Makalah I Teknik Analisis Gender model harvard
M A K A L A H
Teknik Analisis
Gender
dalam Mengimplementasikan
Pengarusutamaan Gender
Makalah ini disusun
untuk memenuhi tugas mata kuliah
Gender & Pembangunan

A.Latar
Belakang
Pertanyaan
“mengapa” adalah pisau untuk mengetahui sebab. Sebab adalah jawaban, dan supaya
jawaban menunjukkan realitas maka jawaban dicari dari kenyataan hidup dalam
masyarakat. Sebuah analisis kritis membutuhkan informasi kehidupan dari segala
aspek.dengan kata lain,seorang analis akan selalu kritis apabila ia terbuka
terhadap segala macam informasi tentang realitas kehidupan.[1]
Setelah belajar megenai teori dan konsep gender
pembahasan kami pada makalah ini akan mengarah pada teknik analisis gender agar
peahaman tentang gender semakin mendalam dan mengerti teknik yang dapat
digunakan dalam menganalisa gender untuk Mengimplementasikan Pengarus Utamaan gender.
A.
Teknik Analisis
Harvard
1.
Pengertian
Teknik
ini sering disebut sebagai Gender Framework Analysis (GFA), yaitu suatu analisis
yang digunakan untuk melihat suatu profil gender dari suatu kelompok sosial dan
peran gender dalam proyek pembangunan, yang mengutarakan perlunya tiga komponen
dan interalasi satu sama lain, yaitu : profil aktivitas, profil akses dan
profil kontrol (Overholt et. Al., 1986)
Dalam
profil aktivitas perlu dilihat interaksi antara perempuan dan proyek-proyek
pembangunan, untuk mengetahui apa yang dikerjakan perempuan. Beberapa kategori
kegiatan yang perlu diperhatikan adalah: produksi barang dan jasa, serta
reproduksi dan perawatan sumberdaya manusia. Profil akses dan kontrol didekati
dengan mengidentifikasi kegiatan spesifik gender dalam produksi, reproduksi dan
perawatan. Arus sumberdaya dan keuntungan (manfaat) adalah konsep dasar yang
perlu dikaji untuk memahami bagaimana proyek dapat mengakses dan diakses oleh
perempuan, dan sejauh mana memberikan manfaat.
Sementara
itu faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas, akses dan kontrol perempuan atas
proyek pembangunan adalah kondisi ekonomi secara umum (misalnya kemiskinan,
inflasi, distribusi pendapatan), struktur kelembagaan (birokrasi, teknologi,
skill), demografi, sosio kultural, norma-norma masyarakat dan keagamaan,
pendidikan dan pelatihan, faktor politik.[2]
2.
Kegunaan
Teknik
analisis ini dirancang sebagai landasan untuk melihat suatu profil gender dari
suatu kelompok sosial. Kerangka ini sangat luwes (mudah diadaptasikan) dan
terususun atas tiga elemen pokok yaitu :
a.
Profil
aktivitas berdasarkan pada pembagian kerja gender (siapa mengerjakan apa, di
dalam rumah tangga dan masyarakat), yang memuat daftar tugas perempuan dan
laki-laki (laki-laki melakukan apa?, perempuan melakukan apa?) Aktivitas
dikelompokkan menjadi tiga produktif, reproduktif / rumah tangga, dan
sosial-politik-keagamaan.
b.
Profil akses
(siapa yang mempunyai akses terhadap sumberdaya produktif termasuk sumberdaya
alam pertanyaan perempuan mempuanyai/ bisa memperoleh sumberdaya apa? Lelaki
memperoleh apa? Perempuan menikmati apa? Lelaki menikmati? )
c.
Profil kontrol
(perempuan mengambil keputusan atau mengontrol penggunaan sumberdaya apa?
Lelaki penentu sumberdaya apa? Sumberdaya disini adalah sumberdaya yang
diperlukan untuk melakukan tugas-tugas tersebut. Manfaat apa yang diperoleh
dari melakukan aktivitas.Adanya profil akses dan kontrol suatu masyarakat
tersebut.[3]
Elemen-elemen khusus dari kerangka ini yang cukup bermanfaat adalah:
a.
Adanya
perbedaan akses dan kontrol terhadap sumberdaya dan manfaat dalam kaitannya
dengan tanggung jawab laki-laki dan perempuan.
b.
Perbedaan
antara akses terhadap sumberdaya dan manfaat dengan kontrol atas sumberdaya dan
manfaat.
c.
Adanya
pandangan yang lebih luas tentang apa yang dimaksud dengan sumberdaya yaitu
tidak hanya sumberdaya yang bersifat material tetapi juga yang susah
diperhitungkan atau dinilai secara ekonomi seperti keterampilan dan organisasi
sosial dan yang paling penting terutama untuk para perempuan yaitu sumberdaya
dan manfaat yang berupa waktu.[4]
B. Teknik Analisis Moser
1.
Pengertian
Teknik Analisis Moser adalah suatu teknik analisis yang membantu
perencanaan ataupeneliti dalam menilai, mengevaluasi, merumuskan usulan dalam
tingkat kebijaksanaan program dan proyek yang lebih peka gender, dengan
menggunakan pendekatan terhadap persoalan perempuan ( kesetaraan, keadilan,
anti kemiskinan, efisiensi, penguatan / pemberdayaan), identifikasi terhadap
peranan majemuk perempuan (reproduksi, prduksi, sosial-kemasyarakatan), serta
identifikasi kebutuhan gender praktis-strategis.[5]
2. Kegunaan
Teknik analisis Moser dapat digunakan untuk: memahami
lima butir kriteria analisis, sehingga dapat menginterpretasikan pembangunan
perempuan sebagai suatu proses yang penting dan bagian integral dari proses
pembangunan.
a. Melihat proyek pembangunan berdasarkan pada
beberapa kriteria: Keterlibatan perempuan, kebutuhan yang dipenuhi oleh proyek,
dan pendekatan kebijaksanaan sosial ekonomi yang mendasari proyek.
b. Sebagai salah satu alternatif untuk membantu
perencana atau peneliti dalam menilai atau mengevaluasi, merumuskan usulan
dalam tingkat kebijaksanaan program dan proyek yang lebih peka gender.
c. Membantu perencana, peneliti dan pihak lain
yang peduli pada nasib perempuan dan mengupayakan perbaikan nasib mereka.[6]
3.
Aplikasi Teknik Analisis Moser.
Aplikasinya dalam setiap tahap dapat dikemukakan
pertanyaan-pertanyaan:
1.
Apakah kebutuhan laki-laki dan perempuan dipenuhi secara
seimbang ?
2.
Bagaimana Pengaruh program/ proyek terhadap laki-laki dan
perempuan ?
3.
Bagaimana pengaruhnya terhadap akses atas sumberdaya bagi
perempuan ?
4.
Apakah program / proyek meningkatkan aktifitas dan
partisipasi laki-laki dan perempuan ?
5.
Sejauhmana memperhatikan kendala-kendala dan permasalahan
yang dihadapi perempuan ?
6.
Bagaimana mekanisme kontrol ?
7.
Bagaimana sistem monitoring dan evaluasi, dan sejaumana
sensitif gender ?[7]
C. Teknik Analisis Longwe
1. Pengertian
Teknik longwe, Suatu
teknik analisis yang dikembangkan sebagai metode pemberdayaan perempuan dengan lima kriteria
analisis yang meliputi: kesejahteraan, akses, kesadaran kritis, partisipasi,
dan kontrol.[8]
Lima dimensi pemberdayaan ini adalah kategori
analitis yang bersifat dinamis, satu sama lain berhubungan secara sinergis,
saling menguatkan dan melengkapi, serta mempunyai hubungan hirarkis.[9]
a. Dimensi kesejahteraan
Dimensi ini merupakan tingkat kesejahteraan
material yang diukur dari tercukupinya kebutuhan dasar seperti makanan,
penghasilan, perumahan, dan kesehatan yang harus dinikmati oleh perempuan dan
laki-laki.
b. Dimensi akses
Kesenjangan gender disini terlihat dari adanya
perbedaan akses antara laki-laki dan perempuan terhadap sumber daya.
c. Dimensi kesadaran kritis
Kesenjangan gender di tingkat ini disebabkan
adanya anggapan bahwa posisi sosial ekonomi perempuan yang lebih rendah dari
laki-laki dan pembagian kerja gender tradisional adalah bagian dari tatanan
abadi.
d. Dimensi partisipasi
Partisipasi aktif perempuan diartikan bahwa
pemerataan partisipasi perempuan dalam proses penetapan keputusan yaitu
partisipasi dalam proses perencanaan penentuan kebijakan dan administrasi.
e. Dimensi kuasa / kontrol
Kesenjangan gender ditingkat ini terlihat dari
adanya hubungan kuasa yang timpang antara laki-laki dan perempuan.[10]
2.
Kegunaan
Teknik Longwe digunakan sebagai alat analisis,
yaitu manganalisis proses pemampuan perempuan, bukan dalam arti kesejahteraan
riil. Tujuannya adalah untuk memahami lima butir kriteia analisis
(kesejahteraan, akses, penyadaran, partisipasi aktif dan penguasaan) sehingga
dapat menginterpretasikan pembangunan perempuan sebagai suatu proses yang
penting dan bagian integral dari proses pembangunan serta untuk mencapai pemerataan
gender dalam lima butir tersebut.[11]
3.
Aplikasi Teknik Analisis Longwe
Pembangunan permpuan memfokuskan pada upaya menangani isu gender yang merupakan kendala dalam
upaya memenuhi kepentingan perempuan dan mencapai pemerataan untuk laki-laki
dan perempuan. Oleh karena itu peneliti atau perencana harus dapat membedakan
antara kepentingan dan isu gender. Kriteria pembangunan perempuan merupakan
kerangka analisis untuk mengidentifikasikan ketimpangan struktural sebagai
akibat masih adanya sistem diskriminasi
gender yang bisa merugikan perempuan atau laki-laki.[12]
D. Teknik Analisis Munro
1.
Pengertian
Teknik analisis Munro ialah suatu teknik
analisis yang menggunakan dasar partisipasi atau pelibatan masyarakat baik
laki-laki maupun perempuan dalam berbagai jenis kegiatan atau proyek
pembangunan yang dimulai sejak kegiatan penelitian, perencanaan proyek,
implementasi proyek, monitoring dan evaluasi proyek atau pengendaliannya, dan
dalam pengambilan keputusan (Astuti 1998).[13]
2.
Kegunaan
Teknik ini lebih tepat digunakan untuk proyek
atau kegiatan pembangunan pedesaan dalam skala kecil, untuk identifikasi
masalah-masalah masyarakat mendasar, dan program-program pembangunan yang
berkelanjutan. Dengan melibatkan masyarakat pada semua tempat kegiatan, akan
banyak keuntungan yang diperoleh dan sangat berguna untuk keberhasilan proyek
atau kegiatan yang dilakukan.[14]
3.
Aplikasi dan langkah-langkah teknis analisis
munro
a. Mengidentifikasi masalah yang dilakukan
bersama masyarakat. Pada tahap ini hendaknya bisa menemukan masalah yang akan
diteliti. Pada langkah ini usahakan bisa dilakukan bersama-sama dengan
masyarakat sehingga kacamata untuk memasalahkan masalah bukan semata-mata
menurut peneliti.
b. Memilih teknik/ metode dan rencana kerja, yang
ditentukan setelah peneliti datang pada lokasi penelitian.
c. Mengumpulkan dan mengkompilasi data.
d. Menganalisis data (penemuan)
A.
Kesimpulan
Pada makalah ini penulis membahas empat teknik analisis gender,
yaitu: Teknik Analisis Harvard, Moser, Longwe, dan Munro.
a.
Teknik Analisis
Harvard: Teknik ini digunakan untuk melihat profil gender suatu kelompok social
dan peran gender dalam proyek pembangunan, dengan mengutarakan perlunya tiga
komponen dan interelasi satu sama lain, yaitu; profil aktivitas, akses, dan
kontrol
b.
Teknik Analisis
Moser: Teknik ini membantu perencana atau peneliti dalam menilai, mengevaluasi,
serta merencanakan kebijaksanaan program dan proyek yang lebih peka gender,
dengan menggunakan pendekatan terhadap persoalan perempuan (Kesetaraan,
Keadilan, anti kemiskinan, efisiensi, penguatan atau pemberdayaan).
c.
Teknik Analisis
Longwe: Teknik ini dikembangkan sebagai metode pemberdayaan perempuan dengan
lima kriteria analisis yang meliputi: kesejahteraan, akses, kesadaran kritis,
partisipasi, dan kontrol.
d.
Teknik Analisis
Monro: Teknik ini menggunakan dasar partisipasi masyarakat baik laki-laki
maupun perempuan dalam berbagai jenis kegiatan dalam berbagai jenis kegiatan
pembangunan.
B.
Daftar Pustaka
Mahmud, Muhammad Arba’in, 2015, “Gender Dan Kehutanan Masyarakat”, Yogyakarta:
Deepublish.
Handayani, Trisakti dan Sugiarti,
2002,”Konsep dan Teknik Penelitian
Gender”,Malang: UMM Press.
A. Nunuk P. Murniati. 2004. ”Getar Gender”. Magelang: IndonesiaTera
[1]A. Nunuk P. Murniati, ”Getar Gender”, (Magelang:
IndonesiaTera, 2004),hlm: 77-78
[2]Handayani, Trisakti dan Sugiarti,”Konsep dan Teknik Penelitian Gender”, (Malang: UMM Press, 2002), hlm. 170-171
[3]Ibid… hlm: 171-172
[4]Ibid… hlm: 172
[5]Ibid… hlm: 176
[6]Ibid… hlm: 176
[7]Ibid… hlm: 177
[8]
Muh, Arba’in Mahmud, “Gender Dan
Kehutanan Masyarakat”, (Yogyakarta: Deepublish, 2015), hlm: 75
[9]Handayani, Trisakti dan Sugiarti…
hlm: 180-181
[10]Ibid… hlm: 181-183
[11]Ibid… hlm: 184
[12]Ibid… hlm: 177184
[13]Ibid… hlm: 191
[14]Ibid… hlm: 191
[15]Ibid… hlm: 192-193
Comments
Post a Comment