Petrus Hispanus – Silogisme Kategorik



A R T I K E L
Petrus Hispanus – Silogisme Kategorik
Artikel ini disusun untuk memenuhi tugas UTS mata kuliah
Logika


Petrus Hispanus – Silogisme Kategorik

Peter dari Spanyol (Latin: Petrus Hispanus; Portugis dan Spanyol; Pedro Hispano hidup pada  abad ke-13) adalah penulis Tractus, kemudian dikenal sebagai Summulae Logicales, yang kemudian menjadi buku  pelajaran penting pada (Medieval University) sebuah Universitas abad pertengahan dalam pembelajaran (Aristotelian Logic) logika Aristoteles.[1] Kemudian Petrus Hispanus menghembuskan nafas terakhir pada 1277 M.[2]
Petrus Hispanus adalah penyusun pelajaran logika berbentuk sajak. Petrus Hispanus lah yang mula-mula mempergunakan berbagai nama untuk sistem penyimpulan yang sah dalam kaitannya dengan bentuk silogisme kategorik dalam sebuah sajak. Dan kumpulan sajak petrus Hispanus mengenai logika ini bernama summule.[3]
Silogisme kategorik adalah silogisme yang semua proporsinya merupakan proposisi kategorik. Demi lahirnya konklusi maka pangkal umum tempat kita berpijak harus merupakan proposisi universal. Sedangkan pangkalan khusus tidak berarti bahwa proposisinya harus partikular atau singular, tetapi bisa juga proposisinya universal, dan ia diletakkan dibawah aturan pangkalan umumnya. Pangkalan khusus bisa menyatakan permasalahan yang berbeda dari pangkalan umumnya, tetapi bisa juga merupakan kenyataan yang lebih khusus dari permasalahan umumnya.[4]
Sekarang kita praktekkan bagaimana dua permasalahan dapat menghasilkan kesimpulan yang sah:
Semua manusia tidak lepas dari kesalahan
Semua ilmuwan adalah manusia
Pangkalan umum disini  adalah propoosisi pertama sebagai pernyataan universal yang ditandai dengan kuantifier “semua” untuk menegaskan adanya sifat yang berlakuu bagi manusia secara menyeluruh. Pangkalan khususnya adalah proposisi kedua, meskipun ia juga merupakan pernyataan universal ia berada di bawah aturan pernyataan pertama sehingga dapat disimpulkan: semua ilmuwan tidak lepas dari kesalahan.[5]

Contoh sebagai berikut sebagai unsur silogisme:
Semua tanamanmembutuhkan air (permis mayor)
                          M                   P
Ketela pohon adalah tanaman (permis minor)
               S                     P
Ketela pohon membutuhkan air (konklusi)
               S                   P
Keterangan:
S = subyek; P = predikat; M = middle term.
·         Hukum-hukum Silogisme Kategorik :
Agar mendapat kesimpulan yang benar, kita harus memperhatikan patokan-patokan silogisme. Patokan-patokan itu adalah:[6]
a)      Apabila dalam satu premis partikular, kesimpulan harus partikular juga, seperti:
Semua yang halal dimakan menyehatkan
Sebagian makanan tidak menyehatkan
Jadi: Sebagian makanan tidak halal dimakan
(Kesimpulan tidak boleh: Semua makanan tidak halal dimakan)

b)      Apabila salah satu premis negatif, kesimpulan harus negatif juga, seperti:
Semua korupsi tidak disenangi.
Sebagian pejabat adalah korupsi
Jadi: Sebagian pajabat tidak disenangi
(Kesimpulan tidak boleh: Sebagian pejabat disenangi)
c)      Dari dua premis yang sama-sama partikular tidak sah diambil kesimpulan. Kesimpulan yang diturunkan dari premis partikular tidak pernah menghasilkan kebenaran yang pasti, oleh karena itu kesimpulan seperti;
Sebagian besar pelaut dapat menganyam tali secara baik
Hasan adalah pelaut
Jadi: Kemungkinan besar Hasan dapat menganyam tali secara baik
d)     Dari  dua premis yang sama-sama negatif, tidak menghasilkan kesimpulan apapun, karena tidak ada mata rantai yang menghubungkan kedua proposisi premisnya positif. Kesimpulan yang ditarik dari dua premis negatif adalah tidak sah.
Kerbau bukan bunga mawar.
Kucing bukan bunga mawar.
(.... Tidak ada kesimpulan)
e)      Paling tidak salah satu dari term penengah harus tertebar (mencakup). Dari dua yang term penengahnya tidak tertebar akan menghasilkan kesimpulan yang salah, seperti:
Semua ikan berdarah dingin.
Binatang ini berdarah dingin.
Jadi: Binatang ini adalah ikan
(padahal bisa juga binatang melata)
f)       Term predikat dalam kesimpulan harus konsisten dengan term predikat yang ada pada premisnya. Bila tidak, kesimpulan menjadi salah, seperti:
Kerbau adalah binatang.
Kambing bukan kerbau.
Jadi: kambing bukan binatang.
(‘Binatang’ pada konklusi merupakan term negatif sedangkan pada premis adalah positif)
g)      Term penengah harus harus bermakna sama, baik dalam premis mayor maupun premis minor. Bila term penengah bermakna ganda kesimpulan menjadi lain, seperti:
Bulan itu bersinar di langit.
Januari adalah bulan.
Jadi: Januari bersinar di langit
(Bulan pada premis minor adalah nama dari ukuran waktu yang panjangnya 31 hari, sedangkan pada premis mayor berarti planet yang mengelilingi bumi).
h)      Silogisme harus terdiri dari tiga term, yaitu term subyek, term predikat dan term middle. Apabila terdiri dari sebuah tema tidak bisa diturunkan konklusi, begitu pula bila terdiri dari dua atau lebih dari tiga term.

·         Absah dan benar
Dalam pembahasan silogisme kita harus mengenal dua istilah yaitu absah dan benar.
Absah (valid) berkaitan dengan prosedur penyimpulannya, apakah pengambilan konklusi sesuai dengan patokan atau tidak. Dikatakan valid apabila sesuai dengan patokan di atas dan dikatakan tidak valid bila sebaliknya.
 Benar berkaitan dengan proposisi dalam silogisme itu, apakah ia didukung atau sesuai dengan fakta atau tidak. Bila sesuai dengan fakta, proposisi itu benar, bila tidak ia salah.
 Keabsahan dan kebenaran dalam silogisme merupakan suatu satuan yang tidak bisa dipisahkan, untuk mendapatkan konklusi yang sah dan benar. Hanya konklusi dari premis yang benar dari prosedur yang sah konklusi itu dapat diakui. Hal itu karena bisa terjadi dari premis salah dan prosedur valid menghasilkan konklusi yang benar, demikian juga dari premis salah dan prosedur invalid dihasilkan konklusi benar.[7]


[1]https://en.wikipedia.org/wiki/Peter_of_Spain
[2]Klaus Bergdolt, Wellbeing a cultural history of helathy living, ( English Translation, 65 Bridge street, Polity Press, 2008), hlm 140
[3] H.A Kadir Sobur, Logika dan Penalaran Dalam Perspektif Ilmu pengetahuan, (Fakultas Ushuluddin Jambi, 2015) hlm. 393
[4]Mundiri, LOGIKA, (Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 2012), hal.100
[5] Ibid, hal.101
[6]Khalima, Logika Teori dan Aplikasi, (Jakarta, Gaung Persada Press, 2011), hal. 140
[7] Mundiri, LOGIKA, hal.106

Comments

Popular posts from this blog

Makalah I Teknik Analisis Gender model harvard

Makalah "Pembuatan Keputusan" mata kuliah Pengantar Manajemen

MAKALAH I Tokoh Sosiologi Emile Durkheim