MAKALAH I Fiqih Ibadah - Zakat Perdagangan & Pertambangan
Zakat Perdagangan & Pertambangan
Makalah ini disusun
untuk memenuhi tugas mata kuliah
Fiqih Ibadah
I.
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Zakat merupakan rukun Islam
ke-4. Syari’ahnya menjadi pertanda bahwa Islam adalah agama yang Rahmatan Lil ‘Alamin. Namun kecintaan
pada harta dunia dan kurang pahamnya kaum muslim tentang zakat, membuat kaum
muslim lupa untuk berbagi kepada orang lain.
Ada zakat persewaan,
perkebunan, pertanian, perdagangan, pertambangan, dll. Pada makalah ini akan
kami bahas tentang zakat perdagangan dan pertambangan.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana pengertian, waktu, dan Nishab, zakat
perdagangan ?
2.
Bagaimana pengertian, waktu, dan Nishab, zakat pertambangan
?
II.
Zakat Perdagangan &
Pertambangan
A.
Zakat Perdagangan (Tijaroh)
Tijaroh (dagang) menurut istilah fiqih adalah
mentasarufkan (mengolah) harta dengan cara tukar menukar untuk memperoleh laba
dan disertai dengan niat berdagang.
Tijaroh
identik dengan dagang atau niaga, walaupun dagang atau jual beli bukan satu
satunya aqad yang dimaksud dengan tijaroh. Tijaroh mencakup setiap transaksi
(aqad) yang menggunakan sistem pertukaran dengan maksud keuntungan dengan
disertai niat. Dan harta yang menjadi sarana tijaroh (komoditi) disebut harta
tijaroh. Dengan demikian termasuk kategori tijaroh adalah jual beli (barang
atau jasa), sewa menyewa (barang atau jasa), aqad bagi hasil, dan setiap
transaksi yang didalamnya terdapat tukar menukar.
Abu Dawud dan Al Hakim
meriwayatkan, yang artinya :
“Rasulullah SAW memerintahkan
kepada kami agar mengeluarkanzakatnya barang-barang yang kami sediakan untuk
jual beli”
Setiap transaksi yang
menggunakan sistem pertukaran dan disertai niat dagang, apabila telah menetapi
syarat-syaratnya wajib untuk dikeluarkan zakatnya. Sedangkan transaksi yang
tidak menggunakan sistem pertukaran, atau pertukaran yang tidak disertai niat
dagang, maka tidak wajib zakat. Seperti harta warisan, harta pemberian dan
lain-lain.[1]
1.
Waktu zakat tijarah
Disyaratkan
sempurna satu haul untuk zakat harta benda perdagangan. Haul adalah genap satu
tahun hijriah 354 hari, bermula sejak dimilikinya harta benda perdagangan
melalui transaksi. Jika telah sempurna haulnya, dan harta dagangan mencukupi
nishab, maka diwajibkan zakatnya jika tidak mencukupi nishab, dan pemilik harta
tersebut tidak memiliki harta perdagangan lainnya untuk mencukupi nishab
tersebut, maka ia tidak diwajibkan menunaikan zakat.[2]
Harta tijaroh
yang belum haul tidak wajib dikeluarkan zakatnya. permulaan haul atau masa satu
tahun dari harta tijarah adalah:[3]
a.
Jika alat penukar pertama yang digunakan memiliki harta
tijarah berupa “nuqud” (mata uang emas atau perak) atau emas / perak dan
jumlahnya mencapai satu nishab atau lebih, maka masa satu tahun terhitung sejak
memiliki nuqud tersebut, tidak sejak memulai dagang atau memiliki harta
dagangan.
b.
Alat penukar pertama yang digunakan memiliki harta
tijarah berupa “selain nuqud” (mencapai nishab ataupun tidak) atau berupa nuqud
yang jumlahnya kurang dari nishab, maka masa satu tahun terhitung sejak memulai
tijarah (memiliki harga dagangan).
2.
Nishab zakat tijarah.
Nishab adalah
ukuran atau batas terendah yang ditetapkan agama untuk menjadi pedoman dalam
menentukan kewajiban zakat. Nishabnya tijarah menggunakan standar nishabnya
alat penukar atau alat pembelian pertama, yaitu :[4]
a.
Apabila alat penukar (modal) pertama menggunakan emas
atau mata uang emas, maka harta tijaroh mencapai nishab apabila nilainya sama
dengan nilai emas murni 77,58 gr atau lebih.
b.
Apabila alat penukar pertama menggunakan perak atau mata
uang perak maka harta tijaroh mencapai nishab apabila nilainya sama dengan
nilai perak 543,06gr atau lebih.
c.
Apabila alat penukar pertama menggunakan selain emas dan
perak maka nishab tijarah di standarkan dengan nisabnya salah satu dari emas
atau perak.
3.
Menentukan Nishab Harta Tijaroh.
Nishabnya harta tijaroh hanya diperhitugkan saat haul
(genap satu tahun), tidak disyaratkan selama masa satu tahun jumlah nilai harta
tijaroh selalu mencapai nishab. Apabila saat haul nilai harta tijaroh mencapai nishab, maka
wajib zakat. Walaupun pada saat pertama memulai tijaroh, atau dipertengahan
tahun jumlah nilainya kurang dari nishobnya.[5]
Cara menentukan nishabnya harta tijaroh adalah :[6]
a.
Modal awalnya emas
Apabilla modal awal untuk memiliki harta tijaroh berupa
emas atau mata uang emas, maka tijaroh mencapai nishab ketika nilainya sama
atau melebihi nishabnya emas.
Contoh:
Saat haul harta tijaroh, 1gr.emas murni = Rp. 100.000,-
=100.000 x 77.58 = 7.758.000,-
Jika nilai harta tijaroh mencapai Rp. 7.758.000,- maka
wajib zakat, yaitu 2,5% nya nilai harta tijaroh. Dan jika tidak mencapainya
maka tidak wajib zakat.
b.
Modal awalnya perak
Apabilla modal awal untuk memiliki harta tijaroh berupa
perak atau mata uang perak, maka tijaroh mencapai nishab ketika nilainya sama
atau melebihi nishabnya perak.
Contoh:
Saat haul harta tijaroh, 1gr.perak murni = Rp. 15.000,-
=15.000 x 543.06 = 8.145.900,-
Jika nilai harta tijaroh mencapai Rp. 8.145.900,- maka
wajib zakat, yaitu 2,5% nya nilai harta tijaroh. Dan jika tidak mencapainya
maka tidak wajib zakat.
c.
Modal awalnya emas dan perak
Apabila modal awal untuk memiliki harta tijaroh berupa
emas atau mata uang emas dan perak atau mata uang perak, maka bandingkan antara
nishab emas dengan nishabnya perak.
Contoh :
Jika nishabnya emas sebanding dengan nishabnya perak,
maka setengah dari harta dagangan dihitung dengan standart emas, dan
setengahnya lagi dihitung dengan standart perak. Apabila masing-masing mencapai
nishab, maka masing-masing wajib dizakati, dan jika sebagian mencapai nishab
dan sebagiannya lagi tidak, maka bagian yang mencapai nishablah yang wajib
dizakati dan bagian yang tidak mencapai nishab tidak wajib dizakati. Namun
apabila keduanya tidak mencapai nishab, maka masing-masing tidak wajib
dizakati.
d.
Modal awalnya selain emas dan perak
Apabila modal awal untuk memiliki harta tijaroh berupa
selain emas dan perak (misalnya uang rupiah, tanah, rumah ,dll), maka nishabnya
disamakan dengan salah satu nilai nishabnya emas atau perak yang lebih dominan
di daerah negaranya. Dan ulama lebih cenderung menggunakan emas sebagai standar
nishabnya tijaroh untuk daerah yang tidak menggunakan mata uang emas atau perak.
Cara menentukan kadar zakat yang harus dikeluarkan
adalah:
Nilai seluruh harta tijaroh dibagi 40 atau dikalikan
2,5%.
Hasilnya adalah zakat yang wajib dikeluarkan.
B.
Zakat Pertambangan
(Ma’din)
(Ma’din) Barang tambang adalah segala benda berharga yang ditemukan dari
perut bumi. Seperti emas, perak, permata, besi, timah, tembaga dll. Menurut
Imam Syafi’i dan Imam Maliki, Ma’din yang wajib dizakati hanya jenis emas dan
perak. Selain emas atau perak tidak wajib dikeluarkan zakatnya.
Dalam hadist riwayat Bukhori disebutkan, yang artinya :
“Sesungguhnya Rosulullah SAW telah mengambil (zakat) dari
hasil tambang di negeri Qobaliyyah” (HR Bukhori)
Menurut pendapat yang masyhur dikalangan syafi’iyah dan malikiyah,
nishabnya ma’din sama dengan nishabnya emas dan perak, yaitu 77,58 gr untuk
emas dan 543,06 untuk perak. Sedangkan zakat yang perlu dikeluarkan adalah 1/40
atau 2,5 %.[7]
1.
Waktu membayarkan zakat pertambangan (Ma’din)
Waktu diwajibkannya menunaikan zakat Ma’din adalah sejak
barang tambang itu dikeluarkan. Akan tetapi, waktu menunaikan zakatnya adalah
setelah dilakukan pembersihan dan penyaringan dari tanah dan kotoran lainnya.
Jika pembayaran zakat disertai dengan kotoran dan tanah lainnya, dibersihkan,
maka hal itu tidak diperbolehkan.
Bila
sebagian barang tambang yang ditemukan hilang sebelum dilakukan penyaringan dan
pembersihan, maka barang tersebut tidak wajib dizakati. Ini dikiaskan dengan
hilangnya sebagian harta zakat sebelum ditunaikan zakatnya. Jika pemilik barang
tambang enggan melakukan pembersihan barang tambang, maka ia harus dipaksa
melakukannya. Bila penemu barang tambang tersebut memiliki utang, maka hal itu
tidak menghalangi kewajibannya untuk membayar zakat barang tambang tersebut.
Ini menurut pendapat yang lebih sahih dalam mazhab syafi’i.[8]
2.
Nishab dan zakat pertambangan (Ma’din)
a.
Emas
Nishabnya = 20 mitsqol syar’i atau 77,58 gr
Zakatnya = 1/40 atau 2,5%
Contoh:
Jumlah Emas (Ma’din)
120 gr
=120 : 40 (atau x
2,5% ) = 3 gr
Zakatnya = 3 gr
|
b.
Perak
Nishabnya =
200 dirham syar’i atau 543,06 gr
Zakatnya =
1/40 atau 2,5%
Contoh:
Jumlah Perak (Ma’din) 600 gr
= 600 : 40 (atau x 2,5%)= 15 gr
Zakatnya =
15 gr
|
III.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Tijaroh
(dagang) menurut istilah fiqih adalah mentasarufkan (mengolah) harta dengan
cara tukar menukar untuk memperoleh laba dan disertai dengan niat berdagang.
Setiap transaksi yang menggunakan sistem pertukaran dan disertai niat dagang,
apabila telah menetapi syarat-syaratnya wajib untuk dikeluarkan zakatnya.
Disyaratkan sempurna satu haul untuk zakat harta benda perdagangan. Haul adalah
genap satu tahun hijriah 354 hari, bermula sejak dimilikinya harta benda
perdagangan melalui transaksi. Nishab adalah ukuran atau batas terendah yang
ditetapkan agama untuk menjadi pedoman dalam menentukan kewajiban zakat.
Nishabnya tijarah menggunakan standar nishabnya alat penukar atau alat
pembelian pertama, yaitu : emas, perak, gabungan emas dan perak, atau selain
emas dan perak.
(Ma’din)
Barang tambang adalah segala benda berharga yang ditemukan dari perut bumi.
Seperti emas, perak, permata, besi, timah, tembaga dll. Menurut Imam Syafi’i
dan Imam Maliki, Ma’din yang wajib dizakati hanya jenis emas dan perak. Selain
emas atau perak tidak wajib dikeluarkan zakatnya. Menurut pendapat yang masyhur
dikalangan syafi’iyah dan malikiyah, nishabnya ma’din sama dengan nishabnya
emas dan perak, yaitu 77,58 gr untuk emas dan 543,06 untuk perak. Sedangkan
zakat yang perlu dikeluarkan adalah 1/40 atau 2,5 %. Waktu diwajibkannya
menunaikan zakat Ma’din adalah sejak barang tambang itu dikeluarkan. Akan
tetapi, waktu menunaikan zakatnya adalah setelah dilakukan pembersihan dan
penyaringan dari tanah dan kotoran lainnya.
B.
Daftar Pustaka
Khoir,
M Masykur. 2010. Risalah Zakat. Kediri:
Duta Karya Mandiri.
El-Madani.
2013. Fiqih Zakat Lengkap.Jogjakarta:
Diva Press
[1]M. Masykur Khoir, Risalah Zakat, (Kediri: Duta Karya Mandiri, 2010), hlm: 66-67
[2]El-Madani, Fiqih Zakat Lengkap, (Jogjakarta: Diva Press, 2013), hlm: 101
[3]M.
Masykur Khoir... hlm: 68-69
[4]M.
Masykur Khoir... hlm: 69-70
[5]M.
Masykur Khoir... hlm: 74-75
[6]M.
Masykur Khoir... hlm: 75-77
[7]M. Masykur Khoir... hlm: 45
[8]El-Madani... hlm: 113-114
Comments
Post a Comment