MAKALAH I Gender - Konsep Perempuan dalam Pembangunan



M A K A L A H
Konsep Perempuan dalam Pembangunan
(Women and Development/WAD)
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Gender & Pembangunan
A.    Latar Belakang
Partisipasi masyarakat dalam suatu kegiatan pembangunan sudah menjadi barang tentu sangatlah penting dan bahkan menentukan. Adanya keterlibatan masyarakat dalam tahapan setiap pembanngunan diharapkan akan menghasilkan pembangunan yang berkelanjutan.
Pada prinsipnya pembangunan harus memberikan kemakmuran dan keadilan untuk semua masyarakat, termasuk laki-laki dan perempuan, kepada orang kaya dan miskin, tanpa ketimpangan relasi gender yang berbasis kekuasaan. Hal ini dapat dilihat dari minimnya akses perempuan pada kegiatan-kegiatan produktif. Hal ini berdampak pada semakin kecilnya peran dan fungsi perempuan dalam pelaksanaan pembangunan dan membuat kualitas hidup perempuan semakin menurun.
Ketika program WID gagal dalam memperbaiki posisi perempuan, pada perkembangan selanjutnya, wawasan Women and Development (WAD), yang dicetuskan oleh kaum feminis-Marxis, menarik kesimpulan bahwa semata-mata keterlibatan perempuan dalam dunia kerja tidak  akan mengangkat status mereka, tetapi justru memperkokoh dependensi ekonomi kaum proletar. Dalam hal demikian pendekatan ini cenderung kurang mengindahkan sifat penindasan gender perempuan. Sehingga untuk meningkatkan status, kedudukan, dan peran perempuan harus ada upaya mengubah struktur internasional supaya menjadi lebih adil, dengan tetap menekankan pada keterlibatan perempuan pada kegiatan mendatangkan pendapatan.[1]
Untuk itu dalam makalah ini akan kami bahas tentang konsep perempuan dalam pembangunan dan Women And Development (WAD)
A.    KonsepPerempuan Dan Pembangunan / WAD
Perempuan dan pembangunan (WAD) merupakan satu pendekatan feminis neo-Marxis, yang muncul pada paruh terakhir 1970an yang berasal dari suatu kepedulian terhadap keterbatasan teori modernisasi. Bukannya menitik beratkan kepada strategi untuk “mengintegrasikan perempuan dalam pembangunan”, pendekatan ini justru menunjukkan bahwa perempuan selalu penting secara ekonomi, kerja yang dilakukannya dalam rumah tangga. WAD mengakui bahwa laki-laki miskin juga menjadi korban dari proses pembangunan yang mengabaikan mereka, tetapi proses itu cenderung mengelompokkan perempuan tanpa menganalisis pembagian kelas, ras dan etnis diantara mereka secara memadai. Pendekatan WAD berasumsi bahwa posisi perempuan akan lebih baik ketika struktur internasional menjadi lebih adil. Posisi perempuan dilihat sebagai bagian dari struktur internasional dan ketidak adilan kelas, Pendekatan WAD cenderung menitik beratkan kepada kegiatan yang mendatangkan pendapatan dan kurang mengindahkan tenaga perempuan yang disumbangkan dalam mempertahankan keluarga dan rumah tangga.[2]
Dengan pendekatan Women and Development (WAD,perempuan telah berperan penting dalam kehidupan ekonomi masyarakat. Pekerjaan yang dilakukan kaum perempuan, baik di sektor publik maupun domestik, telah berfungsi untuk mempertahankan eksistensi masyarakat. Ini berarti, kaum perempuan justru telah mendukung eksistensi struktur masyarakat yang timpang, atau secara tidak sadar perempuan mendukung penindasan terhadap kaumnya sendiri.Pendekatan WAD mengasumsikan bahwa perempuan akan meningkat jika struktur politik-ekonomi internasional merata. Tetapi, strategi ini hanya berfokus pada pengembangan peningkatan pendapatan bagi perempuan.[3]
Pendekatan WAD hanya berfokus pada hubungan perempuan dan pembangunan yang melihat bahwa laki-laki kelas bawah, juga tertindas oleh struktur masyarakat internasional yang tidak adil. Dengan demikian WAD belum menganalisis problem perempuan secara terpisah dengan problem laki-laki. Padahal, relasi perempuan dan laki-laki masih timpang. Banyak asumsi bahwa sebelum dipastikan perempuan mendapatkan akses pekerjaan yang lebih baik untuk meningkatkan posisinya, masuknya kaum perempuan disektor publik belum sepenuhnya memecahkan masalah perempuan.[4]
Landasanteori WAD adalah Dependensi. Fokus WAD adalah pada kritisi bahwa pengintegrasian pada praktiknya adalah marginalisasi. Kontribusi yang diberikan WAD adalah padapemahaman terdapatnya kesenjangan structural. Gambaran umum pada  WAD ini adalah mendesak perubahan struktural dalam penguasaan sumberdaya produktif.
Dependensi atau keadaan bergantung kepada orang lain dalam hal ini kami artikan sebagai masih bergantungnya perempuan pada system politik-ekonomi internasional yang tidak adil serta keterlibatan kaum perempauan pada dunia kerja tidak  akan mengangkat status mereka, akan tetapi  justru memperkokoh dependensi ekonomi kaum proletar.

B.     Kelemahan WAD
WAD memang sudah menawarkan analisis lebih kritis tentang posisi perempuan dibandingkan WID. Namun, WAD masih gagal dalam menganalisis secara baik hubungan budaya patriarki dan corak produksi masyarakat yang berbeda antara kapitalisme dan sosialisme dengan subordinasi dan penindasan perempuan. Pendekatan WAD secara implisit mengasumsikan bahwa posisi perempuan akan meningkat jika struktur politik ekonomi internasionl tidak timpang.[5]
Strategi WAD cenderung berfokus pada pengembangan kegiatan meningkatkan pendapatan, tanpa memperhitungkan beban waktu yang ditimpakan pada kaum perempuan. Pekerjaan rumah tangga dan reproduksi sosial yang dilakukan perempuan tidak diberi nilai ekonomis, sehingga pekerjaan itu berada diluar jalur pembangunan.Sesungguhnya pendekatan WAD lebih menekankan pada analisis ekonomi dan politik daripada analisis hubungan sosial yang mensubordinasi perempuan.[6]


A.    Kesimpulan
Perempuan dan pembangunan (WAD) merupakan satu pendekatan feminis neo-Marxis, yang muncul pada paruh terakhir 1970an yang berasal dari suatu kepedulian terhadap keterbatasan teori modernisasi. Bukannya menitik beratkan kepada strategi untuk “menginntegrasikan perempuan dalam pembangungan”, pendekatan ini justru menunjukkan bahwa perempuan selalu penting secara ekonomi, kerja yang dilakukannya dalam rumah tangga.
Dengan pendekatan Women and Development (WAD),perempuan telah berperan penting dalam kehidupan ekonomi masyarakat. Pekerjaan yang dilakukan kaum perempuan, baik di sektor publik maupun domestik, telah berfungsi untuk mempertahankan eksistensi masyarakat.
WAD masih gagal dalam menganalisis secara baik hubungan budaya patriarki dan corak produksi masyarakat yang berbeda antara kapitalisme dan sosialisme dengan subordinasi dan penindasan perempuan.Sesungguhnya pendekatan WAD lebih menekankan pada analisis ekonomi dan politik daripada analisis hubungan sosial yang mensubordinasi perempuan.


B.     Daftar Pustaka
Vera A. R. Pasaribu 2009. “PEREMPUAN DAN PEMBANGUNAN NASIONAL INDONESIA”. Medan: Karya Ilmiah. FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN MEDAN
A. Nunuk P. Murniati. 2004. ”Getar Gender”. Magelang: IndonesiaTera



[1]Vera A. R. Pasaribu, S.Sos., MSP, “PEREMPUANDANPEMBANGUNAN NASIONAL INDONESIA”, (Medan, 2009, KaryaIlmiah. FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN MEDAN). hlm: 44
[2] , hlm: 208-209
[3] A. Nunuk P. Murniati, ”Getar Gender”, (Magelang: IndonesiaTera, 2004) hlm: 99
[4]Ibid.. hlm: 25
[5]Ibid.. hlm: 104
[6]Ibid.. hlm:104

Comments

Popular posts from this blog

Makalah I Teknik Analisis Gender model harvard

Makalah "Pembuatan Keputusan" mata kuliah Pengantar Manajemen

MAKALAH I Tokoh Sosiologi Emile Durkheim