adelweis agar tidak terlalu mobat mabit ketiup angin.
Malamnya masak ngopi, ngejahe, goreng nuget dll.. Pengennya cerita bercurah hati di malam tapi sudah terlanjur capek dan karipan sehingga memutuskan untuk tidur lebih awal. Jam 4 aku dibangunkan temanku untuk summit atau menuju puncak, namun karena anginnya yang kencang sehingga mutuskan ngga sampai puncak untuk sunrise disabana 1 saja. Keluar tenda di pagi hari menuju arah timur terlihat matahari pagi yang indah tak berkesudahan. Degradasi warna dan awan tenang nun elok menyambut dengan kehangatan. Kembali ke tenda untuk masak sarapan pagi dan ambil foto hingga Pukul 10 pagi mulai packing dan turun sampai basecamp jam 2.. lebih cepat ya, yaiyalah kan turun.
Indah sekali memang alam Indonesia. Kita butuh bersyukur, menghargai jasa pahlawan yang merebut kemerdekaan demi kenyamanan kita.
Karenanya menjaga kelestarian lingkungan dan keseimbangan sosial budaya adalah salah satu perjuangan yang sampai saat ini masih butuh pertahanan.
Selain untuk melihat keindahan alam, ndaki juga tentang persahabatan. Kekompakan, saling membantu bukan hanya dengan tim sendiri tapi juga dengan pendaki lain.
Tapi ndaki juga bbutuh persiapan yang matang. Persiapan fisik dan mental harus dioptimalkan.
Bagaimanapu alam bebas itu akan terasa nyaman dan tidak menakutkan jika kita memang sudah mempersiapkan segalanya. Termasuk mendaki dengan seseorang yang pernah melakukan pendakian, sehingga bisa mengarahkan kita yang masi pemla.
Teman Merbabu
-Heru
-Silmi
-Andi
-Aji
27-28 juli 2019

Comments
Post a Comment